Trik Mengetahui Siapa Memilih Siapa di TPS


tips-mengetahui-siapa-memilih-siapa-di-pilpres-pengucapan-sumpah-kpps-tpsPada hajatan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 lalu, ditengarai beberapa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Tempat Pemungutan Suara (TPS) di beberapa daerah tidak netral. Berpihak pada pasangan capres cawapres tertentu. Sehingga direkomendasikan agar diselenggarakan pencoblosan ulang.

Netralitas KPPS guna mewujudkan sebuah pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia dan jujur serta adil (Luber Jurdil) sebuah keniscayaan di era reformasi yang serba terbuka ini. Lantaran banyak pihak yang ikut mengawasi. Mulai dari masyarakat, pengawas pemilu hingga media massa. Tidak dipungkiri bahwa seorang anggota KPPS memiliki kecenderungan pilihan pada calon tertentu, namun demikian sebagaimana sumpah KPPS yang diucapkan sebelum melaksanakan tugas, ia musti mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Ini satu soal.

Soal lainnya menyangkut KPPS sebagai ujung tombak penyelenggara pemilihan umum (entah legislatif maupun capres cawapres) di tingkat akar rumput yang berhadapan langsung dengan para pemilih menyangkut beberapa titik krusial. Pertama, tidak dilakukannya prosedur standar yang sudah dijelaskan secara rinci dalam buku panduan KPPS. Sebagai contoh, seharusnya ketika TPS dimulai tepat pukul 07.00 WIB, dan setelah saksi-saksi hadir terlebih dahulu dilaksanakan pengucapan sumpah anggota KPPS oleh Ketua KPPS. Selanjutnya menunjukkan pada saksi dan pemilih yang telah hadir bahwa kotak suara masih tersegel, penghitungan jumlah surat suara hingga menunjukkan  bahwa kotak suara dalam keadaan kosong lalu dikunci dan disegel kembali sebelum dilaksanakan pemungutan suara.

Hal lainnya menyangkut prosedur pemungutan suara adalah Ketua KPPS menjelaskan kepada para pemilih tentang tujuan dan  tata cara pencoblosan. Bukan hanya diterangkan di awal kegiatan, namun juga disela-sela ketika pencoblosan berlangsung hingga TPS akan ditutup. Kadangkala prosedur baku seperti di atas ada yang terlewatkan.

Kedua, ketidakpahaman KPPS tatkala memasukkan data-data hasil pemungutan suara yang telah dilaksanakannya ke formulir C1 yang akan menjadi bukti otentik telah dilaksanakannya pemilihan di TPS tertentu. Mulai dari data pemilih terdaftar, hasil pemungutan suara hingga pengecekan bahwa semua formulir-formulir yang akan diserahkan ke Penyelenggara Pemungutan Suara (PPS) telah ditandatangani semua anggota KPPS dan para saksi.

Formulir rekapitulasi penghitungan suara/C1 yang sangat vital itu dasarnya di bagian pendaftaran atau tanggungjawab KPPS 4 dengan dibantu KPPS 5. Silakan pembaca lihat tulisan saya sebelumnya yang membicarakan hal bagian pendaftaran TPS: KPPS TPS Bernuansa Kompasiana.

Ketiga, ketegasan Ketua KPPS. Seorang Ketua KPPS tidak bisa diintervensi bahkan oleh saksi sekalipun. Keberatan dari saksi tetap diperhatikan. Namun demikian jangan sampai protes yang datang menyita waktu, sehingga kegiatan pemungutan dan penghitungan suara berlarut-larut. Asalkan Ketua KPPS mematuhi standar yang telah digariskan KPU dalam buku panduan, segalanya tetap dapat dikendalikan.

***

Kini saatnya kita ke topik utama tulisan: Trik Mengetahui Siapa Memilih Siapa di TPS. Hanya ada satu orang saja yang tahu siapa memilih capres cawapres tertentu di suatu TPS tertentu. Itupun jika ada KPPS yang mau iseng, dan juga hanya untuk konsumsi pribadi. Tentu saja tidak semua pemilih bisa diketahui. Hanya beberapa orang pemilih saja yang memang ingin diketahui siapa capres cawapres yang jadi pilihannya. Orang itu adalah Ketua KPPS. Lho kok bisa?

Sebagaimana pembaca ketahui, setiap pemilih mendapatkan surat suara yang harus ditandatangani Ketua KPPS. Triknya sederhana. Tinggal diberi tanda pada tanda tangan, misalnya titik satu si X, koma satu si Y dan seterusnya maka akan diketahui dengan pasti pilihan politik si orang tersebut.🙂

Trik ringan iseng-iseng ini sudah saya dapatkan resepnya sejak aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dekade 1990-an lalu. Tidak ada yang mengajari. Hanya learning by doing saja. Lantaran pernah jadi ketua pemilihan beberapa kali, lama kelamaan terasah tahu dengan sendirinya trik kuno semacam itu.

Trik senada seirama tersebut juga banyak dipraktekkan KPPS TPS di masa pemerintahan Orde Baru. Dahulu, hari pemungutan suara bukan di hari libur. Otomatis para pegawai mencoblos di TPS yang ada di tempat kerjanya. Nah, beberapa Pagawai Negeri Sipil (PNS) ketahuan tidak mencoblos GOLKAR berdasarkan tanda di surat suara yang diberikan Ketua KPPS. Di era Orde Baru, seorang PNS yang ketahuan tidak mencoblos GOLKAR akan berakibat serius. Mulai dari susahnya kenaikan pangkat hingga tidak diberi jabatan di suatu instansi.

Sedangkan di era reformasi ini, mengetahui siapa memilih siapa tidak ada konsekuensi apa-apa. Itu hanya sebagai konsumsi pribadi Ketua KPPS. Kalaupun mau melakukannya. Hehehe.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s