Impor Pangan Indikator Ketidakseriusan Pemerintah Merevitalisasi Sektor Pertanian


Pemerintah tidak serius untuk menterjemahkan secara detail konsep revitalisasi sektor pertanian. Impor pangan adalah indikator ketidakseriusan pemerintah tersebut. Di samping itu, bukti ketidakseriusan pemerintah terlihat dari nilai tukar petani (NTP) yang cenderung mengalami penurunan.

Demikian pernyataan Anggota DPR Komisi IV Viva Yoga Mauladi dalam diskusi akhir tahun Akbar Tandjung Institute (ATI) bertajuk “Kebijakan Pertanian di Tengah Pragmatisme Politik” di Jakarta, Jum’at (23/12) lalu.

Menurut Viva Yoga Mauladi,  pada tahun 2012, kondisi kebijakan pangan nasional tidak akan berubah secara signifikan. Krisis pangan masih terjadi, dan ditopang dengan impor yang tidak diatur secara baik dan tidak memproteksi petani.

“Setiap tahun, pemerintah Indonesia mengeluarkan devisa setara kurang lebih Rp 50 trilyun untuk mengimpor komoditas pangan,” ujar Viva Yoga yang juga politisi Partai Amanat Nasional itu. Adapun nilai impor komoditas pangan dimaksud, sambung Viva Yoga, meliputi: kedelai sebesar Rp 5,97 trilyun, gandum Rp 22,5 trilyun, gula Rp 8,59 trilyun, susu (bahan baku dan olahan) Rp 7,95 trilyun, daging sapi Rp 4,8 trilyun dan garam Rp 900 milyar.

Mengenai kegemaran impor komoditas pangan di atas, menurut Viva Yoga Mauladi, disebabkan ada pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan dari kebijakan impor karena harga komoditas pangan dan hortikultura di pasaran internasional merupakan sutu barang yang tidak berlaku lagi di negara produsesn (residual goods). Atau barang kadaluwarsa di stok nasional atau over produksi sehingga dijual di pasar dengan harga murah.

Di samping itu, kata Viva Yoga lebih lanjut, kesukaan impor komoditas pangan juga merupakan kerjasama antara pengambil kebijakan dengan pihak swasta. Di mana kebijakan yang diambil tanpa mempertimbangkan kepentingan negara dan petani. Ia lantas mengajukan pertanyaan retoris, “Di saat petani panen raya, pemerintah melakukan impor. Mengapa?”

***

Foto-foto terkait:

*****

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Impor Pangan Indikator Ketidakseriusan Pemerintah Merevitalisasi Sektor Pertanian

  1. yadi berkata:

    ya betul terjadinya penurunan inpor pangan dikarenakan tidak ada keseriusan pemerintah dalam memerhatikan penurunan tersebut… tetapi yg harus dibawahi adalah pengembangan areal sekrtor pangan secara berkualitas diindonesia…dan saling mengutungkan yg melibatkan bebbagai macam pihak….. dan tidak ada penyimpangan kepentingan yg dlm merugikan pangan2 di indonesia…
    sudah saatnya kita bangkit dalam mengembangkan pangan…yang menjadi indentitas atau ciri khas dari bangsa ini….

  2. Tukeran Link berkata:

    Bisa Tukeran link gak mas??? salam sukses!

  3. saya habis membaca artikel di blog anda ini. sangat inspiratif dan mencerahkan. Thanks informasinya tentang pertanian.Mari kita majukan pertanian di indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s