Malas Adalah Penyakit Umum Para Blogger


Anda boleh sepakat untuk tidak sepakat dengan pernyataan saya ini, bahwa malas adalah penyakit umum para blogger. Tak perlu tunjuk hidung ke sana ke sini, saya sendiri pun sesungguhnya mengidap penyakit malas itu. Tahun 2012 ini saja, bulan April, Mei, Juni dan Agustus tidak ada satupun posting baru yang dihasilkan. Keterlaluan.

Ada sebuah kata bijak menyatakan, “Seorang pemalas di atas punggung unta akan belajar kembali tentang perjalanan.” Bila ditafsirkan dalam konteks dunia tulis-menulis atau blogging, apabila kita malas maka memulai kembali menyusun rangkaian kata menjadi tulisan yang enak, runtut dan mengalir akan tertatih-tatih.

Untungnya saya tidak mengalami masalah menulis tertatih-tatih itu. Yang lebih gawat lagi, lantaran malasnya, ada seorang blogger yang lama tidak memperbaharui konten blognya sampai lupa akan password blog yang dikelolanya. Kalau yang satu ini: sangat keterlaluan!

Padahal, dalam bulan-bulan kosong posting tersebut banyak peristiwa, kejadian, atau momen penting yang dilalui dan mustinya bisa menjadi tulisan baru. Namun karena malas mendera entah kenapa (sebenarnya tidak ada apa-apa), hasrat menggebu memperbaharui konten blog menjadi surut dilindas sang waktu.

Alih-alih blog yang tengah Anda baca ini tidak jelek jika dilihat dari statistik pengunjung yang menyambangi. Walau lama tidak update tulisan, setiap harinya kurang lebih 1.500 (seribu lima ratus) pengunjung unik ‘terpelanting’ eh ‘tersesat’ di belantara blog ini Berikut screenshot-nya:

Dari jumlah 1.500 pengunjung unik di atas, sumbangan terbesar klik dihasilkan dari posting-posting tentang sampul kronologi Facebook. Angkanya mencapai lebih dari 75%. Sisanya dari tulisan-tulisan lain yang kebetulan nangkring di halaman satu mesin pencarian Google.

Posting-posting termasuk gambar-gambar tentang sampul kronologi Facebook awalnya di salin tempel (copy paste) habis oleh blogger-blogger lain (yang tentunya secara intrinstik lebih malas ketimbang saya).🙂 Beberapa minggu, posting saya tentang sampul kronologi Facebook terjun bebas di hasil pencarian Google. Untunglah, Google berbaik hati. Mesin pencarian canggih itu tahu mana posting orisinil dan posting hasil copy paste. Dan alhamdulillah, posting-posting saya tentang sampul kronologi Facebook ‘diakui’ Google sebagai posting orisinil, dan pelan namun pasti bertengger kembali di singgasana hasil pencarian (sembari garuk-garuk kepala tanda salut pada Google). 

***

Selanjutnya, bagaimana mengobati malas sebagai penyakit umum para blogger? Jawabannya jelas pertama ditujukan pada diri saya sendiri. Dan bila memang dirasa sesuai dengan yang Anda rasakan, resep berikut bisa diuji.

Pertama, mencintai blog miliknya sepenuh hati. Tentunya kita tidak rajin memperbaharui konten blognya, apabila rasa cinta sepenuh hati kepada blog miliknya itu memudar. Perasaan menicintai sepenuh hati tersebut kita buktikan dengan bentuk perhatian. Dalam arti yang luas, perhatian dipraktekkan dengan melongok dasbor blog secara rutin. Lantaran dari dasbor admin tersebut kita dapat meraba-raba pengunjung blog: dari mana mereka, apa yang mereka sukai dari posting kita dan seterusnya. Dari situ terbit inspirasi untuk membuat posting-posting baru.

Kedua, tahu dan memahami tulisan yang disukai pengunjung. Kadang-kadang kita sebagai blogger terlalu percaya diri bahwa apa yang kita sukai dalam menulis berbanding lurus dengan yang dimaui dan disukai pengunjung. Ada juga yang menyatakan terserah mau menulis apa, mau dibaca atau tidak ada masalah. Jelas itu asumsi salah. Sebenarnya mudah, tahu dan memahami tulisan yang disukai pengunjung adalah tulisan yang kita buat itu memberi manfaat atau pencerahan bagi seseorang. Salah satu indikatornya adalah komentar pengunjung yang menyertai tulisan. Walaupun itu bukan sesuatu yang mutlak, kadang banyak pula pengunjung menyukai tulisan kita tanpa meninggalkan jejak apapun. Dan mohon maaf, biasanya seorang pencuri konten (copy paster) melakukan tindakan seperti yang saya goreskan terakhir.🙂

Ketiga, langsung aksi. Menunda-nunda menuangkan gagasan ke dalam tulisan adalah bibit penyakit malas. Oleh karena itu, begitu ada gagasan melintas di langit pikiran sebaiknya langsung dituangkan menjadi tulisan baru di blog yang kita kelola. Soalnya, kalau kita tidak langsung aksi maka gagasan yang melintas akan menjadi basi.

Bukankah begitu, sahabatku yang baik hati?

*****

sumber gambar di awal posting: http://www.supercoloring.com/pages/lazy-programmer

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah, Petak Ide dan tag , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Malas Adalah Penyakit Umum Para Blogger

  1. jayboana berkata:

    setuju kang kita kadang malas kalo topik yang mau ditulis ditunda tunda alhasil bakalan diluapakan dan gak jadi nulis di blog malas lah itu namanya hehe.
    samalam. mantaps banget yah trafiknya di atas angin euy🙂

  2. Semar Bingung berkata:

    Betul sekali Sobat. Oleh karena itulah untuk menjauhkan diri dari rasa malas maka tiap kali saya menemukan ide (inspirasi), saya langsung mencatat judul untuk inspirasi artikel itu. Sehingga saya tidak lupa dg materi yg akan tulis dan kemudian diterbitkan, karena telah memiliki daftar topik (judul) untuk disusun artikelnya.

    Satu hal yg terkadang jadi kendala saya adalah waktu yg sangat terbatas untuk menyusun artikel.

    Btw, salam kenal, salam berbagi, & bila bila berkenan silakan kunjung ke blog saya.

  3. tukarinspirasi berkata:

    bener gan, apalagi kalau yang niatnya ngblog buat cari uang tambhan g dapet2 heheh

  4. Nto' berkata:

    wah, mas dwiki ini jago ya. jarang di-update tapi pengunjungnya banyak
    saya sering posting, tapi yang berkunjung ‘sudah’ puluhan

  5. yulius berkata:

    artikel diatas itu membimbing sekaligus menyemangatkan saya ngeblog gan,makasi!

  6. honeylizious berkata:

    sebenarnya kalo malas posting memang pernah dialami blogger mana pun sehingga saat rajin saya sudah menyiapkan puluhan tulisan yang tidak akan basi meskipun dipostingnya terlambat.

    contohnya fiksi.

    jadi blog saya jarang kosong setiap hari, kadang malahan kelebihan muatan.

    masalah internet malah lebih mengkhawatirkan dibandingkan kekurangan tulisan buat diposting.
    Soalnya saya selalu menyemangati diri saya, bahwa 10 atau 100 tahun akan datang, bagi keturunan saya, tulisan saya adalah harta yang berharga. Bisa jadi saat mereka membacanya saya udah nggak ada, jadi kalo ada rasa malas, saya masih berusaha untuk memaksa diri saya agar mau menulis🙂

  7. Titik Asa berkata:

    Posting ini cukup memberi semangat kpd saya untuk rajin nulis di blog. Bagi saya, nulis apa saja yang penting tidak berbau SARA.
    Dahsyat blognya Kang. Salut…
    Salam,

  8. sulapinah berkata:

    kubaru kenal bloger,jujur untuk belajar ini kusangat tertatih-tatih,tidak mudah bagiku untuk melangkah,hanya untuk klik saja banyak hambatan,tapi kuterus berusaha tiwaktuku yang sempit ini,maklum bby sitter yang harus siap 24 jam,malas bagiku hanya merugikan diri sendiri karena kita nggak jadi produktif,dan kudibimbing Qur’an,di alam nasroh itu diajarkan,setelah tugas satu selesai maka kerjakan tygas yang lain,trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s