In Memoriam Susanto Kartubij


Rakhmat Hidayat di kota Lyon Perancis

Rakhmat Hidayat di kota Lyon Perancis

Melengkapi tulisan saya sebelumnya Mengenang Kepergian Susanto Kartubij, Saudara Rakhmat Hidayat, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang kini tengah mengambil program Doctorat Sciences de l’Education di Université Lumière Lyon Perancis menulis kesan-kesannya terhadap diri almarhum Susanto Kartubij.

Saudara Rakhmat Hidayat merupakan alumni Jurusan Sosiologi Fisip Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah. Ia menyelesaikan studi S2 Program Studi Sosiologi Universitas Indonesia. Saat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto Periode 2001-2002.

Atas seizin Saudara Rakhmat Hidayat, kesan-kesan dari sudut pandang lain mengenai almarhum Susanto Kartubij sengaja saya share di blog ini. Semoga berkenan.

***

ki ke ka: Joni Nur Ashari (kini Kadivre Perum Dolog Kalimantan Tengah), Susanto Kartubij dan Saefudin AM

ki ke ka: Joni Nur Ashari (kini Kadivre Perum Dolog Kalimantan Tengah), Susanto Kartubij dan Saefudin AM

Pertemuan  saya dengan Susanto Kartubij sangat  singkat.  Perkiraan  saya,  Mei  1999. Ketika  itu  kami  menjadi  peserta  Pusat Pendidikan Latihan  (Pusdiklat)  Nilai Identitas  Kader  (NIK) yang diselengarakan Badko  HMI  Jawa Bagian Tengah (sekarang  Badko Jateng-DIY) dibawah  kepengurusan M.Yulianto sebagai Ketua Umum-nya. Saat itu  HMI  masih menggunakan  NIK.  Pada  Kongres  HMI  di  Jambi  tahun  1999,  secara  resmi  NIK  berubah menjadi Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Dalam training tersebut untuk pertama kalinya saya mengenal sosok Susanto Kartubij. Senior dari HMI Cabang Surakarta yang saat itu menjadi salah satu instruktur dalam Pusdiklat tersebut. Dosen di Jurusan Komunikasi itu akrab dipanggil Santo oleh rekan-rekannya di HMI Cabang Surakarta. Pusdiklat itu sendiri diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari Pengurus Bidang Pembinaan Anggota (PA) komisariat dan Bidang  PA  Cabang  se  wilayah  Badko  Jabagteng. Saya  saat  itu  masih  di  komisariat.

Selain  Susanto, terdapat beberapa instruktur  lainnya diantaranya almarhum Munir,  Harun ‘Songge’  Al Rasyid, Dr. Umar Jeni, Tatang Badrutamam, Joni Nur Ashari, dan Sutarto. Masing-masing instruktur membawakan materi yang ada di  NIK  dan  dikaitkan  dalam  konteks  kontemporer.

Secara  persis  saya  tidak  mengingat  lagi  materi  apa yang  disampaikan  Mas  Santo  tersebut. Tetapi,  satu  hal  yang  saya  ingat  adalah  analisa  beliau  tentang pemikiran  Jurgen  Habermas  tentang  kritik  sosial  dan  diskursus  ruang  publik  dalam  analisa  kritisnya tentang  NIK. Saya  kira  sebagai  mahasiswa  sosiologi  ketika  itu,  saya  sangat  akrab  dengan  pemikiran Habermas.

Susanto Kartubij bersama keluarga

Susanto Kartubij bersama keluarga

Saat  itu  memang  pemikiran  Habermas  juga  digandrungi  oleh    kalangan  aktivis  dalam berbagai  diskusi  di  berbagai  daerah.  Sebagai  ahli  komunikasi,  tentu  saja  Mas  Santo  sudah  sangat mendalami  secara  komprehensif  pemikiran  Habermas.  Hal  tersebut  bukan  tanpa  alasan  karena pemikiran  Habermas  juga  menjadi  rujukan  dalam  berbagai  studi  komunikasi.  Seingat saya,  Mas  Santo memberikan sebuah makalah singkat dari materi yang disampaikannya ketika itu.

Dalam paparannya ketika itu, saya  sangat menikmati penjelasannya yang kritis  dan  runtut. Ada nuansa baru  mendalami  Habermas  dari  perspektif  komunikasi  yang  disampaikan  Mas  Santo. Maklum  saja, diskusi soal Habermas selama ini lebih banyak kami lakukan dalam perspektif sosiologis bersama teman-teman di  Jurusan Sosiologi Unsoed maupun diskusi-diskusi di kelas bersama dosen. Sesungguhnya saya bersyukur dan beruntung bisa menghadiri acara yang digelar di Kampus IKIP Semarang (sekarang Unnes) ketika  itu.

Ada  beberapa  alasan.  Pertama,  instruktur  yang  dihadirkan  panitia  memiliki  kompetensi  di bidangnya masing-masing. Almarhum Munir misalnya, dengan pengalaman advokasi HAM membawakan materi tentang kemanusiaan yang sangat kuat diajarkan oleh NIK. Instruktur lain adalah Dr  Umar Jenie yang membawakan materi tentang IPTEK yang juga sangat kuat pesan moralnya dalam kajian NIK. Harun ‘Songge’  yang  dikenal  sebagai  pakar  NIK  dari  Dagen  (HMI  Cabang  Yogyakarta)  juga  sangat  ditunggu-tunggu  oleh  peserta  di  setiap  training  HMI  terutama  LK  2  maupun  training  Senior  Course  (SC)  untuk materi Pendalaman NIK. Seingat saya juga ada salah seorang instruktur lainnya yang memiliki konsultan di  daerah  Yogyakarta. Saat  itu  beliau  membawakan  materi  tentang  kewirausaahan  yang  dikaitkan dengan prinsip amal usaha dan amal sosial NIK.

Kedua, sampai saya berkarir  di HMI hingga akhir 2002, acara tersebut tidak lagi diselenggarakan oleh Badko HMI Jateng-DIY. Padahal training seperti itu sangat bermanfaat untuk kader-kader di komisariat maupun cabang.

Mei 2010. Saya  bersilaturahmi dengan  Narno Supangat  di kediamannya, Denpasar  Bali dalam rangkaian tugas  dari  Kemendiknas.  Narno  adalah  Ketua  Panitia  Pusdiklat  tersebut.  Kami  banyak  bernostalgia tentang Pusdiklat tersebut. Saya didampingi  seorang  kader HMI  Cabang Denpasar berbincang santai  di depan  teras  Mas  Narno  mulai  pukul  19.30  wib dan  berlanjut  dengan  makan  malam  di  sebuah  restoran dikawasan  Denpasar.

Perbincangan  tersebut  berhenti  sekitar  pukul  00.30  wib setelah  saya  pamit  dari kediaman Mas Narno. Sudah lama saya tak jumpa dengan Mas  Narno. Seingat  saya terakhir perjumpaan di penghujung  tahun 1999  atau awal 2000 ketika berlangsung kegiatan  Senior Course (SC) yang khusus  diselenggarakan oleh HMI  Cabang  Purwokerto  di  Baturaden.  Saat  itu  beberapa  pengurus  Bidang  PA  Badko  Jabagteng membantu  penyelenggaraan  kegiatan  SC  tersebut  sekaligus  memfasilitasi  terbentuknya  Lembaga Pengelola Latihan (LPL).

Banyak  informasi  yang  saya  dapatkan  darinya  tentang  ‘behind  the  scene’  kegiatan  tersebut.  Saya sampaikan  ke  dia  bahwa  Pusdiklat  tersebut  melahirkan  alumni-alumni  yang  sekarang  tersebar  dalam berbagai  profesi.  Selain  saya,  ada  juga  Sigit  Pamungkas  yang  menjadi  pengamat  politik    dari  FISIPOL UGM. Saya ingat betul  ketika itu, Sigit bercerita kepada saya, sebelum  dia  mengikuti  kegiatan Pusdiklat ke Semarang, baru saja berkampanya golput bersama kader-kader lainnya dari HMI Cabang Bulaksumur.

Saat itu memang, kegiatan Pusdiklat   bersamaan dengan ajang Kampanye Pemilu 1999. Pemilu pertama yang digelar pasca  reformasi. Selain Sigit, ada juga Asma  Luthfi, kader dari HMI Cabang Jogjakarta yang saat ini  menjadi  Dosen  Jurusan  Sosiologi  Unnes  Semarang.  Dari  HMI  Cabang  Surakarta ada juga  Emi Panca yang berasal dari Komisariat Fisip UNS. Emi Panca saat ini aktif mengelola kegiatan pemberdayaan masyarakat di  sebuah  LSM,  di  Semarang.

Ada  beberapa  alumni  Pusdiklat  lainnya  yang  tak  bisa  diingat  lagi  satu persatu. Setelah  pertemuan  dengan  Mas  Santo  di  Pusdiklat  NIK,  sudah  putus  komunikasi  saya.  Pada  saat booming Facebook, komunikasi itu kembali berlanjut.Saya mengadd beliau sekitar awal tahun 2010. Saya terus  mengikuti  setiap  up  date statusnya  di  Facebook. Meski  tidak  terlalu  dekat  karena  saya  bukan berasal  dari  HMI  Cabang  Surakarta,  tetapi  kedekatan  di  Pusdiklat  menjadikan  kami  lebih  akrab.

Beberapa kali  saya  berdiskusi tentang sosok dan kiprah  beliau dengan A. Khaerul Fahmi, sesama  alumni dan senior dari HMI Cabang Surakarta. Saya dengan Mas Fahmi sering berdiskusi berbagai hal. Kedekatan saya  dengan  Mas  Fahmi  ketika  beliau  aktif  di  Bakornas  LAPMI. Kebetulan  rumah  beliau  di Ajibarang, Purwokerto. Kakeknya memiliki Pondok Pesantren di daerah Ajibarang. Karena kedekatan kami, kader-kader dari HMI Cabang Purwokerto khususnya Komisariat Fisip Unsoed sering mengadakan LK I di pondok pesantren. Selain tempatnya gratis dan  nyaman kami juga sering mendapatkan wejangan dan tausiyah dari almarhum kakeknya Mas Fahmi, kyai di pondok tersebut.

Desember  2010.  Saya  mendapatkan  no  HP  Mas  Santo  dari  Mas  Fahmi. Saya  menyapa  beliau  dengan memperkenalkan  diri terlebih  dahulu. Ketika saya  sampaikan  bahwa saya  adalah  peserta Pusdiklat  NIK Tahun  1999  yang  mana  Mas  Santo  sebagai  salah  satu  instrukturnya,  beliau  menyampaikan  ungkapan rasa  senangnya  karena  silaturahmi  terus  berlanjut. Apalagi  saya  mengabarkan  kepada  beliau  tentang karir akademik  saya di  Jurusan Sosiologi  UNJ  Rawamangun. Sebagai seorang senior, pasti akan senang dan  bangga  jika  adik-adiknya  bisa  sukses  berkarir  di  bidang  dan  profesinya  masing-masing. Kesan  itu yang saya tangkap dari beliau meskipun kami tidak dilahirkan dari rahim perkaderan yang sama.

Tujuan utama  saya  menghubungi beliau  adalah  untuk  mendapatkan  no telepon  Dr  Andrik  Purwasita,DEA,  dosen  Komunikasi  UNS.  Saat  itu  saya  sedang  mempersiapkan  berkas  pendaftaran  beasiswa doktoral saya ke Prancis. Salah satu berkas yang harus saya siapkan adalah Surat Rekomendasi dari salah satu  alumni  Prancis. Alumni  yang  rencananya  saya  hubungi  adalah  Dr Andrik  Purwasita  DEA  yang merupakan doktor  komunikasi lulusan  Prancis. Saya  sebenarnya sudah beberapa kali berjumpa dengan Dr Andrik  Purwasita,  DEA  ketika  beliau  menjadi  komisioner  Komisi  Penyiaran  Indonesia (KPI). Perjumpaan kami dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan KPI dalam kapasitas saya sebagai reporter  Majalah  Komunikasi  Cakram.

Setelah  itu  kontak  melalui  SMS  itu,  tak  ada  komunikasi  saya dengan Mas Santo. Rencana menghubungi Dr Andrik  Purwasita pun urung dilakukan karena saya sudah mendapatkan surat rekomendasi dari alumni lain yang berkarir di Jakarta.

28 September 2011 Pukul  08.45 waktu Lyon Prancis. Saya membuka akun Facebook saya. Ketika selintas membuka  dinding  saya,  membaca  status  dari  Mas  Dwiki  Setyawan  yang  mengabarkan  kepergian almarhum setelah menahan rasa sakit akibat kecelakaan di daerah Karanganyar, Jawa Tengah.

Beberapa hari  sebelumnya, Mas Dwiki adalah orang pertama  yang mengabarkan bahwa Mas Santo mendapatkan kecelakaan dan mengalami kondisi yang cukup parah dan harus berada di ruang ICU.

Meski  tidak  secara  khusus  dekat  dengan  almarhum,  tapi  sosok  yang  bersahaja  dari  almarhum  sangat saya rasakan. Meskipun, kedekatan itu terjadi pada 12 tahun lalu. Sebagai sesama akademisi muda, saya kira sosok seperti  almarhum  dalam  lingkungan kampus  memberikan  angin segar  dalam  diskursus ilmu sosial  khususnya studi  komunikasi  yang ia  geluti  hingga  akhir hayatnya.  Kedekatan yang  kami rasakan tentu  saja  hubungan  emosional  senior-yunior  yang  sama-sama  berproses  dalam  perkaderan  HMI.

depan dari ki ke ka: Budi Nugroho, Susanto Kartubij, Teguh Priyanto dan Dwiki Setiyawan

depan dari ki ke ka: Budi Nugroho, Susanto Kartubij, Teguh Priyanto dan Dwiki Setiyawan

Khittah HMI  sebagai organisasi  perkaderan saya  kira    akan  terus  bertahan  dalam dinamika  keIslaman, keIndonesiaan dan kemahasiswaan dengan melahirkan anak-anak muda yang akan menjadi kader umat dan  kader  bangsa. Pada  konteks  ini,  almarhum  memiliki  saham  sekecil  apapun  ketika  ia  berada  di tengah-tengah  ruang  training  perkaderan  HMI.

Ia  hadir  menggugah  kesadaran,  membangun intelektualitas yunior-yuniornya.  Beberapa  tahun kemudian, benih yang ia tanam, perlahan-lahan hadir menyinari ruang-ruang sosial yang sedang dibangunnya. Kebanggaan dan kekaguman senior akan hadir pada  saat  yuniornya  tampil  ke  permukaan  mengibarkan  panji  profesionalisme  bidangnya  masing-masing. Atas  dasar  optimisme  dan  pencerahan  yang    senior-senior  seperti  almarhum  lakukan  disetiap ruang-ruang perkaderan. Dan itulah, investasi terbesar HMI.

Hari  ini,  saatnya  Susanto  Kartubij  menghadap  sang  pencipta.  Kita  hanya  menanti  giliran  berikutnya. Entah esok hari, lusa, minggu depan atau entah kapan. Semua adalah kekuasaan-Nya.

Walllahu’ alam.

Lyon, 27 September 2011 Pkl 14.32

Rakhmat Hidayat
Alumni  Pusdiklat  NIK  Badko  HMI  Jabagteng  Tahun  1999  &  Mantan  Ketua  Umum  HMI  Cabang Purwokerto 2001-2002

*****

Kredit Foto:

  • Rakhmat Hidayat di Facebook atas izin ybs.
  • Susanto Kartubij HMI koleksi Sholahuddin Muzayin di Facebook atas izin ybs.
  • Susanto Kartubij bersama keluarga dari akun Facebooknya.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke In Memoriam Susanto Kartubij

  1. AK Fahmi berkata:

    Sekitar setahun lalu…(mungkin gak tepat) saya dapat sms malam dari santo, isinya mohon didoakan dalam tahajud terkait kondisi ibunya…saya gak ngeh terus terang. Dan saya anggap biasa aja. Tapi beberapa saat kemudian, saya baca di status, ibunya santo meninggal karena sakit.
    Saya agak ge-er, memang dimintai doa….mungkin karena saya mengelola pesantren jadi kira-kira dianggap “lebih deket” dengan Tuhan. Akan tetapi saya memaknai, bahwa susanto kartubij ini meihat saya dan percaya terkait integritas keimanan saya, artinya saya merasa saat itu, Susanto melihat pada kacamata keimanan dalam hal ini Islam dan segenap perilaku formal dalam berislam yg kira-kira dalam Bhs NIK dulu sering banyak dipertanyakan.
    Tentang tahajud, saya juga sering dikirimi sms tahujud oleh Mas Adib, ya mungkin jejaring itukalah yang menjadikan susanto perlu meminta doa ibunya yg sedang sakit pd saya…
    Dan beberapa hari lalu saya di sms sifaul arifin, isinya minta doa juga, Susanto kecelakaan…dan tak sadarkan diri, kritis. Kebetulan Pada hari itu saya baru saja dari Banjarnegara….O, ya memang saya dan Susanto, juga Barly, Teguh Py berasal dari komunitas Banyumas clan.
    Dan akhirnya memang Susanto meninggalkan kita semua. Mudah-mudahaan sangkaan yg baik pada saya, menjadikan benar-benar doa yg menjadikan saya menjadi lebih baik dalam berprilaku, berfikir dan beramal.
    Susanto orangnya periang, walaupun agak “nggateli” istilah Banyumas. Mungkin karena sikapnya yg slengeean. Susanto itu gurunya Barly, sebab dia satu almamater di Assalam. Sikap dan berfikirnya meh persis. Dulu memang dengan sikap dan gaya urakan sempat sebal, akan tetapi saya rasakan,kemudian saat ini bahwa pada masanya (ketika kuliah dulu) Susanto, Barly, faul dlll adalah teman-teman terbaik pada masanya bagi saya.
    Kembali soal, susanto. Dia tipe intelektual. Sempat juga ngajar kuliah saya saat saya coba mendandani IPK (saat itu)…MK komunkasi….dan dapat 3.0, dg catatan masuk satu kali tok (biasa aktifis, banyak rapat)….
    Tentu suatu kehilangan besar bagi KOmunikasi UNS, atas meninggalnya Susanto, terlebih lagi dia kabarnya sedang menyelsakan desertasi. Dan memnag saya akui susanto adalah produk pesantren Assalam yang jadi. Pengusaan bahasa Inggris dan Arab dan juga cara mengartikulasikan gagasan yg tentu saja sudah terbentuk kiranya berkat didikan keluarga dan di pesantren Assalam. HMI Solo dan Komunikasi UNS tentu adalah wadah dia mencoba mengembangkan ilmu-ilmu alatnya tersebut. saya yakin seandainya Allah masih mengijinkan dia bersama kita saat ini, Susanto Adalah Asset intelektual yg luar biasa bagi FISIP KOmunikasi UNS.
    Itu beberapa kenangan tentang Susanto Kartubij…tentu masih ada, termasuk yg “nggateli-nggateli” alias parno atau porno, tapi yg itu gak usah diceritakan, cukup pengetahuan pribadi sisa masa kedegilan-kedegilan saat kuliah. Yg pasti, saya merasa Susanto Kartubij dengan kelakar-kelakarnya yg jenakan dan kadang nggateli….yg dulu saya kenal, dua tahun ini saya lihat (bedasarkan update status, sms dan keternagan teman-teman) beliau makin religius dan benar-benar santri Assalam.
    Insya Allah Khusnul Khotimah….Ya Allah ampuni dosa saudaraku Susanto Kartubij, lapangkan Kuburnya, Terimalah amal ibadahnya, dan untuk keluarganya Engkau berikan ketenangan dan ketabahan dalam mensikapi ujianMu.
    Selamat Jalan Santo….Kelakar, candaan, ejekan, saran dan harapanmu kami kenang.

    AK Fahmi
    Kebumen (nulis sehabis ngajar PPKN)

  2. Tarmin berkata:

    Saya adalah orang yang paling gampang Kagum dengan kemampuan-kemampuan teman-teman, terutama senior waktu kuliah dulu. Santo memiliki kemampuan yang bagus ketika menyampaikan sesuatu di kajian-kajian yang sering saya ikuti. Namun karena waktu itu aku masih Bodo, ya tentu saja hanya kagum dan tak bisa berkomentar banyak. Kekaguman itu berlanjut ke “muridnya” Barlie yang juga memiliki kemampuan hampir sama dengan Mas Santo ini..
    Bener apa yang dibilang Mas Fahmi kalau dulu Mas Santo ini salah satu “intelektual muda” yang agak selengean namun cerdas. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan teman-teman seorganisasi dulu memang selengean dan menurut Mas Fahmi memang terkesan Nggateli.
    Tulisan beliau yang paling berkesan bagi saya sekarang adalah rangkuman Beliau Tentang Isme-isme Dewasa ini yang jadi rujukan bagi pelatihan kader di HMI pada waktu itu. Sebelumnya kerena kebodohanku sangat sulit untuk mempelajari Ideologi-ideologi politik yang sepertinya penting bagi anggota HMI. Waktu itu anggota HMI sepertinya wajib pinter ngomong ideologi dan politik.
    Yang membuat aku agak tersanjung adalah ketika beliau sudah menjadi Dosen malah sering ngajak aku nonton kroncong atau hiburan lain di TBS, padahal sebelumnya nggak pernah, Mungkin tahu klo aku ini miskin dan butuh santunan.. dan kadang juga diajak makan atau sekedar liat-liat buku ke sriwedari.. Pernah suatu kali karena lama nggak di ajak jajan aku nagih pas beliau dolan ke sekretariat HMI Kom Fisip.. Dia bilang Rapelan belum keluar dan sebagai gantinya aku di ajak nonton kroncong lagi di TBS..
    Mas Santo.. Selamat jalan..

    Tarmin
    Langsa Aceh

  3. Game Compressed berkata:

    Semoga diterima disisinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s