Merawat Memori Ala Mahdi Paparazzi


Mahdi Paparazzi Djajakarta Putra Fotografer Amatir HMI KAHMIJangan menilai sebuah buku dari sampulnya (don’t judge a book by its cover). Lantaran bisa jadi Anda tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menemukan apa yang terkandung di dalam buku tersebut (because you will never get the chance to find out what lies within it).

Untaian pepatah yang mengawali tulisan ini, layak saya sematkan pada Mahdi Paparazzi. Seorang rekan yang saya kenal semenjak menginjakkan kaki di Jakarta dua dekade silam. Kebenaran pepatah dimaksud, akan terbukti usai Anda membaca fragmen diri Mahdi berikut.

Di kalangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Gerakan Pemuda Islam (GPI) serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jakarta, Mahdi dikenal sebagai fotografer.

Panggilan “paparazzi” yang melekat pada diri Mahdi sudah menunjukkan profesi yang ditekuninya. Pekerjaan yang telah menafkahi diri dan keluarganya lebih dari separuh usianya yang menjelang kepala enam itu. Tak banyak yang tahu nama lengkapnya. Kepada saya yang menemuinya di suatu senja temaram dengan rinai hujan di Jl Turi Kebayoran Baru Jakarta belum lama berselang, ia tunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) miliknya. Di situ tertera: Mahdi Djajakarta Putra (Jayakarta atau Jakarta untuk ejaan lama Djajakarta).

Beberapa orang mempertanyakan ke-HMI-an Mahdi. Kepada saya, ia dengan raut muka serius meyakinkan, “Saya ikut Maperca dan LDK di HMI Cabang Jakarta Cilosari tahun 1980-an. Boleh jadi orang mempertanyakan ke-HMI-an tersebut karena profesi tukang foto yang saya jalani ini. Saya memang merasa kurang intelek. Berpakaian semaunya, cenderung lusuh. Hidup saya begini-begini saja sejak puluhan tahun. Naik motor ke mana-mana. Rumah sendiri belum punya. Masih ngontrak. Namun jika urat nadi di pergelangan tangan ini disayat, yang keluar adalah darah hijau hitam….”

Mahdi yang pengagum Eggi Sudjana dan M.S. Kaban sejak aktif di HMI Cabang Jakarta itu, menamatkan sekolah menengah atasnya di STM Negeri 7 Kampung Jawa Krukut Jakarta Barat. Anak Betawi yang  lahir di Rumah Sakit Jl. Budi Kemuliaan ini menamatkan kuliahnya dengan menggondol gelar sarjana muda B.Sc. (Bechelor of Science) dari Akademi Maritim Indonesia Pulomas Jakarta Timur. Menurut Mahdi, gelar yang diraihnya pada 1987 tersebut merupakan gelar sarjana muda terakhir.

Tentang gelar sarjana muda B.Sc yang tak pernah dipakai di belakang namanya, ia berujar, “Buat apa saya pakai-pakai gelar itu? Hanya memberatkan nama saya saja,” seraya tertawa menyeringai.

Suami dari Evi Syarifatul Afifah ini rutin dua minggu sekali naik motor pulang ke Pamijahan Bogor, dari kontrakannya di bilangan Depok. Ayah dari dua putra dan satu putri ini mengaku rezeki yang didapatnya dari profesi tukang foto puluhan tahun itu cukup menghidupi keluarganya.

“Alhamdulillah Keluarga sehat-sehat, jarang ada yang sakit. Saya menikah terlambat, di usia 37 tahun. Dengan rezeki yang didapat selama ini dicukup-cukupkan untuk membiayai sekolah anak-anak. Sulung kelas 11 di SMAN 1 Pamijahan, nomor 2 perempuan sekolah di MTS kelas 9, dan bungsu masih SD kelas 4. Bila kita mensyukuri anugerah yang ada, Insya Allah berkah, ujar Mahdi.

Selanjutnya, sembari menerawang, Mahdi juga curhat, “Kegalauan saya hingga saat ini hanya satu: belum mampu memiliki rumah sendiri….”

Dalam keterbatasan yang ada, toh Mahdi merasa terhibur dan bangga dengan putrinya, bernama Hamidatul Ulum, “Di sekolah ia disegani guru dan teman-temannya, lantaran acapkali memenangkan lomba mulai pidato, MTQ dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Prestasi akademisnya selalu di 10 besar.” Dengan berkelakar namun nampak tersirat harapan ia berkata, “Bila ada alumni HMI yang mau kasih beasiswa putri saya ini agar lebih berprestasi, juga tidak saya tolak.”

****

Menjadi fotografer bagi Mahdi sesungguhnya suatu kebetulan belaka. Ia memulainya sejak di bangku kuliah dengan mendokumentasi kegiatan-kegiatan di HMI Cabang Jakarta. Dengan menggunakan kamera roll film merk Fuji. Lama kelamaan hobi memfoto itu ia jadikan mata pencaharian utama.

Bila ada hal yang disesalinya selama menjadi fotografer itu, yaitu hangusnya 80 (delapan puluh) buah roll film yang merekam peristiwa menjelang dan sesudah reformasi 1998. “Karena tidak ada dana untuk mencuci film, setelah memotret filmnya saya masukkan tabung plastis. Suatu hari coba dicuci cetak, namun kesemua filmnya hangus. Hitam semua. Padahal di situ banyak momen  penting yang diabadikan,” sesal Mahdi.

Sesungguhnya, untuk urusan memotret, hemat saya Mahdi boleh dibilang amatir. Mungkin karena didesak kebutuhan hidup, ia jarang mau belajar teknik-teknik memotret yang baik dan benar. Di samping desakan kebutuhan hidup itu, mungkin juga faktor usia, ia gagap teknologi (gaptek) komputer dan ponsel serta hal terkait fotografi di era media sosial saat ini.

Ia lebih dikatakan sebagai fotogreafer alami, untuk suatu penghalusan kata sebagai tukang foto, maaf, yang jeprat-jepret suatu momen. Konsekuensinya, hasil-hasil foto bidikan Mahdi itu persentase berkualitas dan tidak sebesar separuh-separuh. Sayangnya Mahdi kadang tidak mau tahu mana foto yang layak jual maupun tidak. Beberapa alumni HMI pernah saya dengar mengeluh tentang foto yang dicetak dan bingkai dengan kualitas gambar buram atau kurang fokus. Sayangnya untuk foto-foto yang bagus yang diterima pelanggannya, tak pernah saya dengar komentar dari mereka.🙂

Saya sendiri pernah mengalaminya, diberi foto dengan bingkai oleh Mahdi saat mendorong troli di Bandara Sukarno-Hatta dengan mata terpejam tatkala akan menghadiri Munas KAHMI Pekanbaru 2012 lalu. “Kamu ini gimana sih Mahdi? Ini kan pose seperti “Si Buta dari Goa Hantu” sedang berkeliaran di bandara….” gerutu saya. Ia hanya cengir-cengir saja mendengarnya. Tidak marah.

Namun, untuk sebuah foto jadul saat menjelang reformasi saat aktif di PB HMI Periode 1997-1999, dengan pose rehat di depan Gedung Indosat Jl. Medan Merdeka Barat, saya mengapreasinya. “Ini foto sangat bersejarah. Saya beli Rp 500 ribu, dengan uang muka Rp 50 ribu dulu. Nanti sisanya saya cicil,” kata saya sembari mengulurkan uang kertas warna biru pada Mahdi. Saya pun mencicilnya setiap bertemu Mahdi di berbagai kesempatan acara. Barangkali saja cicilan tersebut sudah lebih dari impas, namun tetap saja saya bilang padanya saat memberi dia uang sebagai cicilan.🙂

Foto Jelang Reformasi Indonesia 1998 kiri ke kanan Ahmad Doli Kurnia, Saan Mustofa, Suparji Ahmad. Foto oleh Mahdi Paparazzi.

Banyak orang yang pernah berhubungan langsung dengan Mahdi niscaya pernah mengalami peristiwa seperti contoh di atas. Mengenakkan sekaligus juga kurang mengenakkan soal hasil cetakan foto yang diterimanya.

Akan tetapi, Mahdi tetaplah Mahdi. Dengan sikapnya yang cuek, lurus, jujur, percaya diri, berprasangka baik pada orang, “nrimo” dan tak pernah emosional. Ia juga bukan tipe orang yang suka meminta-minta. Rezeki berapapun ia terima dari hasil bidikan dan cetakan foto-fotonya.

Kita beruntung memiliki Mahdi. Dengan segala kelebihan dan kekurangan dirinya. Tanpa kehadiran dirinya di berbagai even ke-HMI-an atau lainnya, banyak memori tentang suatu peristiwa tak ada jejaknya. Di mata saya, ia merawat memori kita akan suatu momen yang pernah terlintas. Dalam kehidupan selintas bagi banyak orang yang mengenalnya….

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Profil dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s