Pendangkalan dan Pendalaman di Media Sosial


Di jejaring sosial Facebook maupun Google+, kebetulan saya menjadi salah satu admin Halaman Komunitas maupun Grup berhubungan dengan topik HMI atau KAHMI. Dari jumlah anggota ratusan, ribuan hingga puluhan ribu.

Dalam banyak kasus, saya kadang dijadikan admin tanpa saya tahu pendiri atau pengelola sebelumnya. Hanya mungkin lantaran saya cukup rajin memposting info-info terkini tentang ke-HMI-an atau ke-KAHMI-an. Misalnya, grup “HMI-Facebook”, “HMI Bersatu”, “Keluarga Besar HMI”, “KAHMI” dan sebagainya.

Adapun Halaman Komunitas yang saya kelola di Facebook, umpamanya, “Pencinta Buku”, “Alfan Alfian”,  “Himpunan Mahasiswa Islam”, “Majelis Nasional KAHMI”, “Lafran Pane untuk Pahlawan Nasional”, “Kongres HMI dari Masa ke Masa” dan lain-lain.

Mengelola sekian grup dan halaman dimaksud semata-mata suatu kerja sosial. Walaupun sesungguhnya bisa juga suatu saat dimonetisasi.

Dengan menjadi pengelola, kita bisa tahu statistik grup atau halaman dimaksud. Mulai dari jumlah view dan sebaran suatu posting hingga “perilaku” anggota.

Di Google+ saya malah mengadmini salah satu komunitas yang jumlah anggotanya ratusan ribu. Rasa-rasanya laksana punya media sendiri. Menjadi publisher di media sosial.😀

Salah satu kekurangan halaman komunitas atau grup di media sosial yakni soal isi (konten). Jujur saja  banyak orang sukanya salin tempel (copy paste).

Padahal mata uang yang berlaku di media sosial adalah konten. Tanpa konten yang menarik, perlahan tapi pasti niscaya ditinggalkan orang. Lantaran itu, hukum besinya berlaku isi adalah raja (content is the king).

Memproduksi gagasan melalui tulisan nampaknya masih barang langka di era medsos. Tapi mau bagaimana lagi? Orang bisa menulis dengan baik jika bacaan yang dilalapnya banyak. Itu pun belum menjamin jika tak disertai berlatih terus menerus dan berani memposting.

Di permukaan, nampaknya kita pintar dalam banyak hal, sekalipun secara hakiki sesungguhnya mengalami pendangkalan. Tahu banyak hal namun tidak menyentuh hakikat.

Dengan demikian di era media sosial ini yang juga mendesak didesakkan adalah pendalaman dan pengendapan.

Dari mana memulainya? Sudah barang tentu dengan membiasakan membaca pustaka. Disertai aktif berdiskusi, baik di dunia maya maupun dunia nyata.🙂

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Media Sosial dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s