Memoar 1 – MT Arifin Budayawan dan Pembina Aktivis Pergerakan Solo


MT Arifin Budayawan Solo

MT Arifin Budayawan Solo (Kredit Foto: Akun Facebook MT Arifin)

Rinai rintik hujan di suatu senja yang turun di Solo beranjak malam semakin deras. Sesekali suara halilintar menggelegar. Tiga gelas berisi kopi tubruk dan sepiring gorengan tersaji di atas tikar plastik, di sebuah rumah sederhana namun asri yang terletak di Jalan Teratai VI Mangkubumen Wetan Solo. Kurang lebih dua dekade silam.

Rumah tersebut sesungguhnya ‘Rumah Aktivis’. Malam itu digelar diskusi Kelompok Studi Mangkubumen (KSM), yang rutin diadakan setiap tanggal 15 dan 30. Hanya ada tiga peserta yang hadir, saya dan Benny Ridwan (mahasiswa IAIN Solo yang kini kandidat doktor di UGM Yogyakarta dan dosen di STAIN Salatiga Jawa Tengah), serta tuan rumah, seorang budayawan Solo, Mas MT Arifin.

Dua narasumber berhalangan hadir. Apakah diskusi rutin yang kami adakan lantaran hujan lebat disertai suara guntur bertalu-talu tersebut batal? Tidak sama sekali. Sekalipun peserta yang hadir kurang dari bilangan jari-jemari di tangan kanan  atau kiri. Tetap berlangsung. Bahkan lebih intens. Saya dan Benny hanya sesekali melontarkan pertanyaan atau komentar. Namun, sembari menyeruput kopi dan menghisap rokok kretek dalam-dalam, Mas MT Arifin menjawab pertanyaan dengan mendalam. Di sela-sela ia membahas suatu persoalan, kami berdua sesekali menginterupsi dengan komentar, yang kemudian ia bahas komentar tersebut. Jadilah satu dua atau lebih pertanyaan dan komentar yang diajukan mendapat jawaban memanjang dan melebar, dari lebih delapan mata penjuru angin disiplin ilmu: sejarah, pendidikan, psikologi, sosiologi, geografi, ekonomi, kesusastraan dan lain-lain.

Barangkali satu-satunya disiplin ilmu-ilmu sosial yang kurang dikuasai Mas MT Arifin hanyalah ilmu hukum. Selama saya bergaul akrab pada kurun 1993-1996, dalam setiap perbincangan empat mata dan diskusi-diskusi KSM dua kali sebulan, serta training-training di HMI, tak pernah ia memaparkan suatu tema bahasan dari perspektif hukum. Atau, mungkin juga pendapat saya salah, soalnya ia pernah mendekam dipenjara kurang lebih enam bulan tanpa proses peradilan di masa rezim Orde Baru, kala ia aktif sebagai Wakil Ketua Dewan Mahasiswa IKIP Yogyakarta pada awal Tahun 1978. Tak mungkin kan, seseorang yang pernah dijebloskan penjara sebagai ‘tahapan politik’ lantaran demonstrasi menentang rezim tidak belajar wawasan hukum?😉

Pendek kata menurut hemat saya, Mas MT Arifin itu ‘ensiklopedi berjalan’. Kegemaran membaca sedari kecil barangkali faktor keluasan wawasannya dalam multi disiplin ilmu. Koleksi bukunya terpampang dalam sebuah lemari kayu jati besar berukir, dan beberapa lemari lainnya di ruang tamu. Belum lagi koleksi buku di ruang kerjanya dalam rak-rak kecil, dan tumpukan buku lain di samping mesin ketik kesayangannya, sebagai referensi, tatkala ia membuat makalah diskusi atau menulis artikel buat media massa cetak –awal dekade 1990-an MT Arifin belum memiliki komputer.

Seingat saya, koleksi terbanyak buku-buku Mas MT Arfin adalah yang berkaitan dengan ilmu sejarah. Hal ini tidak mengherankan, lantaran ia alumni Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Yogyakarta. Peringkat kedua diisi buku-buku bertema kebudayaan Jawa. Selanjutnya buku-buku bertopik ilmu-ilmu sosial lainnya.

Kuatnya referensi bacaan tentang sejarah dan kebudayaan Jawa tersebut, ditambah seringnya Mas Arifin menulis artikel opini di media massa cetak era 1990-an hingga saat ini, dan namanya yang acapkali tersurat sebagai sumber berita media massa, menjadi narasumber seminar di mana-mana atas tema dimaksud, serta keterlibatan intensnya dalam even-even budaya di Kota Solo mengukuhkan julukan budayawan Solo atas dirinya. Pengakuan publik sematalah, dan bukan dikarenakan dia menyodor-nyodorkan diri untuk disebut sebagai ‘budayawan’.

mt-arifin-budayawan-solo-keris-jawaSebagai seorang budayawan Jawa, Mas MT Arifin memiliki minat dan menaruh perhatian tinggi terhadap keris Jawa, sebuah senjata tradisional sekaligus pelengkap sesajian dalam upacara-upacara tertentu masyarakat di abad-abad lampau. Fungsi keris pada penggunaan masa kini, ia lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

Bukan hanya menaruh minat dan perhatian, di kediamannya Solo, Mas MT Arifin juga mengoleksi berbagai macam keris Jawa. Ia juga menulis buku berpengaruh tentang benda tersebut, diberi judul Keris Jawa Bilah Latar Sejarah hingga Pasar yang diterbitkan pertama tahun 2006 silam. Lantaran dianggap salah satu pakar perkerisan Jawa, sudah berkali-kali ia diundang forum lokal, nasional hingga internasional guna membahas soal keris Jawa tersebut. Sekedar mengingatkan, keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia sejak 2005.

Mas MT Arifin juga dikenal sebagai pengamat militer, lantaran seringnya dijadikan sumber berita media massa dan dalamnya artikel opini yang dia tulis. Luasnya jaringan pertemanan dia dengan kalangan militer, termasuk kalangan intelejen yang datang ke rumahnya hanya untuk berdiskusi suatu persoalan yang sedang aktual di Jawa Tengah (bahkan pernah menjadi penasehat Pangdam IV Diponegoro Jawa Tengah pada paruh dekade 1990-an), menasbihkan julukan tersebut.

Bukan hanya itu, ia juga mendalami spiritualitas Jawa dan soal-soal yang kadangkala disalahpahami orang sebagai mistik. Di akun Facebook miliknya, Mas MT Arifin menyebut dirinya konsultan, sebuah penamaan yang bisa multi tafsir, tergantung maunya bagaimana orang lain menginterpretasikannya. Jadi bisa berarti konsultan dalam arti sebenarnya, namun juga dapat bermakna hal-hal berbau mistik dan kebatinan.🙂

Tak banyak yang tahu bahwa ia pernah menjadi wartawan harian Masa Kini, sebuah surat kabar alternatif dan bergengsi terbitan Yogyakarta  pada dekade tahun 1970-an hingga 1980-an. Mungkin juga para aktivis pergerakan saat ini tidak tahu bahwa dia pernah menjadi pejabat di universitas. Karena Mas MT Arifin pernah menjabat Kepala Pusat Penelitian (Puslit) di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Perlu saya garisbawahi di sini, tatkala ia menjadi komandan peneliti itu, berbagai seminar, diskusi, dan pertemuan-pertemuan ilmiah diselenggarakan. Tak kalah pentingnya, jurnal-jurnal ilmiah penelitian lembaga yang digawanginya itu terbit secara rutin. Dan isinya sangat berbobot. Universitas Sebelas Maret (UNS) yang sama-sama berada di Solo, kala itu tertinggal jauh dalam hal publikasi-publikasi ilmiah.

Jadi sosok seperti apakah yang tepat untuk menggambarkan Mas MT Arifin ini? Di atas sudah saya katakan bahwa ia ‘ensiklopedi berjalan’ karena luasnya pengetahuan yang dimiliki dan tidak pelitnya berbagi. Bagi semua kalangan yang pernah bertemu dengannya, saya kira julukan baru sebagai manusia multi dimensi nampaknya layak ia sandang.🙂

MT Arifin Pembina Aktivis Pergerakan Solo

MT Arifin Pembina Aktivis Pergerakan Solo (Kredit Foto: Akun Facebook MT Arifin)

MT Arifin Pengamat Militer

MT Arifin Pengamat Militer (Kredit Foto: Akun Facebook MT Arifin)

****

Seperti saya singgung di atas, kediaman Mas MT Arifin merupakan ‘Rumah Aktivis’. Rumah tersebut bukan semata-mata markas Kelompok Studi Mangkubumen (KSM) Solo, namun juga ‘Rumah Singgah’ para aktivis mahasiswa dari latar belakang berbeda-beda, baik dari Solo maupun kota-kota besar lainnya. Dengan hanya satu tujuan, yaitu menimba ilmu dari sumur pemilik rumah, yang air pengetahuannya memancar deras, menyegarkan sekaligus meneduhkan alam pikiran penimbanya yang datang.

KSM sebagai sebagai komunitas diskusi diprakarsai dan didirikan pada 1990 oleh tiga orang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo, yaitu: Joni Nur Ashari (pada saat itu Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badko HMI Jabagteng, dan kini Kadivre Perum Bulog Kalimantan Selatan), Arifin Susanto (saat itu trainer Lembaga Pengelola Latihan HMI Cabang Solo, dan kini salah satu pejabat di Otoritas Jasa Keuangan), dan Mashartantowi (juga trainer LPL HMI Cabang Solo yang kini menjadi seorang pengusaha cukup sukses di Jakarta).

Menurut Joni Nur Ashari, anggota-anggota awal diskusi KSM mayoritas anggota HMI, dengan pengecualian Wahyu Susilo dari ‘gerakan kiri’. Joni lantas menyebutkan nama-nama aktivis yang kini telah menjadi ‘orang’: Zulkarnain Alijudin (anggota KPUD kabupaten di Sumatra), Saefudin (penulis dan LSM) dan Darmawan (Birokrat di Pemkab Sragen) dari Fisip UNS. Selain itu ada Wahyu Susilo yang kini aktif di LSM Buruh Migran dan Ronggo Purwoko yang kini pengusaha sukses dari Fakultas Sastra UNS. Ada Sulihaji Murwani dari Fakultas Ekonomi UNS yang kini berkarir di harian Bisnis Indonesia. Selanjutnya Ahmad Nadir dari Fakultas Pertanian UNS yang pernah jadi Ketua DPRD Kabupaten Gresik Jawa Timur dan Agus Siswanto dari Fakultas Teknik UNS yang juga pernah jadi Ketua Umum HMI Cabang Solo, dan kini berwiraswasta. Sedangkan dari Fakultas Hukum UNS, selain Joni, adalah Ahmad Zabadi, mantan Ketua Umum HMI Komisariat yang kini pejabat di Kementrian Koperasi dan UKM.

Selama kurun lebih tiga tahun saya menjadi Koordinator KSM menggantikan Mas Joni Nur Ashari yang ditarik sebagai Ketua Bidang Pembinaan PB HMI Periode 1992-1994, lebih dari 100 diskusi diadakan. Dalam kurun tersebut, atas prakarsa Mas MT Arifin, saya membentuk ‘gugus tugas elite’ beranggotakan lima orang anggota. Anggotanya, yakni: Tatang Badrutaman (FE UNS), Benny Ridwan (IAIN), alm Susanto Kartubij (Fisip UNS), Emi Panca Prasetyani (Fisip UNS) dan Lilik HS (FH UNS). ‘Gugus tugas elite’ ini didasarkan pemikiran bahwa aktivis mahasiswa perlu dibekali ‘teori-teori babon klasik’ dalam ilmu-ilmu sosial.

Prinsip bekerjanya ‘gugus tugas elite’ tersebut antara lain, setiap peserta dibagikan 5 (lima) buah buku, misalnya tentang buku dasar-dasar ilmu politik, sistem sosial indonesia, sejarah nasional Indonesia, teori-tori mahzab Franfurt, teori-tori sosiologi-ekonomi-politik Karl Gunnar  Myrdal, teori-teori sejarah ekonomi Andre Gunder Frank dan sebagainya. Tugas kelima orang tersebut adalah membuat resume buku-buku yang dibagikan, kemudian difotocopy dan dibagikan pada anggota kelompok, selanjutnya didiskusikan pada waktu yang mereka tentukan sendiri di ‘Rumah Aktivis’ KSM. Jadi masing-masing memegang 25 (dua puluh lima) fotocopy resume buku. Setiap diskusi kelompok kecil ini, Mas MT Arifin hadir hanya sebagai pendengar. Baru setelah diskusi selesai ia memberikan catatan-catatan atas resume yang dibuat, mana yang kurang dari resume tersebut dan memberikan penekanan-penekanan tertentu.

Coba bayangkan apabila ke-25 buku tersebut selesai didiskusikan selama satu bulan, berarti selama enam bulan kurang lebih 150 buah buku telah mereka lalap habis. Luar biasa, bukan? Lilik HS, salah seorang anggota ‘gugus tugas elite’, dalam sebuah pesan di Facebook sebelum saya menulis memoar ini mengatakan bahwa ia bela-belain pindah kos dari Kentingan ke Yosodipuro (berjarak kurang lebih 10 km) agar dekat dengan rumah Mas MT Arifin.

Lilik juga menggoreskan kesan tentang wajib resume buku kelompok kecil KSM. Ujarnya, “Saya baca buku-buku sejarah dan politik sejak SMP, tapi baru kali itu seluruh pikiran, energi dan hati tersedot habis untuk sebuah bacaaan! Sambil terkantuk-kantuk, hingga subuh saya tamatkan buku Andre Gunder Frank, Gunnar Myrdal dll, dan jadilah esoknya malas berangkat kuliah. Hari-hari yang dipadati baca buku dan bikin resume, itu saya catat sebagai fase-fase gemilang dalam masa remaja saya!

Karena sudah menjadi anggota elite kelompok kecil, maka mereka harus mau dipanelkan dengan pembicara luar kala diskusi KSM diadakan. Tibalah giliran Lilik, namun tak disangka samasekali ia mangkir. “Oya, mana mungkin saya lupa ini : suatu hari, saya dapat jatah mengisi diskusi di KSM, narasumber lainnya adalah dosen UMS. Berhari-hari, perut saya mulas bukan main membayangkan forum diskusi itu. Ini kali pertama saya jadi narasumber! Kalau tak salah, saya semester 3 waktu itu. Buku sudah saya tamatkan, coret-coretan makalah sudah dibuat, tapi alamak, benar-benar tidak pede untuk jadi narsum di hadapan Bang MT! Akhirnya, saya tak berani datang. Hahaha. Dan berminggu kemudian, saya ke KSM dengan muka ditekuk, tak berani menatap Dwiki dan Bang MT, Bukan main tak enak jadi pengecut!  Saya ingat, Bang MT hanya tertawa sambil berkata, “Harus pede dong! Semua kan dimulai dari langkah pertama. Pasti tidak sempurna….” ujarnya, masih dengan derai tertawa. Ucapan itu, tawa itu, saya kenang hingga sekarang.”

Anggota ‘gugus tugas elite’ lainnnya, Tatang Badrutamam yang juga mantan Ketua Umum HMI Cabang Solo terkesan dengan kelompok kecil itu. Ia mengatakan bahwa hingga kini fotocopy-fotocopy resume buku pada masa itu masih memiliki dan disimpan dengan rapi. Adapun tentang Mas MT Arifin sendiri, ia mencatat 3 hal yang layak diteladani. Pertama, intelektual egaliter. Menurut Tatang, Mas MT Arifin adalah tipe intelektual yang berpandangan bahwa setiap orang (dalam hal ini aktivis mahasiswa) memiliki potensi dan kapasitas keilmuan cukup baik. Persoalannya, katanya lebih lanjut, potensi dan kapasitas keilimuan itu dapat lebih berkembang dan dapat mencapai tahapan puncak apabila diberi saluran dan ada yang mengarahkan dan membina sebagai mentor.

Itulah yang dilakukan oleh Mas MT Arifin secara sadar. Menjadi pembina para aktivis pergerakan di kota Solo agar kapasitas keilmuan para aktivis mahasiswa sebagai kalangan terpelajar terasah tajam. Dengan pisau analisa yang dimiliki bersendikan bacaan-bacaan yang tepat dan kajian mendalam, diharapkan para aktivis mampu membedah persoalan-persoalan yang sedang dan akan terjadi di masyarakat secara cepat dan tepat.” Lebih jauh Tatang mengatakan bahwa sebagai intelektual egaliter, ia mau diundang di mana saja, kapan saja (asalkan waktunya tidak berbenturan) dan oleh siapa saja tanpa berpikir bahwa acara yang diselenggarakan tersebut mendapat imbalan (honor) atau tidak. Menurut Tatang, dapat atau tidak imbalan Mas MT Arifin akan hadir, meskipun itu ke luar kota. “Tak pernah saya dengar keluhan tentang hal itu,” tandasnya.

Kedua, tidak pelit berbagi ilmu pengetahuan kepada siapapun. Bahkan dalam keadaan tertentu, ujar Tatang sembari menerawang, ia rela buku-buku koleksi Mas MT Arifin dipinjam. Soal buku-buku yang dipinjamkan itu, sekalipun tidak dicatat dalam ‘buku catatan peminjaman’, Anda jangan sekali-kali punya niat untuk tidak mengembalikan. Soal yang satu ini, Mas MT Arifin ingat di luar kepala buku apa yang keluar dan siapa peminjamnya.🙂

Ketiga, Mas MT Arifin mau berkorban materi, dan tidak punya pamrih. Ia mencontohkan sajian makanan kecil dan minuman setiap kali diskusi diselenggarakan. Kadang, menurutnya, Mas MT Arifin dimintai dana taktis oleh dirinya. “Dalam keadaan terdesak kegiatan-kegiatan organisasi ke luar kota yang mendadak dan tak keburu mencari donatur alumni, saya sebagai Ketua Umum HMI datang ke rumahnya meminta dana. Dengan agak terpaksa. Dan pasti diberi,” ujarnya. Ketika mengungkapkan soal itu, saya menyela, “Masak sih Tang? Saya saja tidak berani. Hahaha.”

Senada dengan apa yang diungkapkan Tatang Badrutaman pada poin satu dan dua, salah seorang anggota aktif KSM laininya, Abdul Kohar yang kini seorang pimpinan di harian Media Indonesia dan narasumber acara “Bedah Editorial” Metro-TV itu dalam sebuah pesan pendek/sms kepada saya berujar, “Bagiku Bang MT merupakan sosok yang sangat menyenangkan, kawan bicara yang mengasyikkan dan mencerahkan, serta intelektual yang mau berkhidmat untuk penyebaran ilmu pengetahuan dan diskursus intelktual. Saya sangat terharu bagaimana Bang MT di tahun 90-an melangkahkan kakinya menuju forum-forum diskusi, baik yang formal maupun informal. Ia sama sekali tak jengah bergaul dengan kami-kami yang jauh lebih muda darinya. Di meja-meja obrolan informal, Bang MT ‘menantang’ kami melakukan debat intelektual, baik soal budaya, politik, seni, sejarah, juga ekonomi.”

Selanjutnya, Abdul Kohar yang mantan Ketua Umum HMI Komisariat Fisip UNS tersebut menyatakan bahwa  Mas MT Arifin itu tak lelah membiakkan pikiran-pikiran kritis dan menebarkan virus kritisisme kepada kalangan muda. Menurut Kohar apa yang dilakukan  beliau tersebut melelahkan dan hasil panennya tidak diperolah seketika. Kata Kohar menambahkan, “Ia sosok yang yakin bahwa kelak, para ‘muridnya’ itu bakal mewarnai perdebatan dan diskursus intelektual, juga rupa-rupa best practices bagi perjalanan demokrasi dan kebudayaan di Indonesia. Panen itu kini mulai dirasakan. Ada yang menebarkan ‘viris’ itu melalui media massa, media sosial di jaringan internet, di pemerintahan, NGO, perguruan tinggi, dunia usaha dan lain-lain.”

Rumah Aktivis Kelompok Studi Mangkubumen KSM Solo

Rumah Aktivis Kelompok Studi Mangkubumen KSM Solo (koleksi pribadi)

***

Ada cerita menarik tentang sosok Mas MT Arifin yang datang dari sahabatnya Mas Lukman Hakiem. Ia sama-sama satu fakultas di IKIP Yogyakarta, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS). Bedanya Mas Lukman berasal dari Jurusan Ilmu Administrasi. Tentang seperti apa sosok Mas MT Arifin di mata Mas Lukman Hakiem, berikut penuturannya, “Kesan awal saya, Bung MT itu pendiam dan agak jaim. Kesan itu keliru. Ternyata Bung MT seorang humoris, dan punya banyak stok humor “17 tahun ke atas.” Bung MT juga seorang yang egaliter dan rendah hati. Meskipun dia sudah berada di jajaran top aktifis kampus, dia tidak segan menghadiri acara HMI di tingkat Komisariat, dan bersikap layaknya anggota biasa. Seingat saya, di antara dua wakil ketua DM IKIP Yogyakarta,  Bung MT relatif sering diutus ke berbagai pertemuan mahasiswa tingkat nasional.  Hal itu tidak mengherankan, karena Bung MT dikenal juga sebagai aktivis yang cerdas. Beberapa kali saya mendengar Pak A. Syafii Maarif memuji kecerdasan Bung MT. Akan tetapi, lantaran itu pula pada awal 1978, bersama Ketua DM IKIP Yogyakarta, Said Tuhuleley, dan sejumlah aktifis, Bung MT dijebloskan ke penjara oleh rezim Orde Baru selama sekitar 6 bulan tanpa proses pengadilan.  Suatu hari di pertengahan 1978 (atau 1979) saya mendapat tugas menjadi instruktur dalam pelatihan HMI (saya lupa entah Basic atau Intermudiate Training). Saya diminta memberikan materi Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan.  Sampai di lokasi, nyali saya langsuhy ciut mendapat informasi bahwa salah seorang peserta training adalah Bung MT. Gila! Mau ngomong apa saya di depan aktivis mahasiswa yang sudah pernah merasakan penjara Orde Baru?

Masih menurut Mas Lukman menggarisbawahi kesan di atas, soal ia mau menjadi trainer pelatihan kader di HMI dan Mas MT Arifin calon pesertanya, sembari terkekeh ia berujar, “Dan itu peristiwa yang benar-benar tidak bisa saya lupakan.” Barangkali Mas Lukman sudah merasa ‘kalah awu’. Saya pun ikut tertawa berderai-derai. Dan mungkin juga Mas MT Arifin ikut tertawa tatkala membaca ini. Hahaha.

Akhirnya, saya telah mencoba membuat memoar ini dengan cukup panjang, walaupun di sana-sini sadar ada momen yang terlewatkan. Tak apa. Soalnya memoar ini masih bisa saya suntiing di kelak kemudian hari. Namun demikian, saya merasa bangga menjadi bagian dari keluarga komunitas Kelompok Studi Mangkubumen (KSM) Solo. Tentu saja kala membuat memoar ini, jelas terbayang kebaikan Mbak Wahjani Mudji, istri Mas MT Arifin juga kakak iparnya yang berpayah-payah menyiapkan sajian diskusi. Masih juga terbayang, putra-putrinya, Ismid Israr Kuncara dan Puteri Herbandari Kusdinah yang saat saya meninggalkan Solo di tahun 1996 masih kecil-kecil. Kedua putra-putrinya itu kini sudah ‘mentas’ kuliah. Ikun lulusan Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang. Sedangkan Puteri baru saja lulus dari Jurusan Akutansi Fakultas Ekonomi UNS Solo dengan nilai IPK 3,7. Luar biasa. Sama pintarnya dengan ayah dan ibunya.

kiri ke kanan: MT Arifin, Puteri Herbandari Kusdinah dan Wahjani Mudji

kiri ke kanan: MT Arifin, Puteri Herbandari Kusdinah dan Wahjani Mudji

Sudah beribu eh beratus kata saya goreskan untuk menulis memoar ini, Anda sebagai sebagai pembaca mungkin saja masih punya ganjalan tentang nama ‘MT’ di depan kata Arifin dari sosok yang kita bicarakan. Apa singkatan MT? Saya pernah menanyakan langsung tentang nama itu. Tidak ada jawaban, karena dengan lihainya Mas MT Arifin yang asal Kebumen Jawa Tengah itu mengalihkan dengan perbincangan lain. Namun demikian, saya hanya menerka-nerka, huruf M tidak salah lagi adalah Muhammad. Sedangkan huruf T singkatan dari Toha. Jadi MT Arifin, lengkapnya adalah Muhammad Toha Arifin. Hahaha.🙂

*****

Tentang Memoar Berseri:

Tulisan pertama memoar saya sebenarnya tentang perjalanan cinta dan dan lika-liku dalam berumah tangga. Namun demikian, lantaran terlalu subyektif sifatnya, maka kisah itu akan saya tulis dalam kesempatan lain.

Proyek memoar berseri ini ke depannya akan mengupas sisi-sisi kehidupan dari orang-orang dekat/saya kenal selama hayat dikandung badan. Saya akan menulis tentang sosok-sosok berkesan dalam hidup dan kehidupan, seperti guru atau dosen saya sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi. Tidak ketinggalan, senior-senior dan sejawat yang lama berinteraksi sosial dan sebagainya.

Salah satu tujuan penulisan proyek memoar berseri ini adalah menempatkan ‘nama-nama sahabat’ pula fotonya untuk menduduki tempat terhormat di hasil pencarian search engine, seperti Google, Yahoo, Bing dan mesin pencari di aplikasi media sosial. Siapapun orangnya dan di belahan dunia manapun berada, tatkala mengetikkan kata kunci (key words) nama orang tersebut akan mendapatkan hasil pertama dari tulisan-tulisan yang saya publikasi. Cukup misalnya, tulis dan ketik ‘mt arifin’, ‘budayawan solo’, ‘pembina aktivis’ maka hasil pencarian web dan gambar, Insya Allah, dalam beberapa hari ke depannya hasil pencarian tersebut mengarah ke posting yang saya publikasi.😉

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Budaya, Jejak Langkah, Profil dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Memoar 1 – MT Arifin Budayawan dan Pembina Aktivis Pergerakan Solo

  1. Mudiono Mudi berkata:

    Menarik untuk dijadikan buku. Tetapi masih terlalu pendek kupasannya. Pembahasannya semestinya melebar ke luar KSM. Tapi saya setuju sekali dengan semua paparan di atas. Saya pernah ikut diskusi itu meski bukan seorang mahasiswa. Selamat Mas Dwiki!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s