Arsip Tag: Kevin Rizki Mohammad

Dua Jam Saja Stop TV di Rumah

Dua jam saja stop tv di rumah. Mulai pukul 18.00 hingga pukul 20.00 WIB setiap harinya, terkecuali keesokan harinya libur sekolah. Ini kebiasaan yang telah berlaku semenjak anak pertama saya, Chiara Sabrina Ayurani, duduk di bangku sekolah dasar (SD). Hingga tulisan ini dibuat, peraturan rumah tangga tidak tertulis itu telah berlangsung selama 6 tahun. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , | 7 Komentar

Petualangan ke Negeri Hijau: Buku Anak Sains Populer Lingkungan Global

Buku ini aslinya berjudul Green Adventurers. Karya Elizabeth W Brown. Di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Petualangan ke Negeri Hijau. Sekalipun ditulis oleh orang asing, ternyata Penerbit Butterfly yang menerbitkan buku ini menyisipkan informasi berkenaan dengan hal-hal lingkungan yang aktual di Indonesia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tinjauan Buku | Tag , , , , , , , , | 7 Komentar

Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana Anakku (Bagian I)

Dengan mengikuti program asuransi pendidikan anak, kita menyiapkan diri. Sedia payung sebelum hujan. Itulah maksud dari “uang pertanggungan” di atas. Apabila suatu waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, katakanlah tertanggung meninggal dunia maka ahli waris akan mendapatkan uang tunai dari perusahaan asuransi sebesar uang pertanggungan Rp 20 juta (contoh alinea ketiga). Sementara itu, pembayaran polis dihentikan (karena si tertanggung meninggal), namun si anak akan tetap mendapatkan tahapan-tahapan dana beasiswa (masuk SLPT, masuk SLTA, dan masuk kuliah). Yang besarnya nilai uang kesemua tahapan tersurat didalam polis.

Hal lain yang perlu saya ungkapkan, kesemua klaim-klaim asuransi itu akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dengan syarat pembayaran rutin atas premi yang telah dibebankan dan atas dasar term waktu yang telah disepakati. Biasanya tenggang waktu pembayaran selama satu bulan berjalan. Misalnya jatuh tempo pembayaran premi tanggal 10 Agustus. Maka waktu membayar preminya mulai tanggal 1 hingga 30 Agustus.

Begitu lewat bulan Agustus belum dibayarkan, polis dalam keadaan “mati suri”. Dalam contoh ini, misalnya, selewat waktu jatuh tempo terjadi sesuatu (tertanggung meninggal) hampir bisa dipastikan perusahaan asuransi akan menolak klaim-klaim dari nasabah. Kecuali mereka hanya akan membayar sejumlah “harga tunai” yang tercantum dalam polis. Namun tidak pada uang pertanggungannya. Padahal uang pertanggungan ini jelas lebih besar ketimbang harga tunainya.

Persoalan-persoalan perbedaan perspektif mengenai “pembayaran rutin” dan “jatuh tempo” antara nasabah dan perusahaan asuransi acapkali menjadi kasus yang berlarut-larut dan mendapat gugatan ahli waris. Dalam konteks seperti ini, saya rasa pihak perusahaan asuransi sudah benar karena klausul di perjanjian polis tertera semacam itu. Mungkin saja ahli waris tidak pernah mendapat sosialisasi detail mengenai perjanjian polis. Si ahli waris tahunya tertanggung semasa hidupnya membayar rutin premi, tanpa ia tahu mengenai soal jatuh temponya.

Maka disinilah pentingnya menyimpan bukti-bukti kuitansi pembayaran premi bagi si tertanggung dengan diketahui pula oleh calon ahli warisnya. Dengan demikian, bukti otentik ini bisa dijadikan bukti manakala si tertanggung mengalami musibah (meninggal dunia). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , | 17 Komentar

Kenangan HMI Cabang Solo 2: Tuyul dan Koh Zul

Masih banyak lagi teka-teki menghibur dari dapur pemikiran dan pengalaman yang dimiliki Koh Zul ini. Banyak sudah teka-teki lain yang lupa, namun beberapa yang saya kutip diatas, setelah berkeluarga saya “wariskan” teka-teki Koh Zul itu kepada anak-anak di rumah. Anak kedua saya, Kevin Rizki Mohammad, pernah bercerita bahwa teka-teki warisan itu juga disebarkan pada teman-teman sekelasnya. Kata Kevin, teman-teman sekelasnya itu juga tertawa geli mendengar jawaban teka-teki dimaksud!

Disamping saya kenal sebagai master teka-teki, “ketrampilan khusus” yang dimiliki Koh Zul adalah dalam hal “mengerjai” teman. Mengerjai sampai orang yang dikerjai tidak berkutik. Namun orang yang dikerjai juga tidak akan marah, lantaran ada unsur-unsur humor didalamnya, seperti kisah berikut: Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar

Menulis itu Ibarat Koki Memasak

Bisa pula menu makanan itu kita proklamirkan keberadaannya di sebuah rumah makan strategis. Di sebuah media cetak atau blog dan situs terkemuka. Agar orang lain yang kita kenal dekat atau yang lalu lalang di depan rumah makan itu mau mampir mencoba masakan kita itu.

Seperti layaknya sebuah rumah makan, faktor keterkenalan menu masakan dimulai dan diawali dari pembicaraan mulut ke mulut (‘getok tular’) orang-orang dekat yang pernah makan menu kita yang lezat dan bercita rasa tinggi itu. Semakin banyak rumah makan itu dikunjungi orang lantaran menu spesial yang dihidangkan, lambat laun orang-orang yang lalu lalang itu juga penasaran dan ingin mencobanya serta menjadi pelanggan tetapnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Petak Ide | Tag , , , , , , , , , , | 11 Komentar