#StatusFacebook: Ada Grup Anti Jokowi di Facebook?


Status Facebook Grup Anti Jokowi Facebook

Status Facebook Grup Anti Jokowi Facebook (Kredit Foto: Koleksi Pribadi)

Meraih lima belas orang menyukai (like) dan memanen tiga puluh komentar. Demikianlah status Facebook yang saya goreskan di kronologi akun https://www.facebook.com/dwiki.setiyawan, yang tayang pada awal Tahun Baru 2014 lalu.

Saya terus terang tidak akan menarikan jari-jemari status ‘cukup keras’ (apalagi pada teman sendiri), jika saja tidak dianggap keterlaluan. Ini semua bermula tatkala saya membagi (sharing) undangan bedah buku Mozaik Kepemimpinan Jokowi dari sudut pandang rakyat pada Sabtu (4/1) lalu, di sebuah grup Facebook.

Kemudian terjadilah interaksi antara saya selaku produsen konten dengan pembaca. Di sinilah sebenarnya hakikat media sosial.  Suatu medium di ranah maya agar para penghuninya melakukan komunikasi tanpa keharusan bertatap muka di dunia nyata. Lantas terjadi titik temu. Yang ini tidak, entah karena suatu alasan yang hingga kini saya tidak tahu, sekonyong-konyong keanggotaan saya di grup tersebut dihapus.

Namanya kurang ajar. Main del-delan. Untuk lebih jelasnya mengenai status saya di kronologi Facebook tersebut, berikut komentar-komentar yang muncul saya publikasi ulang di blog personal ini. Saya tidak ada motif apa-apa.

Dengan publikasi ini, saya berharap, siapapun Anda, yang kini menjadi admin di suatu grup/halaman Facebook, atau di komunitas-komunitas dunia maya, hendaknya –meminjam istilah salah satu elemen jurnalisme– disiplin verifikasi. Ditanyakan dulu duduk perkaranya (termasuk di mana kesalahan yang dibuat), diajak berkomunikasi, dinegosiasikan yang ujung-ujungnya sebuah kompromi. Tercapai harmoni.

Untuk lebih lengkapnya sila simak baik-baik status Facebook yang menyebabkan keanggotaan saya di Grup Anti Jokowi tersebut dihapus, sebagai berikut:

Ada Grup Anti Jokowi di Facebook? Dua hari lalu, sekonyong-konyong keanggotaan saya di Grup Blogger Reporter ID di-delete adminnya. Masya Allah. Saya bertanya dalam hati, apa kesalahan yang telah saya buat? Soalnya ini kejadian pertama kali selama saya bermedia sosial.

Tapi saya ikhlas menerima. Hanya saja saya berpendapat bahwa admin grup (atau oknumnya) tersebut pikiranannya sempit. Ia lupa adagium pertemanan yang hakikatnya juga pemeo di media sosial, “Seribu teman terlalu sedikit, dan satu orang musuh terlalu banyak.” Si oknum admin tersebut saya nilai tidak siap dengan perbedaan pendapat.

Para admin di grup tersebut telah lama saya kenal di Kompasiana, bahkan dalam acara halalbihalal grup tersebut di Gedung Parpostel Medan Merdeka Barat pun saya hadir (juga mendokumentasikan kegiatan tersebut). Ia mustinya juga tak perlu takut dengan kehadiran saya di grup itu, lha wong saya bukan apa-apa dan siapa-siapa kok. Ia harus belajar banyak dengan admin Kompasiana Pepih Nugraha dan Iskandar Zulkarnaen bagaimana caranya mengelola konflik. Sehingga muncul solusi memuaskan bersama (win-win solution).

Kalaulah saya memposting undangan bedah buku Jokowi di grup tersebut yang akan terselenggara pada Sabtu 4 Januari 2014 mendatang di kantor www.satukan.com, kan tidak salah? Namanya saja Blogger Reporter ID yang anggotanya blogger-blogger. Biarkan saja mereka tahu ada event, dan kalau datang mewartawargakan kegatan di blognya jangan dihalangi. Satu lagi, grup tersebut menyandang nama ID alias Indonesia, jika saja mereka anti perbedaan/pluralitas, pertanyaannya bagaimana jadinya dengan grup tersebut?

Kemudian, jika dalam postingan tersebut terjadi dialog antara saya selaku pembuat konten dengan pembaca, apapun isi perbincangan itu, ya sebagai admin mereka harusnya menyimak saja. Selama tidak melanggar ketentuan grup, posting tersebut layak tayang. Nah, ini aneh: langsung delete keanggotaan. Hahaha.

Selanjutnya saya bertanya pada admin grup tersebut: apakah salah foto profil bertuliskan Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI)? Apanya yang ditakutkan? Takut Anas Urbaningrum popuer? Wah, saya pikir tambah ‘koplak’ tuh admin wawasan politiknya. Hahaha.

Wahai Admin Grup Blogger Reporter ID yang budiman. Anda tak usah alergi pada Jokowi, Anas Urbaningrum atau tokoh-tokoh lain yang barangkali berbeda dengan pilihan politik Anda. Sama halnya saya juga belajar dari Nurcholish Madjid tentang indahnya kemajemukan.

Keluarlah dari tempurung yang mempasungmu, dan lihatlah dunia laksana pelangi yang dikagumi orang akan keindahannya yang warna-warni itu. Di Facebook atau Google+, saya ikut dalam grup-grup beraneka dengan jumlah keanggotaan ratusan ribu. Mereka selama ini enjoy saja, tak ribet seperti grupmu itu. Saya acap posting-posting status berisi foto, tips-tips blogging tanpa menyertakan tautan/link (hanya sesekali saja).

Orang merasa nyaman dengan kehadiran kita tanpa keharusan klik dikarenakan ewuh-pakewuh, sungkan dan sebagainya. Mereka akan bicara baik-baik, mengontak kita bagaimanapun caranya tatkala kita dianggap melanggar TOS/ketentuan dan aturan. Hingga status ini saya buat, belum ada pemberitahuan satu pun tentang penghapusan keanggotaa saya. Seolah-olah hal biasa, dan menganggap kita (para blogger) adalah pion-pion dalam bidang catur yang semaunya Anda arahkan dan mainkan.

Tolong Admin, jangan Anda pulihkan status keanggotaan saya tersebut. Anda tetap berteman dengan saya di Facebook ini. Hanya saja, Anda saya catat! Tak perlu saya tahu siapa sosok di balik ini semuanya. Saya mungkin mampu dan punya feeling politik terhadap itu. Terima kasih atas pertemanan yang terjalin selama ini.

NB: dari 5 Admin Blogger Reporter, 3 diantara berteman dengan saya di sini: Hazmi Srondol, Ahmed Tsar Blenzinky, Dian Kelana. Sementara dua lainnya tidak berteman: Bang Nur, dan Ani Berta. Pak Dian sdh bilang bahwa ia tak tahu menah soal di atas, dan telah keluar dari admin grup tsb. Untuk diketahui juga rekan-rekan sy yang selama ini aktif ngeblog (tanpa saya meminta nama berikut komen): Bang Asa Inge Ngotjol Wijaya Kusumah, Amril Taufik Gobel , Della Anna Komunitas Canting Helmi Budiprasetio Nur Tjahjadi dll yang tak saya sebutkan satu per satu.

Grup Blogger Bekasi Facebook

Screenshot Grup Blogger Bekasi Facebook

***

Komentar-komentar #StatusFacebook Ada Grup Anti Jokowi di Facebook:

Hazmi Srondol Dwiki Setiyawan : Wah, saya baru tahu. Coba saya cek ke admin2 lainnya. Cuman emang kalau soal Politik praktis dilarang di BRid. Nanti saya tag ulang woro-woronya. Termasuk saya sendiri sebagai pendiri tidak pernah sharing soal politik di BRid. Selalu di akun FB/twitter pribadi. Padahal sudah jelas saya sedang menulis biografi salah satu capres.

Hazmi Srondol EDARAN : LARANGAN POLITIK PRAKTIS DI BRID

Rekan-rekan Blogger Reporter,

Seperti yang kita ketahui bersama, iklim politik di Indonesia semakin memanas seiring dengan Pemilu dan Pilpres 2014 yang semakin dekat.

Dan diantara kita, banyak yang terlibat didalamnya—baik sebagai ghost writer, buzzer maupun caleg itu sendiri dari berbagai macam partai dan capres. Sebuah penghargaan sekaligus ujian profesionalitas kita. Hal yang saya sadari adalah hak pribadi yang di lindungi undang-undang.

Namun, saya selaku Super Admin mengingatkan kembali bahwa BRid ini dibentuk tidak dalam format, azas atau misi politik partai/golongan tertentu. Kami meminta agar teman-teman tidak share, posting atau mengundang acara yang berkaitan/berhubungan dengan kegiatan politik baik praktis mau tidak di grup ini.

Hak pribadi politik kita, ada tempat untuk mengaktualisasikan—yaitu di akun socmed/blog pribadi masing-masing.

Jika di kemudia hari terdapat kegiatan yang diindikasikan berbau politik praktis, maka tim sapu jagad akan men delete share/undangan tersebut. Hal ini berlaku untuk semua anggota dan admin.

Termasuk kepada diri saya sendiri.

Terima kasih ataus perhatian dan kerjasamanaya.

Super Admin
Hazmi Srondol

Bukan Grup Anti Jokowi Facebook

Bukan Grup Anti Jokowi Facebook

Bang Asa Wah…. Siapa Admin yg nakal gitu.. Kalo saya SUPER ADMIN, saya pecat dia tujuh kali.. hihihihi

Wijaya Kusumah setiap group biasanya memiliki aturan dan saya legowo dgn aturan yg dibuat

Hazmi Srondol nggak nakal Bang Asa, cuman mungkin terlalu tegas. saya akan cek histori obrolan yg saya tidak ketahui.

Hazmi Srondol Om Wijaya Kusumah dan lagian admin grup kan gak dibayar kayak admin Kompasiana. jadi saling pengertian dan tenggang rasa itu sangat penting

Muhammad Rizal admin yang suka nendang orang keluar dr group biasanya admin galau. Baru kemaren saya ditendang admin Beranda Jokowi Ahok, karena saya meluruskan bahwa Jalan Non Tol Tanah Abang itu bukanlah proyek Jokowi, Jokowi hanya meresmikan dan membukanya saja jalan tsb, tapi proyek itu berasal dari ide foke. Padahal ini fakta, eh sama adminnya ditendang, tapi saya sih nyantai2 aja, paling2 buat status ngeledekin para fans boy jokowi, kalau mereka doyan mengklaim milik Jokowi. hehehe .

Lydia Sofyan Syarif Hilang satu tumbuh seribu….kawan

Dwiki Setiyawan Muhammad Rizal: Bukan sy kan adminnya? Hahaha. Coba Bung telusuri status FB sy dua hari lalu. Sy nulis status ttg pembaca blog yg maki-maki di komentar dan tetap sy lolosjan tanpa editing sama sekali.

Dwiki Setiyawan Hazmi Srondol: sejak kapan acara bedah buku dianggap politik praktis? Lha wong. Jokowi dah genggam kekuasaan politik kok. Harap diingat, ia hingga hari ini bukan capres dari parpol manapun.🙂

Dwiki Setiyawan Muhammad Rizal: sy sama kamu kan udah berteman lama, sejalipun di milis kahmi pro network? Kan kita tak permah memutus tali silaturahmi, bukan?

Dwiki Setiyawan Sekalipun beda pemdapat ya Om Muhammad Rizal.

Hazmi Srondol waduh, kok jadi jauh yah arah pembicaraan dengan status njenengan diatas yah? ya sudah, saya jadi tahu alasan kenapa ada admin yang mendelete njenengan. Dan kalau dianggap tidak memuaskan, ya monggo saja. Saya ngerti perasaan mas dan status mas. namun saya juga sangat hormati persepsi dan otoritas admin lain yang menegakkan aturan grup. saya yakin, BRid bukan sesuatu yang penting dan berharga buat mas Dwiki. Cuman grup blogger yang sedang belajar mereportase ala warga. Jika ada perbedaan pendapat lagi, saya rasa kita sepakat untuk tidak sepakat. Terima kasih. .

Muhammad Rizal admin saja dodol mas dwiki, belum bisa memahami makna demokrasi, Lagian gk sepantasnya utk langsung ditendang, seharusnya adminnya memberitahu dulu mas, kalau sampeyan melanggar rules yg berlaku digroup. Itupun perlu 3kali dikasih peringatan baru ditendang. Tapi kalau ditendang disebabkan hanya sebuah posting saja, patut dicurigai adminnya ada “dendam” sama mas dwiki hehehhee (kompor.com)

Dwiki Setiyawan Bung Hazmi Srondol yg baik. Sy itu buka tipe konfrontatif. Kalau nulis di atas konfrontatif, sy minta maaf –namun jangan minta sy menghapus status di atas. Napoleon Bonaparte, negarawan Perancis pernah berujar, “Tidak ada yang tidak ada, dan tidak yang tidak mungkin. Jadi selalu ada ruang ada dan mungkin thd apapun persoalan untuk diadakan dan dimungkinkan. Tak tertutup rapat dan anti kritik atau perbedaan. Karna sy bukan tipe konfrontatif, sbg contoh, kala sy mau buat fentilasi rumah yg baru dibeli, sy minta izin tetangga sebelah. Padahal batas rumah tsb kebun. Jawabnya bikin kaget, “Tidak bisa, bagaimana kalau kebun yg berdempetan dng rumah bapak nanti dibuat rumah?” Saya jawab, “Ya sy tutup saja ventilasi tsb.” Tetap tidak bisa. Sampe sy bilang tak kurang akal, “Kalau tembok rumah yg mau sy buatkan ventilasi tsb sy bongkar dan mundurkan 1 meter ke belakang, tetap juga tak boleh buat ventilasi?” Ia berpikir agak lama, lantas ngomong,”Ya, kalau itu terserah, rumah2 bapak sendiri.” Sy nahan tawa, trus bilang, “Lha, trus apa bedanya? Hahaha. Tetangga sy itu tetap bilang tidak bisa. Titik. Sebagai orang baru, sy pun tak kurang akal, akhirnya atap rumah sy itu sy pasang cerobong angin/ventilasi seperti yg dipasang di pabrik2. Satu-satunya di RT tsb.. Sy tak ada dendam, makahan ia kini jadi tetangga baik saja. Hanya saja, kebun itu hinha 7 tahun berlalu belum juga dibuatkan rumah. Hehehe. Itulah sekekumit kisah bagaimana sy bukan tipe konfrontatif. Ada tetangga waktu itu bilang, nekat saja Pak Dwiki, wong rumah2 sendiri. Jadi kalau sudah amat sangat keterlaluan sekali, tak mumgkin sy konfrontatif. Sebab tak ada gunanya, ibaratnya menang jadi arang kalah jadi abu.

MT Arifin Kadang gitu…..saya pernah didelet di di salah satu group Kebumenan, tanpa tahu kesalahannya bagaimana….Kadang gitu perilaku “penguasa”

Dwiki Setiyawan Mas MT Arifin: Hahaha. Ternyata yg koplak getu juga banyak.

Dwiki Setiyawan Hazmi Srondol: 1x lagi. Feeling sy ada persinggungan kepentingan. Ya tetap dibicarakan baik2. Secara beradab (untuk tidak mengatakan tindakan main delete itu biadab). Hehehe

Dwiki Setiyawan Muhammad Rizal: tahapan2 kasih sanksi itu yg sebenarnya hakikat status sy di atas Om. Ini main delet aja, sama dengan pemecatan dengan tidak hormat tanpa pemberitahuan2 sebelumnya di lingkungan instansi/organisasi. Hehehe. Perbedaan kan sudah natural. Ada pepatah Persia yg pernah sy baca beberapa waktu lalu untuk menggambarkan perbedaan, “Pemanah tidak dibedakan dari ketajaman anak panahnya, akan tetapi dari skor yg diperolehnya.” Nah lho..

Unang Muchtar Mas Dwiki, 1000 jalan menuju ke Roma….masih banyak media lain…santai saja….salam dan lama juga kita ngak komumikasi ya….

Wijaya Kusumah saatnya mas dwiki nyapres, hehehe

Della Anna Mas Dwiki Setiyawan semoga permasalahannya cepat damai Peace utk jejaring sosial sesama blogger

Abdul Kholik Ntar lagi Anda akan di-unfriend di FB…

Siti Kiptiyah Didelete dg bismillah.😉

Dwiki Setiyawan Unang Muchtar: saya nyantai kok pak Unang. Kalau menghadapi persoalan, tetap riang. Film peraih Oscar, Life of Beautiful yg diperankan Roberto Benigni mengajarkan nilai tsb, bahwa dalam keadaan sangat terjepitpun si aktor masih tetap bercanda. Hehehe.

Unang Muchtar Sukses mas…..

Inge Ngotjol saya nggak tahu visi, misi, serta aturan di group itu, mas Dwiki Setiyawan. tapi kalau dikeluarkan dari sebuah group tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, ya mungkin mmg adminnya lagi galau hahahahahahahahahahahahahahahaahahaha
Dwiki Setiyawan Inge Ngotjol: Kenyataannya memang demikian yunda (tak tahu kemudian kalau nama saya dipulihkan lagi). Memurut saya, dlm beberapa hal prinsip2 yg dianut blogger reporter tak beda jauh dengan jurnalis (atau pewarta warga) arus utama. Salah satunya, jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi (menurut Kovack). Kalau sudah main del kan namanya menutup ruang kompromi. Sebagai anggota sekaligus publik adalah tugas saya untuk saling kritik (jika status ini dimaknai kritik). Bill Kovack juga mengatakan bahwa elemen terpenting jurnalistik (dari 9 yg ia kemukakan) adalah disiplin verifikasi. Kalau posting saya dianggap salah, juga tidak ada salahnya admin grup melakukan verifikasi. Jadi, karna admin grup lupa elemen terpenting jurnalistik ini (dalam pengertian luas tidak ada pendekatan dan pembicaraan baik2), beginilah jadinya: ada kritik terbuka seperti status saya di atas. Demikianlah yunda Inge. Hehehe.
Inge Ngotjol sederhana saja sih, mas Dwiki Setiyawan. jika anggota salah, ya ditegur dan diberitahukan apa salahnya. itu namanya ada komunikasi. kalau main del tanpa ada penjelasana, itu mah diktator
Dwiki Setiyawan Della Anna: sebelum posting ini mbak, terlebih dahulu saya tanya via pesan dari dua di antara tiga admin yg berteman dng sy di FB. 1 orang menyatakan dirinya telah keluar karena faktor ketidakcocokan, dan satunya menyatakan akan dibicarakan dan dipertimbangkan. Mengapa satu admin lainnya tidak sy kirimi pesan? Karena pernah kejadian, saya kirim 3 pesan mengusulkan kegiatan tidak dibalas sama sekali (kalau soal ini diprotes akan sy tampilkan screenshotnya). Berarti kan tak ada faedahnya sy tanya posting bermasalah pada satu admin ini (coba bayangkan kirim pesan mengusulkan even saja tidak dibalas. Dua admin , PN dan IZ dari website/blog terkemuka saja ketika sy mengusulkan even sangat welcome. Hampir senada jawabnya, “Silakan Mas Dwiki buat TOR dan nanti kita bicarakan bersama” Ada unsur humanisnya). Terus terang mbak Della, sy tak ada dendam. Marah lebih tepatnya kesal iya. Berteman tetap, berbeda pendapat kan boleh2 saja tho mbak?
*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Media Sosial dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke #StatusFacebook: Ada Grup Anti Jokowi di Facebook?

  1. Anis berkata:

    ih, penulisnya cara berfikirnya cetek. untung gak temenan ama orang model beginian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s