Arsip Tag: Pemegang Polis

Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana Anakku (Bagian I)

Dengan mengikuti program asuransi pendidikan anak, kita menyiapkan diri. Sedia payung sebelum hujan. Itulah maksud dari “uang pertanggungan” di atas. Apabila suatu waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, katakanlah tertanggung meninggal dunia maka ahli waris akan mendapatkan uang tunai dari perusahaan asuransi sebesar uang pertanggungan Rp 20 juta (contoh alinea ketiga). Sementara itu, pembayaran polis dihentikan (karena si tertanggung meninggal), namun si anak akan tetap mendapatkan tahapan-tahapan dana beasiswa (masuk SLPT, masuk SLTA, dan masuk kuliah). Yang besarnya nilai uang kesemua tahapan tersurat didalam polis.

Hal lain yang perlu saya ungkapkan, kesemua klaim-klaim asuransi itu akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dengan syarat pembayaran rutin atas premi yang telah dibebankan dan atas dasar term waktu yang telah disepakati. Biasanya tenggang waktu pembayaran selama satu bulan berjalan. Misalnya jatuh tempo pembayaran premi tanggal 10 Agustus. Maka waktu membayar preminya mulai tanggal 1 hingga 30 Agustus.

Begitu lewat bulan Agustus belum dibayarkan, polis dalam keadaan “mati suri”. Dalam contoh ini, misalnya, selewat waktu jatuh tempo terjadi sesuatu (tertanggung meninggal) hampir bisa dipastikan perusahaan asuransi akan menolak klaim-klaim dari nasabah. Kecuali mereka hanya akan membayar sejumlah “harga tunai” yang tercantum dalam polis. Namun tidak pada uang pertanggungannya. Padahal uang pertanggungan ini jelas lebih besar ketimbang harga tunainya.

Persoalan-persoalan perbedaan perspektif mengenai “pembayaran rutin” dan “jatuh tempo” antara nasabah dan perusahaan asuransi acapkali menjadi kasus yang berlarut-larut dan mendapat gugatan ahli waris. Dalam konteks seperti ini, saya rasa pihak perusahaan asuransi sudah benar karena klausul di perjanjian polis tertera semacam itu. Mungkin saja ahli waris tidak pernah mendapat sosialisasi detail mengenai perjanjian polis. Si ahli waris tahunya tertanggung semasa hidupnya membayar rutin premi, tanpa ia tahu mengenai soal jatuh temponya.

Maka disinilah pentingnya menyimpan bukti-bukti kuitansi pembayaran premi bagi si tertanggung dengan diketahui pula oleh calon ahli warisnya. Dengan demikian, bukti otentik ini bisa dijadikan bukti manakala si tertanggung mengalami musibah (meninggal dunia). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , | 17 Komentar