Kisah PB HMI: Menimbulkan Kesan Tertentu Seseorang


agussalim_sitompul_dan_dwiki_setiyawan_munas_ix_kahmi_pekanbaru_riau_2012Pada Ulang Tahun Ke-13 Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) di Bhirawa Asembly Komplek Bidakara Pancoran Jakarta Selatan beberapa hari lalu saya bertemu dengan Umar Husin, Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan PB HMI Periode 1995-1997 era kepemimpinan Taufiq Hidayat. Kini ia berprofesi sebagai pengacara, dan banyak menangani konsultasi hukum Manajemen Republik Cinta kepunyaan Ahmad Dani. Di jalur politik, beliau aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pemilu Legislatif Tahun 2009, nyaris saja ia terpilih sebagai anggota DPR-RI Daerah Pemilihan Jawa Timur V (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu).

Ngobrol-ngobrol sembari mendengarkan orasi ilmiah Jusuf Kalla malam itu yang kurang menggigit, rupanya Umar Husin terkesan dengan tulisan ringan di milis Kahmi Pro Network tatkala saya membicarakan soal dirinya dengan Zulkenedi Said. “Dwiki, kamu masih ada cerita-cerita ringan lain tentang PB HMI saat itu?” tanya dia. Saya jawab, “Masih habib. Cukup banyak. Besok-besok saya tulis kembali.” Nah, kini saatnya saya mengeluarkan satu kisah dari perbendaharaan memori: tentang Wayan Mulus Bambang Irawan, kader HMI Cabang Jakarta Cilosari, yang menjabat Departemen PB HMI Periode 1995-1997.

Di mata pengurus Bakornas Lembaga Kekaryaan dan kader HMI daerah yang datang ke markas Diponegoro 16-A, Wayan adalah sosok fungsionaris PB HMI yang ditakuti. Sosok lainnya yakni almarhum Iwan Metro. Bagaimana tidak? Saat jam makan siang, kalau ada pengurus bakornas dan kader daerah, dimintanya mereka minggir dari area dapur gedung sayap PB HMI. Kata dia, prioritas utama makan siang adalah untuk fungsionaris PB HMI. Padahal, urusan makan siang kalau perut sedang keroncongan kan tidak bisa ditunda atau antri lebih dahulu?

Selain soal makan, adalah soal tidur di ruang rapat lantai dua (diubah jadi selasar tidur dengan menggunakan matras atau bahkan di meja rapat). Kalau ada Wayan, jangan harap pengurus bakornas atau kader daerah yang sedang tandang ke PB HMI bisa menikmati “fasilitas tidur mewah” di ruangan rapat. Saking takutnya mereka pada Wayan.

Larangan lainnya dari Wayan soal penggunaan komputer di lantai dua. Di luar fungsionaris PB HMI tidak boleh memakai komputer yang ada. Pada masa itu PB HMI memiliki tiga komputer, satu komputer untuk menyimpan berkas-berkas penting internal di ruangan khusus, dan dua lainnya di ruangan sebelum masuk ruang rapat. Masih menggunakan program pengolahan kata WordStar (WS). Untuk menjalankan sistem operasi itu musti memasukkan MS-DOS (Disk Operating System). Perintah-perintah yang masih saya ingat pada MS-DOS antara lain: dir a: Menampilkan file dan directory pada drive A, dir /p Menampilkan file dan directory per halaman, dir /w Menampilkan file dan ren Mengganti nama file.

Belum lagi saat mengetik pakai WS. Banyak sekali perintahnya. Misalnya, kontrol KS atau menekan F9 berarti menyimpan file tetapi berada dalam edit screen. Jadi kalau lupa menekan F9  dan sudah mengetik puluhan halaman tiba-tiba listrik padam, maka hilanglah berkas itu. Menebalkan kata atau kalimat, membuat kata atau kalimat jadi miring, dan menggarisbawahi kata atau kalimat juga perintahnya membuat pening bagi yang tidak terbiasa menggunakan.

Saat kali pertama datang ke PB HMI Diponegoro tahun 1996, saya menjabat Ketua Bidang Diklat Bakornas LAPMI di masa kepemimpinan Ivan Rahmawan (kader HMI Cabang Ciputat). Sementara Alfan Alfian menjadi Ketua Bidang Penerbitan. Beberapa bulan kemudian Alfan Alfian diangkat menjadi Ketua Umum Bakornas LAPMI lantaran Ivan tidak aktif di kepengurusan. Teman lain yang dibawa Ivan Rahmawan memperkuat Bakornas LAPMI dari HMI Cabang Ciputat, antara lain Bakir Ihsan dan Moammar Emka.

Lantaran saya dan Alfan Alfian suka menulis di media massa saat itu (semata-mata dengan motivasi menyambung hidup), maka ‘peraturan’ tidak boleh menggunakan komputer di PB HMI dari Wayan merupakan siksaan tersendiri. Untuk menyiasatinya, maka saat Wayan tidak ada di tempat (biasanya malam hari ia keluyuran), komputer yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memproduksi artikel media massa.

Kebiasaan yang saya perhatikan dari Wayan, jam-jam antara pukul 09.00 – 11.30 WIB, ia nongkrong di dekat telepon umum. Untuk apa? Ternyata dia menunggu pak pos yang datang mengantar surat-surat untuk PB HMI. Soal yang ini barangkali saja ia diperintahkan khusus Ketua Umum PB HMI, atau bisa juga itu inisiatifnya sendiri untuk “carmuk” dihadapan ketua umum saat mempersembahkan surat penting yang ditujukan kepada ketua umum. Saya pun menduga, lantaran ia “penyambut setia” pak pos, jangan-jangan ada surat undangan khusus yang ia gunakan dan datangi sendiri.🙂

Hubungan saya dengan Wayan datar-datar saja. Kalaupun diusir saat tidur di ruangan rapat atau matras yang sedang dipakai dimintanya, walau dengan menggurutu dalam hati ya saya berikan. Menyadari kalau pengurus bakornas di PB HMI saat itu sebagai warga kelas dua.

Di suatu malam yang larut, sepulang dari rumah alumni, saya lihat Wayan sedang merokok di dudukan teras lantai satu sebelum naik tangga ke ruangan rapat. Saya menyapa, mengobrol basa basi dan kemudian menemaninya. Beberapa saat kemudian, saya pinjam korek api padanya. Mau merokok juga. Saya ambil beberapa biji pentolan korek api, lantas saya kembalikan. Sebatang rokok sudah siap tersulut di mulut. Tanpa pasangan pentolan korek api, mustahil menimbulkan api. Ia perhatikan saya. Nampak menyelidik. Dengan gerakan tertentu saya nyalakan sebatang pentolan korek api itu dari sol sepatu kiri. Wusssshhhh… api menyala, dan dengan tenang saya menghisap dalam-dalam sebatang rokok tersebut.

Rupanya Wayan takjub saya bisa menyalakan pentolan korek api hanya lewat sol sepatu. “Hebat kamu Dwiki,” katanya (mungkin) terkagum-kagum. Pura-pura bodoh, kemudian saya bilang pelan padanya, “Pak Wayan, sebelum ke Jakarta ini saya sudah dibekali tenaga dalam oleh Kyai NU di Solo. Cuma saya kan tidak perlu menunjukkan pada teman-teman di PB HMI ini jikalau saya memiliki ilmu tenaga dalam itu, bukan?” Ia pun manggut-manggut.

Semenjak kejadian malam itu, sikap dan perlakuan Wayan Mulus Bambang Irawan pada saya berubah. Terkesan tidak lagi menyepelekan anak daerah seperti saya yang baru datang ke Jakarta.😛

Padahal, sesungguhnya ia saya tipu. Kena batunya. Sol sepatu yang bisa menyalakan pentolan korek api di atas sebelumnya sudah saya tempel dan lem guntingan kertas abu-abu pasangan pentolan korek apinya….

*****

Ilustrasi Gambar: Agussalim Sitompul, sejarawan HMI bersama Dwiki Setiyawan di arena Musyawarah Nasional (Munas) IX KAHMI, 30 November – 1 Desember 2012 di Hotel Labersa Pekanbaru Riau.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kisah PB HMI: Menimbulkan Kesan Tertentu Seseorang

  1. ghazy ghaza berkata:

    jail juga kanda

  2. Setelah lama menderita diabetes, siang ini beliau pergi untuk selamanya, memenuhi janjinya sebagai hamba-NYA.
    Inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Allahummagfirlah, warhamh, wa’afih, wa’fuanh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s