Pengetahuan Umum Siswa SD dan SMP Masih Rendah


pengetahuan_umum_siswa_sd_smp_rendahTahun 2012 lalu, iseng saya mengadakan riset kecil-kecilan tentang penyebab utama kegagalan siswa SD dan SMP yang berhasrat  masuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di situs http://www.siap-psb.com. Sebagaimana diketahui, untuk masuk RSBI (sebelum dibubarkan Mahkamah Konstitusi), para siswa dipersyaratkan mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA). Naga-naganya, banyak siswa dengan Nilai Ujian Nasional (NUN) tinggi tersingkir lantaran hasil TPA untuk Ilmu Pengetahuan Umum di bawah standar alias masih rendah. Menyedihkan, bukan?

Untuk mengetes hasil riset di atas, cobalah sesekali Anda menanyakan anak: Siapa Ketua Mahkamah Konstitusi?, Siapa Ketua Ketua KPK?, Apa Ibukota Argentina?, Kota Bagansiapiapi terletak di provinsi mana?, dan sederet pertanyaan ilmu pengetahuan umum lainnya yang tidak diajarkan di bangku sekolah. Jika kita bertanya 10 soal, dan anak bisa menjawab separuhnya saja, bolehlah dikatakan cukup bagus.

Kebalikannya, jika Anda menanyakan kepada anak pengetahuan umum yang berkaitan dengan dunia hiburan (entertainment), misalnya: Berapa orang personil grup band SM*SH, dan sebutkan tiga orang di antaranya?, Siapa dan berasal dari negara mana Justin Bieber? Siapa pemeran utama perempuan sinetron ‘Pernikahan Dini’? Apalagi jika orang tua menanyakan info terakhir bahkan gosip teranyar menyangkut artis tanah air. Kesemuanya dengan tangkas mereka jawab tanpa banyak mengernyitkan dahi bak membalik telapak tangan sembari terkekeh….

Sayang seribu sayang, pengetahuan umum berkaitan dengan dunia hiburan yang diketahui anak luar kepala, tidak tercantum dalam daftar pertanyaan TPA untuk  masuk sekolah unggulan.🙂

Menurut pendapat saya, biang keladi masih rendahnya pengetahuan umum siswa SD dan SMP saat TPA dalam penerimaan RSBI (beredar kabar tahun ajaran baru mendatang bernama Sekolah Unggulan) adalah lingkungan keluarga. Di satu sisi, sebagai orang tua, kita masih menganggungkan prestasi akademis yang ditandai target agar anak mendapat nilai tinggi (mendekati dan atau sempurna) pada beberapa mata pelajaran tertentu. Hal ini tidak salah, lantaran mata pelajaran yang termaktub dalam ujian nasional merupakan syarat utama agar si anak dapat sekolah bermutu baik di jenjang berikutnya.

Lantaran kita memakai ‘kacamata kuda’ tersebut, segala daya dan tenaga difokuskan agar  prestasi akademis anak di mata pelajaran ujian nasional sangat memuaskan. Selanjutnya, tanpa kita sadar anak dihela laksana kuda. Selepas sekolah diwajibkan kursus ini itu. Saatnya pulang ke rumah, tentu saja ia kelelahan. Jangankan untuk menaruh minat suatu peristiwa di belahan dunia tertentu, kadangkala peristiwa lokal saja mereka acuh tak acuh.

Di sisi yang lain, di lingkungan keluarga kita membiasakan budaya menonton ketimbang budaya membaca. Pada keluarga kelas menengah ke atas, yang namanya berlangganan tv kabel atau satelit sudah jamak. Sekarang, luangkan waktu sejenak untuk intropeksi diri, saluran-saluran tv apa saja yang selama ini ditonton anak? Niscaya mereka terpaku pada saluran-saluran hiburan ketimbang saluran pengetahuan umum, misalnya, National Geographic atau The National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Sementara itu, di ruang-ruang keluarga kebanyakan, televisi menyala sepanjang hari. Hampir bisa dipastikan, para ibu rumah tangga lebih suka tayangan hiburan (mulai acara gosip, musik hingga sinetron) ketimbang acara yang memperkaya khazanah pengetahuan umum anak (yang sayangnya mendapat porsi ala kadarnya di stasiun-stasiun tv).

Seumpama anak di rumah tidak ikut menonton tayangan hiburan tersebut, ia mendengarkan dari kamar pribadinya mulai dari samar-samar hingga jelas, acara-acara hiburan yang ditonton orang tuanya. Tidak sedikit dari mereka kemudian bergabung dengan orang tua untuk menyaksikan tayangan tv tersebut. Lebih mencengangkan lagi, kadangkala orang tua ‘membutuhkan’ anaknya untuk mendiskusikan acara hiburan yang baru saja ditontonnya.😉

Budaya membaca di lingkungan keluarga, dapat terpola lantaran kebiasaan (habit). Apabila orang tua di rumah terbiasa dengan bacaan (buku, majalah, koran dan sebagainya), anak pun akan terpola mengikuti contoh yang ditunjukkan sang orang tua. Tugas orang tua jadi lebih ringan, ia tinggal mengarahkan dan menyediakan bacaan-bacaan apa saja yang digemari anak.

Di samping kebiasaan dari orang tua, budaya membaca dapat diciptakan. Orang tua mungkin saja tidak terbiasa dengan bacaan, namun ia dapat menciptakan iklim keluarga yang kondusif agar anak menyukai bacaan. Yaitu dengan menyediakan bacaan-bacaan tertentu yang tidak musti baru dan mahal harganya. Berlangganan koran, atau membeli majalah-majalah bekas tertentu di pasar loak dengan harga miring, lambat laun namun pasti anak akan membacanya.

Bergandengan dengan hal di atas, orang tua dapat menerapkan ‘jam wajib belajar’ keluarga. Di mana dalam jam-jam tersebut, segala hal yang tidak berhubungan dengan aktivitas belajar anak dihentikan sementara waktu. Jam wajib belajar pun jangan dipahami semata-mata anak mengerjakan tugas atau membaca pelajaran sekolah. Kita juga bisa memberi tugas anak, contohnya, mengisi teka-teki silang (TTS). Atau memberi tambahan pelajaran agama yang dimengerti dan dikuasai orang tua. Pendek kata, dalam jam wajib belajar, anak dirangsang guna memperkaya khazanah pengetahuan secara luas.

Pengetahuan umum didapat dari membaca. Tentunya membaca yang berhubungan dengan bacaan-bacaan pengetahuan umum. Salah satu contohnya buku ensiklopedi. Pula bisa terserap melalui melihat tayangan-tayangan (tv atau video) yang bernuansa pengetahuan umum. Apabila dua aktivitas tersebut jarang dilakukan anak, berbanding lurus pengetahuan umumnya rendah.

Pada intinya, perlu ada keseimbangan antara ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah dengan yang tidak diajarkan. Anak jangan terlalu diberi beban untuk menguasai pengetahuan tertentu (dalam hal ini mata pelajaran yang di-UN-kan), namun mengabaikan pengetahuan umum.

Kesemuanya penting. Tidak saja seperti saya contohkan untuk menjawab pertanyaan dalam TPA saja agar mereka mendapat sekolah idaman. Tatkala suatu ketika mereka terjun ke masyarakat, kadangkala pengetahuan umum yang dimengerti dan dikuasai akan membantu mereka cepat memecahkan suatu masalah.

*****

Sumber Gambar: http://archives.democrats.science.house.gov

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Pengetahuan Umum Siswa SD dan SMP Masih Rendah

  1. Hotel di Bandung berkata:

    artikel yang sangat bagus,..
    Aku sangat setuju dengan penggalan kalimat “Anak jangan terlalu diberi beban untuk menguasai pengetahuan tertentu (dalam hal ini mata pelajaran yang di-UN-kan)”
    semoga bisa menginspirasi banyak orang akan pentingnya pengetahuan

  2. mebel jepara berkata:

    ayo….sukses hadapi UN…
    UN bukan hal yg menakutkan lagi.

  3. Heri Purnomo berkata:

    Pengetahuan umum ya mas. Ini yang masih memprihatinkan saya sama anak2 saya. kegemaran membaca masih kurang, malah getol main game atau facebook di internet. Padahal buku-buku di rumah lumayan banyak lho mas. Kadang saya pancing dg mengajaknya ke Toko buku, tapi seringnya kurang berminat terhadap buku-2.
    duh, gmn lagi ya caranya.

    mas Dwiki, saya juga nulis di kompasiana mas.
    dan sekarang lagi nyoba aktif di blog pribadi.
    sesekali mampir ya mas.
    trims
    HP

    • Dwiki berkata:

      Mas Heri Purnomo yang baik. Cara efektif agar anak gemar membaca ya dengan contoh. Apabila Mas Heri dan istri di rumah gemar baca, lambat laun anak juga akan mengikuti. Selain daripada itu, sebagai orang tua kadang diperlukan ‘ketegasan’. Sebagaimana saya kemukakan di posting, cobalah menerapkan ‘jam wajib belajar’ setiap harinya di rumah. Katakanlah dua atau tiga jam setiap harinya. Contoh, ‘jam wajib belajar’ diterapkan mulai Pukul 18.00 – 21.00 waktu setempat. Di mana pada jam tersebut segala aktivitas di rumah yang tidak ada kaitannya dengan ‘belajar’ distop semenentara waktu. Tidak ada gunanya menerapkan ‘jam wajib belajar’, sementara Anda atau istri malahan asyik nonton televisi.😉

  4. boyin berkata:

    betul banget mas, anak jaman sekarang lebih hapal sinetron dibandingkan pengetahuan umum…untuk mengubah prilaku memang rada sulit karena kebanyakan TV adanya di ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang belajar, sehingga sulit juga untuk ortu menahan diri untuk tidak nonton TV sedangkan kalo mau nonton, anaknya yang nguping…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s