Salah Satu Kelebihan Anas Urbaningrum


anas_urbaningrum_ketua_umum_partai_demokratApa yang akan diungkapkan melalui tulisan ringan ini, hanyalah sekedar guratan kesan perjumpaan sejarah saya dengan Anas Urbaningrum semasa sama-sama aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dekade 1990-an. Lantaran hanya salah satu kelebihan, di satu sisi berarti memang Anas Urbaningrum memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Pada sisi lain –sebagaimana sekeping mata uang logam– ia sesungguhnya juga manusia biasa yang punya kelemahan-kelemahan.

Salah satu kelebihan Anas Urbaningrum semenjak ia menjabat sebagai Ketua Bidang Penelitiaan dan Pengembangan (Litbang) kemudian Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional (PPN) PB HMI Periode 1995-1997 era Taufiq Hidayat, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI Petriode 1997-1999, adalah daya ingat atau kemampuan menghafal nama-nama orang yang berjumpa dengan dirinya.

Anas tidak hanya hafal nama-nama kader HMI, namun juga asal cabang, kuliahnya atau pacarnya siapa, jika saja si kader curhat padanya. Pimpinan OKP, Kelompok Cipayung pada masa kepemimpinannya di PB HMI, tokoh-tokoh di era reformasi, atau mahasiswa yang pernah mengundangnya sebagai pembicara di suatu forum pasti ia¬† ingat namanya —sekalipun agak lama tidak bersua dengan dirinya.

Kepada orang-orang yang pernah mengorbitkan dirinya, Anas Urbaningrum juga tidak pernah lupa. Surat pribadi ucapan terima kasih (barangkali juga panggilan atau sms) ia layangkan. Semasa ia menjadi Ketua Umum PB HMI dan beberapa tahun selepasnya, saya pernah mendapat tugas untuk mengirim kartu ucapan  idul fitri khusus secara pribadi buat wartawan-wartawan yang meliput di kegiatan PB HMI atau pernah bersentuhan dengan dirinya.

Suatu hari, di kantor PB HMI pernah saya bercerita sambil lalu pada Anas Urbaningrum tentang anak sulung. Beberapa bulan kemudian, dalam suatu pembicaraan santai sembari memijat (refleksi) punggungnya di kamar kontrakan kawasan Paseban Kramat Raya ia bertanya, “Bagaimana kabar anakmu Chiara, Dwiki?” Jelas saya kaget sekaligus suprise, ia ingat nama depan anak sulung saya. Sebagai anak buah, saya tersanjung sekaligus kagum betapa ia juga memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.

Mahmuddin Muslim, seorang rekan yang kini aktif di ormas sayap PDI Perjuangan, Baitul Muslimin Indonesia, pernah berkisah pada saya. Kata Mahmuddin, “Ketika kali pertama bertemu Anas Urbaningrum, sebagaimana adab pada umumnya saya memperkenalkan diri. Anas menjabat tangan saya dengan erat seolah-olah bertemu dengan sahabat karib, sorotan matanya tertatap ke mata saya sembari ia menyunggingkan senyum.”

Selepas pertemuan yang hanya sebentar dimaksud, Mahmuddin menerawang dan menangkap kesan mendalam. Ujar dia, “Jabatan tangannya yang erat dan hangat sangat berbeda dengan kebanyakan tokoh yang pernah saya temui untuk pertama kali. Bukan sekedar ujung-ujung jari yang bersentuhan belaka….”

Kekaguman Mahmuddin bertambah manakala beberapa waktu kemudian ia bertemu kembali dengan Anas Urbaningrum. Serta merta Anas berujar, “Hai Mahmuddin Muslim, bagaimana kabarnya?” Menurut Mahmudin, “Hanya segelintir orang yang bisa hafal nama lengkap saya, apalagi momen pertemuan sebelumnya telah berlangsung lama.”

Suatu literatur mengatakan bahwa salah satu ciri apakah seseorang bersosok pemimpin atau bukan, dilihat dari apakah dia hafal atau tidak kepada orang lain atau anak buahnya. Ciri ini akan membuat seoarang anak buah menjadi setia kepada pimpinannya. Konon, sebagai contoh nyata, para jenderal dan serdadu angkatan perang Perancis sangat setia di bawah komando Napoleon Bonaparte disebabkan ia hafal nama lengkap dan asal daerah puluhan ribu bala tentaranya.

***

Apa yang saya alami dan juga kisah Mahmuddin di atas, niscaya dialami pula oleh sahabat-sahabat Anas Urbaningrum lainnya. Cara Anas bergaul dan membawa diri, apalagi dalam kapasitasnya sebagai tokoh politik atau pigur publik membuat orang yang mengenalnya secara pribadi (baik kawan maupun lawan politik) akan menaruh hormat sekaligus segan padanya.

Jika ada seseorang mencaci maki Anas Urbaningrum terang-terangan maka bisa ditengarai ia belum atau tidak mengenal pribadinya. Pasti ada sesuatu di baliknya. Atau kurang informasi detail atas apa yang dilontarkannya. Andaikata saya lawan politik Anas Urbaningrum, terlalu naif berkonfrontasi langsung mengingat akan pembawaan dan kebaikannya –setidaknya seperti yang saya kenal selama ini. Apalagi tanpa bukti-bukti kuat.

Agar tidak menyinggung perasaan dan menciderai persahabatan, sebagai aktivis politik cara paling aman bagi saya tentu meminta orang atau saluran-saluran lain untuk berkoar-koar tentang kejelekan Anas Urbaningrum. Sekalipun hati nurani terdalam saya mengingkarinya. Saya nyata-nyata memfitnahnya!

Namun demikian, dalam politik kadangkala memfitnah adalah obat mujarab untuk menjatuhkan karir politik seseorang. Mencari-cari sebatang jarum kejelekan di hamparan jerami amat susah, maka tidak ada pilihan lain kecuali menebar angin fitnah.

Sang penebar angin fitnah tidak sadar, bahwa badai yang terbentuk akan menggulung dan memporak-porandakan sendiri suatu skenario yang ‘nampak’ tersusun rapi. Membantingnya hingga sang penebar fitnah itu terkulai lemas di bibir pantai…. ;-)

*****

Foto: Koleksi Pribadi. Hasil jepretan di Munas KAHMI Pakanbaru Riau 2012. Sementara foto di bawah ini, adalah jepretan kala Reuni II PB HMI Periode 1997-1999 di R2R Cafe and Resto Pancoran pada 3 Desember 2012.

anas_urbaningrum_reuni_ pb_hmi_ 1997-1999_3

About these ads

12 gagasan untuk “Salah Satu Kelebihan Anas Urbaningrum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s