Suasana dan Aroma Mistis Religius Rumah Pergerakan Anas Urbaningrum


dari kiri ke kanan: Abdul Kholiq, Muhlis Ali, Anas Urbaningrum dan Dwiki Setiyawan

dari kiri ke kanan: Abdul Kholiq, Muhlis Ali, Anas Urbaningrum dan Dwiki Setiyawan

Sebelum ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jum’at 22 Februari 2013 silam, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah Anas Urbaningrum Jalan Teluk Langsa Duren Sawit Jakarta Timur. Barulah Jum’at malam di hari naas itu, bersama ratusan Sahabat Anas Urbaningrum, untuk kali pertama saya hadir memberi dia dukungan moral dan simpati atas musibah yang menimpanya.

Keesokan harinya, Sabtu tanggal 23 Februari 2013 sebelum Anas Urbaningrum menyampaikan pidato berhenti sebagai Ketua Umum di Kantor DPP Partai Demokrat, saya datang bersama Saudara Abdul Kholiq Muhammad sedari pukul 08.30 WIB hingga 11.00 WIB. Di sana sudah hadir pula rekan Muhlis Ali, sesama fungsionaris PB HMI Periode 1997-1999. Selama lebih dari tiga jam kami berempat berdiskusi di ruang tamu.

Sebelumnya saya menyalami Anas Urbaningrum di ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang tamu. Ia, saya lihat sedang menulis sesuatu di atas secarik kertas. Saya kira itu pokok-pokok pikiran atau kata-kata kunci yang akan disampaikan pada pidato akhirnya sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Walau sudah ditetapkan jadi tersangka, Anas Urbaningrum saat itu masih bercanda. Tertawa lepas. Masih mengenakan sarung warna biru dan tshirt putih bertuliskan ‘Hard Rock Hotel Macau’, saya merekam dalam pikiran beberapa kalimat yang ia lontarkan. Antara lain, “… (sembari sebutkan nama) adalah raja tega“, “Ini baru permulaan, masih ada halaman-halaman berikutnya“, “Para Sengkuni…” dan lain-lain. Khusus kepada saya, ia berujar, “Dwiki, jangan lupa baca buku Mahabarata!” Saya pun menjawab, “Kalau kitab Ramayana dan Mahabarata, itu sudah tuntas saya baca sejak Kelas 3 Sekolah Dasar, Pak Ketum.”

Praktis sebelum Anas Urbaningrum berangkat ke kantor DPP Partai Demokrat menyampaikan pidato monumental berhenti sebagai ketua umum, tak ada satu sahabat lainnya yang menemani kecuali kami bertiga, sebagaimana dokumentasi foto bersejarah yang mengawali tulisan ini.

Dari layar televisi sesampai di rumah, kemudian saya lihat tayangan langsung pidato Anas Urbaningrum. Di samping kalimat-kalimat tentang ‘halaman berikutnya’ yang fenomenal tatkala ia menyampaikan pidato perpisahan sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat, masih terngiang-ngiang ucapan Anas dalam jumpa pers di kantor DPP Partai Demokrat, Jalan Kramat, Sabtu 23 Februari 2013 itu: “Saya baru mulai berpikir, saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir, jangan-jangan saya akan menjadi tersangka di KPK setelah saya dipersilakan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK.

****

Pasca Anas Urbaningrum menyatakan berhenti dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat, mulailah saya intens berkunjung ke kediamannya. Sudah tak terhitung. Kadangkala bila kemalaman, saya tidur di pendopo joglo rumahnya.

Saya heran saja bila mengingat betapa media massa cetak, elektronika dan online menyudutkan Anas Urbaningrum perihal kepemilikan rumahnya. Memang betul di Jalan Teluk Langsa ia memiliki dua rumah. Hanya dibatasi jalan selebar kurang lebih 3 meter. Namun jika media massa mewartakan isyu bahwa Anas Urbaningrum akan membuat jembatan di antara dua rumahnya tersebut, saya kira pemberitaan mengada-ada, tidak berdasar dan tidak sesuai fakta.

Media massa menyatakan soal kemewahan kediaman sebelum Anas Urbaningrum dinyatakan tersangka oleh KPK, juga saya rasa terlalu berlebihan. Saya sudah berkunjung ke kediaman beberapa rumah anggota DPR-RI. Yang lebih mewah dari rumah Anas Urbaningrum cukup banyak. Sebagai contoh, di sebuah rumah seorang anggota DPR-RI berinisial SN yang terletak di Kebayoran Baru, saya takjub untuk tiga lantai rumahnya terpasang lift (dengan dekorasi lux didalamnya), layaknya hotel bintang lima plus.

Kesan ‘mewah’ kediaman Anas Urbaningrum yang kini dipakai sebagai sekretariat ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) barangkali adalah adanya pendopo joglo dan kolam renang kecil. Namun demikian, untuk ukuran seorang Anas yang pernah bekerja sebagai anggota Tim Revisi Undang-Undang Politik atau Tim Tujuh, yang menjadi salah satu tuntutan Reformasi, dan anggota Tim Seleksi Partai Politik, atau Tim Sebelas, yang bertugas memverifikasi kelayakan partai politik untuk ikut dalam pemilu serta anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Periode 2001-2005, kepemilikan rumah semacam itu masih bisa ditoleransi.

Acara Buka Bersama Anas Urbaningrum Jum'at 19 Juli 2013

Acara Buka Bersama Anas Urbaningrum Jum’at 19 Juli 2013 (koleksi pribadi)

Ramadhan 1434 Hijriah bersama Anas Urbaningrum

Ramadhan 1434 Hijriah bersama Anas Urbaningrum (koleksi pribadi)

Anas Urbaningrum tengah Mengupas Topik Kekuatan Silaturahmi

Anas Urbaningrum tengah Mengupas Topik Kekuatan Silaturahmi (koleksi pribadi)

Nonton Bareng bersama Anas Urbaningrum Sepakbola Final Piala Champions 2013

Nonton Bareng bersama Anas Urbaningrum Sepakbola Final Piala Champions 2013 (koleksi pribadi)

Nonton Bareng Sepakbola Final Liga Champions 2012

Nonton Bareng Sepakbola Final Liga Champions 2013 (koleksi pribadi)

Ahmad Tsabit dan Dwiki Setiyawan di Rumah Pergerakan

Ahmad Tsabit dan Dwiki Setiyawan di Rumah Pergerakan (koleksi pribadi)

kiri ke kanan: Sidi Mawardi, Dwiki Setiyawan dan U Azis Muslim di Rumah Pergerakan

kiri ke kanan: Sidi Mawardi, Dwiki Setiyawan dan U Azis Muslim di Rumah Pergerakan (Kredit Foto: Mahdi Paparazi)

Reuni II PB HMI Periode 1997-1999 pada 2 Desember 2012 di R2R Cafe

Reuni II PB HMI Periode 1997-1999 pada 2 Desember 2012 di R2R Cafe (koleksi pribadi)

Padahal suasana egaliterian dan nuansa bersahaja terlihat di ruang tamu rumah lama (seberang ‘Rumah Pergerakan’) yang kini didiami keluarga Anas Urbaningrum. Berukuran kurang lebih 3 x 5 meter. Tidak ada ornamen apapun di ruangan tersebut selain bufet (lemari panjang) berisi buku-buku agama. Juga tidak ada meja dan kursi tamu didalamnya. Di ruang tamu ini hanya digelar karpet dan bantal-bantal persegi empat ukuran agak besar.

Di ruang tamu itulah sebelum Anas Urbaningrum ditahan KPK, ia menerima para tamu yang ingin bersilaturahmi. Sembari ngobrol bersama para tamu yang bertandang, pada malam hari Anas Urbaningrum selalu memegang raket nyamuk. Jarang saya lihat ia mendominasi pembicaraan. Sembari mendengarkan para tamunya bicara, sesekali raket nyamuk yang dipegangnya itu ia kibas-kibaskan. ‘Plethek’… demikian suara yang terdengar, dan nyamuk yang disambar raket itupun berguguran. Para tamu pun tak merasa terganggu dengan kibasan Anas Urbaningrum dimaksud.🙂

Selama bertandang hingga dini hari atau menginap di pendopo ‘Rumah Pergerakan’ Anas Urbaningrum, saya merasakan suasana dan aroma mistis religius. Nuansa tersebut terasa lantaran di dini hari yang senyap, terdengar sayup-sayup lantunan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari rumah tersebut. Kadangkala saya merinding dibuatnya.

Naga-naganya, sejak lama beberapa santri Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta (mertua Anas Urbaningrum) ‘nyantrik’ di rumah tersebut. Bahkan ‘selapan’ atau 35 hari sekali tepat pada Jum’at Legi malam diselenggarakan pengajian rutin di ‘Rumah Pergerakan’. Peserta pengajian cukup banyak, lantaran dihadiri para alumni Ponpes Krapyak yang tinggal di Jakarta. Ketika saya tanyakan pada penjaga kediaman rumah Anas tentang sejak kapan pengajian tersebut diselenggarakan, sang penjaga itu menjawab bahwa pengajian rutin terselenggara jauh hari sebelum Anas Urbaningrum ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Pengajian Rutin Jum'at Legi di Rumah Pergerakan

Pengajian Rutin Jum’at Legi di Rumah Pergerakan (koleksi pribadi)

Sekalipun kini Anas Urbaningrum mendekam di balik terali besi, saya akan tetap berkunjung ke rumahnya di Duren Sawit. Meresapi suasana dan aroma religius ‘Rumah Pergerakan’ seraya mendengarkan penuh penghayatan alunan merdu pembacaan ayat-ayat suci pada tengah malam atau dini hari. Pula setidak-tidaknya, saya bisa mengikuti diskusi rutin setiap hari Jum’at yang diselenggarakan rutin oleh Ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). Sebagaimana Anas yakin, saya pun ikut yakin bahwa perjuangan dia belum selesai. Untuk itu, saya pungkasi tulisan ringan ini dengan menyitir larik puisi ‘Perjuangan Belum Selesai’ karya mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohamad:


Tugas kita belum selesai rupanya
bagi memartabat dan
memuliakan bangsa
kerana hanya bangsa yang berjaya
akan sentiasa dihormati

Rupanya masih jauh dan berliku jalan kita
bukan sekadar memerdeka dan mengisinya
tetapi mengangkat derajat dan kemuliaan
buat selama-lamanya

Hari ini, jalan ini pasti semakin berliku
kerana masa depan belum tentu
menjanjikan syurga
bagi mereka yang lemah dan mudah kecewa

Perjuangan kita belum selesai
kerana hanya yang cekal dan tabah
dapat membina mercu tanda
bangsanya yang berjaya

Dr. Mahathir Mohamad
Mei 1996

Anas Urbaningrum di Acara Deklarasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia Provinsi Bali

Anas Urbaningrum di Acara Deklarasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia Provinsi Bali (koleksi pribadi)

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , , , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Suasana dan Aroma Mistis Religius Rumah Pergerakan Anas Urbaningrum

  1. Ujang Sundana berkata:

    Selamat pagi mas Dwiki, salam…

    Saya baru tahu kalau Mas Dwiki mempunyai hubungan yg sangat dekat dgn Anas Urbaningrum.
    Terus terang Anas ini salah satu tokoh muda yg saya kagumi. Kecepatannya meraih kesuksesan dalam usia yg relatif muda, itu salah satu yg saya salut.
    Tulisan ini bagi saya seakan membalikkan apa yg selama ini saya peroleh dari yg saya ketahui lewat media massa. Tentang rumahnya, tentang isu akan dibangunnya jembatan antara kedua rumahnya, ah ternyata banyak berita yg hanya isapan jempol belaka.
    Terima kasih atas share nya ttg Anas ini. Bagi saya ini semacam pemahaman baru atas tokoh muda yg selama ini saya kagumi.

    • Dwiki berkata:

      Sangat dekat ya tidak Kang Ujang Sundana. Sedikit dekat mungkin. Banyak kok tulisan tentang Anas Urbaningrum di blog ini. Lihat saja ‘awan tag’ di sedebar blog, nama ‘anas urbaningrum’ terlihat tebal dan agak besar. Itu pertanda banyak dikupas di blog ini. Hehehe.

  2. Om Dwiki, jadi apa sebenarnya yang bisa dipermasalahkan dari Anas?

  3. emang kalau kerja seperti yang sampeyan sebut di artikel trusmasih dalam bilangan wajar kalau punya rumah kayak gitu, gajinya berapa sih? Sampeyan tahu nggak sumber-sumber keuangan Anas? Cerita dong!

  4. Andaikan Anas benar-benar tak terbukti bersalah, apa yang bisa dilakukan Anas untuk membantu KPK menguak soal Hambalang ini?

    • Dwiki berkata:

      Hemat saya sih Anas perlu (dan wajib) membuka apa-apa saja yang ia ketahui tentang skandal Hambalang ini. Dan dia juga jangan pilih-pilih siapa saja yang terlibat di dalamnya.

  5. marzuki m daud berkata:

    okrims perjuangan belum selesai jendral

  6. dono berkata:

    Dwiki iki dekat anas hanya dapat recehan, padahal teman2nya lebih gede ha haaaaa

  7. Saya lihat foto-fotonya, agak tertarik dengan sebuah foto yang ada Sidi Mawardi, rasanya pernah kenal, apakah betul dia mantan HMI cabang Bulaksumur ..?

  8. ayub berkata:

    assalamualaikum mas. saya ayub dari siantar, kapan mas dwiki ada waktu kita buat diskusi di siantar.???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s