Arsip Tag: Prof DR Nurcholish Madjid

Yang Dapat Memecahkan Masalah Adalah Ilmu

Bagaimana penjelasan terkait soal umat Islam Indonesia yang masih pada taraf konsumen di atas, simak saja artikel ‘Yang Dapat Memecahkan Masalah Adalah Ilmu’. Artikel saya petik dari jurnal HMInews Nomor 3, Tahun I, 30 Januari 2010. Sudah sepuluh tahun berlalu, namun substansi masalah yang dikemukakan Nurcholish Madjid itu masih relevan, dan memiliki pijakan kuat bagi generasi kini di era digital ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Budaya | Tag , , , , , , | 5 Komentar

Ramadhan 17 Agustus 1945 Kebetulan yang Patut Disyukuri

PEMBACA budiman. Kita sebagai bangsa terkadang memiliki ingatan pendek pada peristiwa-peristiwa penting masa silam yang telah turut mewarnai tonggak perjalanan bangsa ini. Bahwa Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia dari sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Menteng Jakarta (kini berdiri Monumen Proklamasi di Jalan Proklamasi) pada 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia semua orang sudah mahfum.

Sebagian pembaca juga sudah tahu (dan sebagian yang lain mungkin belum tahu), proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tersebut bertepatan dengan bulan Ramadhan. Namun tahukah pembaca, momentum proklamasi itu ternyata jatuh pada hari Jum’at bertepatan dengan 17 Ramadhan! Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Religi | Tag , , , | 16 Komentar

Nurcholish Madjid Memorial Pictures

NURCHOLISH MADJID, lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram 1358), dari keluarga kalangan pesantren. Pendidikan yang ditempuh: Sekolah Rakyat di Mojoanyar dan Bareng (pagi) dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore); Pesantren Darul ‘Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah) Pesantren Darus Salam di Gontor, Ponorogo; IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra Arab, 1968), dan Universitas Chicago, Illinois, AS (Ph.D., Islamic Thought, 1984).

Cendekiawan yang acap disapa Cak Nur ini wafat pada Senin 29 Agustus 2005 Pukul 14.05 di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Meninggal dunia dalam usia 66 tahun. Pendiri Yayasan Paramadina sekaligus Rektor Universitas Paramadina ini meninggalkan seorang istri, Omi Komaria dan dua anak. Kedua anaknya, Nadia Madjid dan Ahmad Mikail Madjid , selama ini tinggal di Washinton dan Boston, AS.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , | 2 Komentar

Sebuah Cinderamata Perkawinan Unik dan Berkesan

Namun entah mengapa, yang paling unik dan berkesan justru cinderamata berbentuk buku saku dari sebuah resepsi perkawinan seorang sahabat baik. Sekalipun saat ini kondisinya agak lusuh, buku saku itu saya rawat dengan baik dan hati-hati.

Sejatinya ini bukan buku sembarang buku. Buku saku berjudul “Ketika Bilqis dan Sulaiman Menyatu” ini tebalnya hanya 44 halaman. Didedikasikan dalam rangka menyambut perkawinan Kholis Malik dengan Wahyuni Refi Setya Bekti pada Minggu 12 Oktober 2003 di Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Di buku saku tersebut ada beberapa tokoh terkemuka Indonesia menuliskan catatan, pesan, wejangan, testimoni dan sebagainya mengenai mutiara lembaga perkawinan dan hal terkait dengan itu. Diantara tokoh-tokoh dimaksud ada Almarhun Prof DR Nurcholish Madjid (saat itu Rektor Universitas Paramadina) menyampaikan khutbah nikah berjudul “Cinta Kasih Pria Wanita sebagai Fitrah Manusia Rahmat Allah Ta’ala”.

Juga ada Ir Siswono Yudo Husodo, dr Sulastomo, DR H Oesman Sapta, DR Ir Akbar Tandjung, Harry Tjan Silalahi, Prof DR Jimly Asshidiqie SH yang telah berkenan memberikan nasehat-nasehat kepada kedua mempelai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Komentar Beberapa Teman tentang Anas Urbaningrum di Milis Kahmi Pro (Part 1)

Keberadaan dokumentasi foto dimaksud telah merangsang teman-teman semasa PB HMI Periode 1997-1999 dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lain untuk mendownload dan mengoleksinya. Salah satu kelemahan aktivis HMI memang pada kecintaan mendokumentasi arsip foto saat ia masih aktif berorganisasi. Maka tak heran, setelah berselang lama, keberadaan dokumentasi foto semacam di postingan saya itu sangat besar maknanya buat teman-teman yang pernah aktif di HMI masa itu. Iseng-iseng pula saya mengetikkan nama “Anas Urbaningrum” pada mesin pencarian gambar (images) Google. Ternyata memang foto-foto tersebut telah diindeks Google. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Komentar