Harian The Jakarta Post Mendukung Jokowi


editorial-the-jakarta-post-endorsing-jokowi-mendukung-jokowiKemarin merupakan hari bersejarah bagi perjalanan pers Indonesia, khususnya harian The Jakarta Post. Dalam sejarahnya yang menginjak usia 31 tahun sejak kali pertama terbit pada 25 April 1983,  harian berbahasa Inggris yang bukan suatu organ parpol tersebut secara resmi mendukung kandidat tertentu dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014. Lewat tajuk rencana berjudul Endorsing Jokowi di halaman 6 edisi cetak yang terbit Jum’at 4 Juli 2014, harian The Jakarta Post menegaskan sikapnya: #AkhirnyaMilihJokowi.

Atas suara pro kontra publik baik para pendukung Prabowo-Hatta maupun Jokowi-Jusuf Kalla terhadap garis tegas The Jakarta Post, saya berpendapat bahwa editorial Mendukung Jokowi tersebut patut  diapresiasi. Editorial sebuah media massa hakikatnya sebuah corong. Ruh koran. Ia bukan sekedar deretan kata-kata belaka, namun merupakan suara, pendapat dan garis kebijakan yang ditempuh para pengelola harian tersebut terhadap perkembangan politik mutakhir ini.

Di tengah sikap malu-malu hampir sebagian besar media massa Indonesia atas dukungannya terhadap kandidat tertentu dalam Pilpres 2014 ini, sikap resmi The Jakarta Post mendukung pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla cukup unik dan berani.

Unik karena The Jakarta Post satu-satunya media massa Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini yang telah menyatakan keberpihakannya pada kandidat tertentu dalam Pilpres. Juga berani, lantaran sikap yang demikian niscaya mengandung resiko. The Jakarta Post sendiri telah menyatakan bahwa mendukung Jokowi  “bukan dukungan yang enteng”. Sembari tak lupa ia menohok pada larik kalimat penutup editorial dimaksud,  but it is an endorsement we believe to be morally right (Akan tetapi ini adalah sebuah dukungan yang amat kami percayai, secara moral benar).

The Jakarta Post menyebut pasangan Jokowi-Kalla merupakan pasangan yang paling memiliki kesamaan visi. Sikap itu diambil setelah dilakukan diskusi panjang bersama internal redaksi senior The Jakarta Post. Selama ini, media berbahasa Inggris itu selalu konsisten pada pada empat isu, yakni mengenai pluralisme, hak asasi manusia, reformasi dan terbentuknya masyarakat sipil.

Sebagai tambahan informasi, The Jakarta Post memiliki oplah sekitar 40 ribu eksemplar. Pangsa pasarnya ditargetkan untuk pebisnis Indonesia, warga Indonesia berpendidikan, dan warga asing. Pada tahun 1991, 62 persen pembaca harian ini adalah ekspatriat. Pada 2009, sekitar separuh dari 40.000 pembacanya adalah warga Indonesia kelas menengah

****

Di Amerika Serikat, sebuah media massa mendukung kandidat tertentu bukan suatu hal aneh. Sah-sah saja. Seperti yang dilakukan harian The New York Times (NYT). Guna mendukung agar Barack Obama terpilih kembali dalam masa jabatan kedua, NYT tak malu-malu menyuarakan habis-habisan dukungan pada Obama. Dalam tulisan bertitel Barack Obama for Re-election yang terbitl 27 Oktober 2012, NYT memaparkan alasan-alasan mengapa mendukung Barack Obama, seraya pada saat yang sama menguliti program-program Mitt Romney sebagai saingan Obama.

Di situs NYT sebagaimana saya tautkan di atas, editorial dukungan terhadap Barack Obama tersebut menuai 713 komentar. Komentar-komentar yang bermunculan jika boleh saya sarikan bernada positif, sekalipun ada juga cibiran atas sikap yang ditempuh NYT itu.

Bercermin atas sikap yang ditempuh harian The Jakarta Post dalam Mendukung Jokowi, dan The New York Times tatkala Mendukung Barack Obama, maka dukungan resmi tersebut sesuatu yang biasa dan lumrah adanya. Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah sebuah media massa tetap bisa menjaga pemberitaan yang berimbang dan disesuaikan pada fakta yang ada.

****

Sebagai pamungkas, berikut kami lampirkan Editorial The Jakarta Post dan juga terjemahannya. Selamat membaca.

Endorsing Jokowi

There is no such thing as being neutral when the stakes are so high. While endeavoring as best we can to remain objective in our news reporting, our journalism has always stood on the belief of the right moral ground when grave choices must be made.

We were not silent during reformasi. Neither have we been shy when power is abused or civil rights trespassed.

Good men and women cannot stay idle and do nothing. Speak out when persecution occurs, stand firm in rejecting the tide of sinister forces.

At certain junctures in a nation’s life, its people are called upon to make stark choices. No longer is it a mere ballot cast for one candidate over another, but rather a moral choice on the fate of the nation.

Russia faced such a choice in 1996, during a runoff between independent incumbent Boris Yeltsin against Gennady Zyuganov representing the old-guard Communist Party. It was a moral choice for hope versus remnants of the past. They chose hope.

In five days this nation too will make a moral choice. In an election like no other — divisive in its campaigning, precarious in its consequences — Indonesians will be required to determine the future of our body politic with a single piercing of a ballot paper.

The Jakarta Post in its 31-year history has never endorsed a single candidate or party during an election. Even though our standpoint is often clear, the Post has always stood above the political fray.

But in an election like no other, we are morally bound to not stand by and do nothing. We do not expect our endorsement to sway votes. But we cannot idly sit on the fence when the alternative is too ominous to consider.

Each candidate in the presidential election has qualities in his declared platform. They have been dissected at length the past three weeks. And voters will sway one way or another based on it. Yet there is also a sizable part of society who are undecided in their preference.

In such a case, perhaps one can consider who not to vote for as their reasoning for that moral choice.

Our deliberations are dictated on the values by which the Post has always stood firmly for: pluralism, human rights, civil society and reformasi.

We are encouraged that one candidate has displayed a factual record of rejecting faith-based politics. At the same time we are horrified that the other affiliates himself with hard-line Islamic groups who would tear the secular nature of the country apart. Religious thugs who forward an intolerant agenda, running a campaign highlighting polarizing issues for short-term gain.

We are further perplexed at the nation’s fleeting memory of past human rights crimes. A man who has admitted to abducting rights activists — be it carrying out orders or of his own volition — has no place at the helm of the world’s third-largest democracy.

Our democracy will not consolidate if people’s mind-set remains wedged in a security approach in which militarism is an ideal. A sense that one candidate tends to regard civilian supremacy as subordinate to military efficacy.

This nation should be proud of its military, but only if those in uniform acknowledge themselves as servants of the democratic, civilian governance.

As one candidate offers a break from the past, the other romanticizes the Soeharto era.

One is determined to reject the collusion of power and business, while the other is embedded in a New Order-style of transactional politics that betrays the spirit of reformasi.

Rarely in an election has the choice been so definitive. Never before has a candidate ticked all the boxes on our negative checklist. And for that we cannot do nothing.

Therefore the Post feels obliged to openly declare its endorsement of the candidacy of Joko “Jokowi” Widodo and Jusuf Kalla as president and vice president in the July 9 election. It is an endorsement we do not take lightly.

But it is an endorsement we believe to be morally right.

Sumber: The Jakarta Post

Mendukung Jokowi

Ketika kita memasang taruhan amat tinggi, tak ada lagi netralitas. Selagi berusaha terbaik untuk tetap obyektif dalam pemberitaan, kami harus tetap berdiri di atas landasan kebenaran moral ketika mengambil sebuah keputusan berat.

Kami tak diam saat reformasi. Begitu pun kami tak pernah segan ketika ada penyalahgunaan kekuatan atau hak asasi yang dilanggar.

Orang-orang baik tak boleh terus bergeming. Bicara lantang ketika menyaksikan sebuah penyiksaan, kami teguh menolak gelombang kekuatan yang menakutkan.

Dalam simpang masa kehidupan bangsa, ada saatnya orang-orang terpanggil untuk membuat kesempatan-kesempatan yang hakiki. Bukan semata mendukung satu calon ketimbang calon lain, tapi lebih kepada pilihan moral untuk menentukan nasib bangsa.

Rusia mengalaminya pada 1996, dalam pemilihan antara inkumben Boris Yeltsin yang independen dan Gennady Zyuganov dari Partai Komunis. Inilah pilihan moral pada harapan melawan kenangan masa lalu. Dan Rusia memilih harapan.

Dalam lima hari ke depan, negara ini juga akan menentukan pilihan moralnya. Dalam pemilu yang tak pernah terjadi di tempat lain—kampanye yang mengadu domba dengan konsekuensi yang membahayakan, warga Indonesia dibutuhkan untuk ikut menentukan masa depan struktur politik negara ini dengan sebuah coblosan di atas kertas suara.

Jakarta Post, dalam sejarahnya yang menginjak 31 tahun, tak pernah sekali pun menyokong salah satu kandidat dalam pemilu. Selama itu sudut pandang kami selalu jelas, kami selalu berdiri di atas kekalutan politik.

Tapi dalam pemilu seperti ini, kami punya keterikatan moral untuk bertindak. Kami tak mengharapkan dukungan kami bisa menggiring suara pencoblos. Namun kami tak bisa duduk diam saja ketika pilihan lain terlalu buruk untuk dipertimbangkan.

Tiap kandidat dalam pemilihan presiden kali ini punya kualitas yang disampaikan lewat deklarasi politiknya. Selama tiga pekan, mereka membedah kualitas mereka ke publik. Pemilih akan terpengaruh atau sebaliknya, tapi juga ada kelompok besar yang hingga kini masih belum menentukan pilihan. Misalkan, kelompok yang baru mempertimbangkan siapa yang tak akan mereka pilih berdasarkan nurani mereka.

Dan pertimbangan yang telah kami ambil ini berdasarkan pada apa yang telah kami perjuangkan dengan kesungguhan: pluralisme, hak asasi, masyarakat sipil, dan reformasi.

Kami tergugah karena salah satu kandidat telah berani menolak transaksi kekuasaan berdasarkan kepercayaan politik. Dalam waktu yang sama, kami merasa takut karena kandidat lain malah merangkul kelompok Islam garis keras dalam bagiannya. Kelompok radikal tanpa toleransi, mereka yang suka menyulut isu memecah belah bangsa untuk kepentingan jangka pendek semata.

Lebih lanjut, kami bingung dengan ingatan singkat bangsa tentang kejahatan HAM pada masa lalu. Seseorang yang telah mengaku menculik aktivis—yang dilakukan atas inisiatif sendiri—tak layak duduk di pusat kendali negara demokrasi dengan penduduk terbanyak ketiga di dunia ini.

Demokrasi kita tak akan makin kuat jika pola pikir masyarakat tetap terganjal dalam pandangan keamanan berbasis militer adalah hal yang ideal. Sebuah pandangan yang menganggap supermasi masyarakat sipil adalah penyokong keberhasilan militer.

Memang, bangsa ini tetap harus bangga terhadap militernya, tapi hanya kebanggaan terhadap mereka yang mengenakan seragam loreng itu untuk mengabdi pada demokrasi, sebuah pemerintahan yang dikehendaki rakyat.

Ketika satu kandidat mengajak untuk melupakan masa lalu, satu lainnya malah mengenang keromantisan masa Soeharto.

Satu telah memutuskan untuk menolak sekongkol politik dan bisnis dalam pemilihan presiden ini, yang lain masih terpaku pada transaksi politik era Orde Baru yang mengkhianati jiwa demokrasi.

Dalam sebuah pemilihan, jarang sekali kita memiliki sebuah pilihan yang begitu pasti. Tak pula ada kandidat lain yang mencontreng seluruh kriteria di daftar negatif kami. Maka, karena itu, kami tak bisa tak melakukan sesuatu.

Dengan demikian, Jakarta Post merasa wajib untuk secara terbuka mendukung Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden pada pemilihan 9 Juli 2014. Ini bukan dukungan yang enteng.

Ini adalah sebuah dukungan yang amat kami percayai, secara moral benar.

Sumber: http://www.tempo.co

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s