|Foto| Bahasa Indonesia Jadi Anak Tiri di Negeri Sendiri


Mas TD Asmadi, mantan wartawan Harian Kompas yang kini pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) mengunggah sebuah foto menyentak di jejaring Facebook tatkala berlangsung acara penyerahan Anugerah Serikat Perusahaan Pers (SPS) –sebelumnya bernama Serikat Penerbit Suratkabar– di Manado Sulawesi Utara, Jum’at (8/2) lalu. Mas TD menulis, “Acara penganugerahan berbagai penghargaan oleh SPS dalam rangka Hari Pers Nasional seperti berlangsung di luar negeri. Lihat saja tulisan latar belakang panggung…”

Sumber foto yang diunggah Mas TD itu sendiri berasal dari situs Deliknews.com. Terpampang dengan jelas tulisan latar belakang panggung (backdrop) tersebut: Awarding Night SPS – Telkom IPMA & InMa 2013 The Power of Innovation. Barangkali dimaksudkan agar  terlihat seksi dan lebih berkelas ketimbang memakai Bahasa Indonesia: Malam Anugerah SPS – Telkom IPMA & InMa 2013 Menyingkap Kekuatan Inovasi.

bahasa_indonesia_anak_tiri_negeri_sendiri

Pesan yang saya tangkap dari status Facebook Mas TD Asmadi, Pertama, ia sangat galau dengan ungkapan asing dimaksud lantaran penyelenggara acaranya SPS. Sebuah organisasi yang semestinya jadi benteng pertahanan utama penggunaan Bahasa Indonesia, agar ia menjadi tuan dan bukannya anak tiri di negeri sendiri.

Apabila Mas TD galau, saya rasa pada tempatnya. Di jejaring sosial Facebook, ia sudah berkali-kali mengkritisi penggunaan bahasa yang tidak pada tempatnya dari media massa yang terbit di Indonesia. Mencuat senandung keprihatinan dari apa yang digoreskannya, sekaligus pada saat yang sama mengajak kita (utamanya kaum muda) agar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Kedua, sikap inferior berbahasa. Alih-alih menunjukkan bahwa sebenarnya mentalitas kita masih terjajah. Di kedalaman lubuk hati, jatidiri kita sebagai sebuah bangsa masih inferior ketimbang bangsa lain. Ungkapan lama mengatakan, bahasa menunjukkan bangsa. Merujuk ungkapan tersebut maka arti, ciri dari suatu bangsa terpantul dari bahasanya. Segala aspek ilmu pengetahuan, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan sebagainya suatu bangsa tercermin dalam bahasanya. Lantaran  dari bahasa itu pulalah, identitas suatu bangsa dikenali.

***

kaos_malioboro_yogyakarta

Kecenderungan Bahasa Indonesia menjadi anak tiri di negeri sendiri, pada saat ini, sesungguhnya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Nama-nama perumahan, pusat perbelanjaan, produk industri hingga iklan-iklan yang bersliweran saban hari penuh dengan kosa kata asing. Pabila kita ke suatu tempat, seolah-olah sedang menjejakkan kaki di negeri antah berantah.

Apa bedanya nama Cilandak Town Square dengan Alun-alun Belanja Kota Cilandak? Tidak ada, kecuali di mata penggagasnya nama yang satu mungkin dianggap lebih berkelas dan terkesan intelek. Bakery dan roti juga nama yang sama. Tapi mengapa orang kita suka menggunakan nama toko atau produknya bakery ketimbang toko roti?  Dan masih banyak contoh-contoh lain mengindikasikan Bahasa Indonesia sudah dikebiri. Menjadi anak tiri dan bukan lagi tuan di negeri sendiri. #NgelusDada

Tidak ada pilihan lain, untuk mengembalikan dan mendudukkan agar Bahasa Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri selain penegakan regulasi tangan besi dan suri tauladan pemimpin-pemimpin negeri ini yang tengah berkuasa di setiap jenjang pemerintahan.

Regulasi dalam bentuk Undang-undang kita punya UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan. Saya ambil contoh Pasal 36 ayat (3) dikatakan, “Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warganegara Indonesia atau badan hukum Indonesia.”

Kewajiban menggunakan Bahasa Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pasal 36 ayat (3) di atas sayangnya tidak memuat tentang sanksi, baik pidana maupun perdata. Oleh karena itu diperlukan regulasi turunan yang dapat memuat ketentuan agar perorangan atau instansi apapun yang tidak melaksanakan kewajiban yang diamanatkan undang-undang ‘dipaksa’ dan ‘terpaksa’ untuk mentaatinya.

Di samping regulasi, tak kalah pentingnya agar Bahasa Indonesia menjadi tuan rumah rumah di negeri sendiri adalah suri tauladan para pemimpinnya. Tidak ada faedahnya para pemimpin mendengungkan kecintaan akan Bahasa Indonesia, namun dalam keseharian baik dalam forum resmi maupun informal, mereka mengingkari. Secara sadar atau tidak sadar.

*****

Sumber Foto Kaos Malioboro: Koleksi Sendiri.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Album Foto, Budaya, Gaya Hidup dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke |Foto| Bahasa Indonesia Jadi Anak Tiri di Negeri Sendiri

  1. Heri Purnomo berkata:

    Di negara kita ini masyarakatnya masih menurut apa kata pimpinan mas. Yang sering saya dengan, banyak para pejabat dalam dialog-dialog resmi sering menggunakan istilah-istilah asing. Dan mengucapkan sebuah kata dalam konteks dialog bahasa Indonesia pun sepertinya malu kalau menggunakan dialek lokal. contoh kata “Cina”, mengapa harus diucapkan dengan dialek inggris menjadi “caina”? Apa memang yg benar demikian ya…hehehe

    Jadi rakyat pun akhirnya ikut-ikutan, Jadi mesti mulai dari mana ya memperbaikinya? binun…🙂

  2. Kumara berkata:

    Para birokrat atau pemimpin biasanya memakai istilah asing kemungkinan biar terlihat cerdas padahal mereka membohongi jati dirinya sendiri sebagai manusia tidak berperasaan terhadap nilai-nilai kearifan bangsanya sendiri. Coba lihat istilah2 di TVMetro semuanya pakai istilah asing, seperti Headline News dan lain2. Kemungkinan sudah menjadi jamak ketika orang tidak lagi menghargai bahasanya sendiri, penghargaan terhadap bahasanya sendiri bukanlah suatu hal yang sepele. itu bagian dari kecintaan kita terhadap bangsa indonesia.
    Geli rasanya galau melihat foto di atas. Bahasa Indonesia sudah tidak ada harganya lagi di negerinya sendiri. Termasuk kita ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s