Mengenang Kepergian Susanto Kartubij


Pujangga kenamaan berkebangsaan Lebanon, Kahlil Gibran (1833-1931), dalam sebuah puisinya menggugat perihal kematian, “Mengapa engkau sedemikian takut dengan kematian? Bukankah engkau acapkali mendambakan tidur lelap?” Larik-larik kalimat tersebut, tepatlah disematkan pada salah seorang sahabat saya, Susanto Kartubij, staf pengajar Fisip UNS Solo, Rabu ini (28/9) pukul 12.20 wib dipanggil menghadap Sang Khalik. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Episode “tidur lelap” dibantu alat pernafasan beberapa hari hingga maut menjemput Susanto Kartubij cukup panjang. Menurut penuturan Anhar Widodo,  Rabu 21 September 2011 sekitar pukul 14.30 wib, Susanto Kartubij berangkat ke kampus UNS mengendarai sepeda motor dari kediamannya di Jaten Karanganyar. Selepas palang pintu kereta api dan lampu merah selatan kantor BCA Palur, sekonyong-konyong sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menambraknya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Braaaak! Ia jatuh dan tak sadarkan diri, sementara pada saat bersamaan helm yang dikenakan Susanto Kartubij lepas dan terlempar.

Rupanya, berdasarkan olah TKP Polisi, si penabrak Susanto Kartubij tersebut sebelumnya telah menyerempet seseorang. Lantaran ketakutan dan panik, ia memacu kencang kesetanan sepeda motornya melarikan diri. Sungguh naas. Kecerobohan itu berakibat fatal bagi pengguna jalan yang tak tahu menahu masalah si penabrak. Susanto Kartubij pun menjadi korban akibat ulah tidak bertanggungjawab tersebut.

“Kemudian oleh pihak keamanan (polisi) Susanto Kartubij dibawa ke RS Dr Oen Kandang Sapi. Karena Ruang ICU di tempat tersebut penuh, maka dengan persetujuan keluarga, dirujuk ke Dr Oen Solo Baru. Hasil CT Scan, Kamis (22/9) pagi menyebutkan ada pelebaran luka di kepala (bagian dalam belakang). Opsi penanganananya adalah dengan operasi dan pengobatan, namun karena kondisi tersebut, sangat tidak memungkinkan untuk melakukan operasi dan dokter menyarankan untuk pengobatan meski akan memakan waktu cukup lama) Jum’at siang, status Pak Santo dinyatakan brain death (istilah kita mati batang otak_MBO),” kata Anhar Widodo, salah seorang teman dekat Susanto Kartubij, yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Selanjutnya dikatakan bahwa status brain death yang demikian, menurut informasi yang didapat berdasarkan fakta bahwa tanda vital kehidupan beliau sudah tidak merespon, sebagaimana layaknya orang yang koma atau tak sadarkan diri, mulai dari pupil mata yang tidak merespon cahaya, kulit yang sudah tidak sensitif dan detak jantung yang semakin melemah, dan pada akhirnya hanya mengandalkan alat bantu pacu nafas, ventilator. Dokter  yang menangani pun sudah menyatakan “angkat tangan”.

Saya ikut merasakan kepedihan mendalam Anhar Widodo tatkala ia menggoreskan nada kepasrahan berikut, “Mereka merekomendasikan kepada keluarga untuk melepas ventilator dan membiarkan Pak Santo berjuang sendiri merebut keajaiban dari Tuhan. Hari Sabtu, (24/9) malam, setelah mendengarkan rekomendasi dari ustadz pak Santo di Assalaam, diputuskan Pak Santo diberi kesempatan sampai hari Rabu besok (28/9), jika sampai saat itu ada keajaiban, tanda vital kehidupan aktif lagi, keluarga akan memperjuangan yang terbaik buat beliau. Jika memang sudah “menyerah”, keluarga juga akan mengikhlaskan beliua “bertarung” sendiri, tanpa bantuan alat apapun dengan resiko terburuk: berhentinya detak jantung, alias tanda vital kehidupan yang terakhir, dengan pasrah dan ikhlas sebagai jalan terbaik dari Allah SWT untuk beliau.”

Firasat buruk menyergap diri saya atas pernyatan Anhar mengutip pihak keluarga Susantio Kartubij di atas… “sampai hari Rabu besok (28/9)”  akhirnya menjadi kenyataan. Ia akhirnya pergi selamanya meninggalkan kita. Pula tanpa secarik pesan pun pada keluarga yang ditinggalkannya….

***

dari ki ke ka: Dwi Arjanto, Joni Nur Ashari, Budi, Abdul Kohar, Abdul Kholiq Muhammad, Susanto Kartubij, Dwiki Setiyawan, Nurudin Al Bantuli dan Teguh Priyanto dalam RAK HMI Cabang Surakarta Komisariat Fisip UNS di Tawangmangu

dari ki ke ka: Dwi Arjanto, Joni Nur Ashari, Budi, Abdul Kohar, Abdul Kholiq Muhammad, Susanto Kartubij, Dwiki Setiyawan, Nurudin Al Bantuli dan Teguh Priyanto dalam RAK HMI Cabang Surakarta Komisariat Fisip UNS di Tawangmangu

Mengenang Kepergian Susanto Kartubij bagi saya adalah mengenang sosok pendiam, tidak banyak berbicara, bersahaja, menyenangkan dan jarang protes. Di balik sosok yang demikian itu, ia tipe pribadi tekun. Saya sendiri punya kesan mendalam soal ketekunannya itu.

Suatu hari di awal 1990-an, Mas MT Arifin selaku pembina Kelompok Studi Mangkubumen (KSM) Solo berniat membekali beberapa anggota KSM kapasitas keilmuan di bidang ilmu-ilmu sosial. Sebagai koordinator KSM, saya diminta Mas MT Arifin memilih 5 (lima) orang anggota untuk bergabung dalam Kelompok 5. Lantas saya memilih Tatang Badrutamam, Lilik HS, Emi Panca Prasetyani, Benny Ridwan dan Susanto Kartubij ke “kelompok elite” KSM tersebut.

Oleh Mas MT Arifin, kelima orang di atas dipinjami 5 buah buku mengenai teori-teori ilmu sosial setiap orangnya. Mereka dipaksa membaca dari A hingga Z kesemua buku, dan diminta membuat ringkasan atas buku-buku yang telah dibacanya. Kelompok elite ini bertemu satu kali setiap minggu untuk mempresentasikan buku-buku yang telah dibacanya. Didiskusikan, lantas 5 buah buku yang telah dibaca ditukar. Misalnya, buku yang telah dibaca Susanto Kartubij ditukar dengan yang telah dibaca Tatang Badrutaman. Dan seterusnya. Setiap pertemuan hanya satu orang yang presentasi.

Diharapkan setelah lima kali pertemuuan, kelima orang “kelompok elite” tersebut bisa memahami 25 buku yang telah dibagikan pada tahap pertama. Lantas buku-buku ditarik kembali, dan diganti dengan buku-buku lainnya. Dan seterusnya. Dengan penguatan basis teori ini diharapkan saat menulis suatu masalah apapun, ketajaman analisanya dapat dipertanggungjawabkan secara kaidah keilmuan.

Dalam kelompok 5 KSM, Susanto Kartubij saya nilai berhasil mengambil peluang dan kesempatan emas mendalami buku-buku yang telah dibacanya itu. Ia juga senantiasa membuat rangkuman, misalnya, buku setebal ratusan halaman, menjadi satu halaman ukuran kertas folio.  Rangkuman-rangkuman buku yang pernah ia buat adalah salah satu bukti ketekunannya. Sebagai turunan atas ketekunan itu, saat ia saya tunjuk menjadi pembahas suatu diskusi rutin KSM, ia mampu membedah suatu persoalan agak berat dengan gaya penyajian ringan yang menambah khazanah pengetahuan.

Sedikit tentang profil Susanto Kartubij, ia lahir di Banjarnegara Jawa Tengah 10 Juli 1973.  Pendidikan formalnya antara lain: MTs PPMI Assalam Surakarta, MA PPMI Assalam, S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UNS (1991), S2 Ilmu Komunikasi Fisip UNS, dan S3 Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Indonesia (tengah mempersiapkan disertasi). Pekerjaan sehari-hari staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UNS. Organisasi yang pernah diikuti, antara lain Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta. Istri bernama Iva Sinatra, dipanggil  akrab Iffah. Dikaruniai tiga orang anak, masing-masing Kelas IV dan Kelas I SD, serta playgrup. Dan kini istrinya tengah mengandung usia 8 bulan. Tinggal di Perumahan Dosen UNS Jaten Karanganyar Jawa Tengah.

***

Prof DR Alwi Dahlan

Prof DR Alwi Dahlan

Profesor DR Alwi Dahlan, dosen Fisip Universitas Indonesia saya tanya kesan-kesannya mengenai Susanto Kartubij melalui fitur “Pesan” di media sosial Facebook. Ia mengisahkan awal mula pertemuan dengan Susanto Kartubij, “Saya kenal bung Santo mulanya sebagai mahasiswa S2 Komunikasi UNS, ketika kami dosen2 UI ikut mengajar dan mengembangkan program tersebut. Pada tahap awal. Beberapa tahun kemudian, dia diterima pula pada Program S3 Komunikasi UI.”

Selanjutnya Prof DR Alwi Dahlan yang pernah menjabat Menteri Penerangan tersebut menyinggung soal pribadi Susanto Kartubij. Dikatakan bahwa Bung Santo adalah seorang pendiam, tidak banyak berbicara, tetapi membaca dan mengikuti perkembangan teori dalam ilmu komunikasi dengan serius. Hal ini tampak sekali, ketika dia ikut sebagai peserta pada seminar Perspektif dan Teori Komunikasi untuk S3 yang saya asuh. Jiikalau ada yang menggelitiknya, dia bisa datang dengan pemikiran, pertanyaan atau pendapat yang tajam.

Apa yang saya katakan tentang soal persentuhan Susanto dengan buku-buku terbaru, juga diungkap dengan menarik oleh Prof Dr Alwi Dahlan, “Bung Santo sering datang dengan kutipan dan rujukan dari buku-buku yang baru saja terbit. Ia misalnya, merujuk ke buku Manuel Castell, The Rise of the Network Society, 2nd Edition (2010) ketika membandingkan jaringan komunikasi sosial (media baru) dengan jaringan sosial kekerabatan tradisional yang sudah berabad-abad berkembang di Jawa. Padahal saya sendiri baru membaca sebagian buku tersebut, yang baru saya beli dua minggu sebelumnya di Singapura.”

Pada bagian lain Prof DR Alwi menandaskan bahwa jelas dia (Susanto Kartubij) rajin mengikuti perkembangan melalui Internet. Karanganyar bagi dia sama saja dekatnya dengan New York, Jakarta, atau Surakarta.

Tidak lupa Prof DR Alwi Dahlan menyisipkan sisi humanis pergaulannya dengan Susanto Kartubij, “Kami sekeluarga kenal dengan Almarhum Santo karena waktu itu kelas sering diadakan di rumah saya, dan mereka makan di rumah mencicipi masakan Ibu Ita Dahlan. Diam-diam rupanya penggemar masakan Solo ini mulai menyesuaikan lidahnya dengan masakan khas Padang yang pedas… Itu baru kami ketahui, setelah ada yang menunjukkan tulisan Santo tentang “gulai bebek hijau” dalam blognya…”

Kalau saja beberapa teman lainnya saya mintai kesan-kesan tentang pribadi Susanto Kartubij, niscaya semua kesannya selama ia hidup banyak perbuatan baik yang pernah diukirnya. Ia meninggalkan perbuatan baik dan nama baik. Yang akan dikenang selamanya oleh teman-teman yang ditinggalkannya.

Tepat pula ungkapan dalam sebuah hikmah berikut, “Ketika seseorang wafat, orang yang ditinggalkannya bertanya kepadanya tentang warisan apa yang ia tinggalkan: malaikat pencabut nyawa bertanya tentang perbuatan baik apa yang ia bawa di hadapan-Nya.”

Jiwa kita adalah pinjaman dan setiap yang dipinjam harus dikembalikan kepada yang punya: Tuhan Semesta Alam. Selamat Jalan Dik Susanto Kartubij. Semoga Allah SWT menerima segala amal baik yang pernah engkau torehkan di dunia ini.

*****

Sumber Foto: Akun Facebook Sdr Susanto Kartubij dan Prof Dr Alwi Dahlan. Terima kasih kepada Prof Alwi yang telah mengizinkan salah satu gambarnya saya publikasi di  Dwiki Setiyawan Blog ini.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Mengenang Kepergian Susanto Kartubij

  1. Buneyasmin berkata:

    Sedikit koreksi, Mas Dwiki. Rumahnya di Perumahan Josroyo Indah, jaten, Bukan Perumahan Dosen. Overall, kawan Santo adalah sosok yang baik.

  2. wawankardiyanto berkata:

    Innalilahi wa inna ilahi rojiun… smoga kang Santo arwahnya mendapatkan tempat yg tenang disisi Allah.

  3. siswoyo haryono berkata:

    terima kasih mas dwiki setyawan… saya mewakili dik Santo… saya kakanya yang terua, santo adik saya no 5. …….. salam hormat, siswoyo haryono

  4. saya dengan Almarhum perna konsultasi utk tesis saya setahun yang lalu, tapi tidak jadi karena beliau terlalu jauh di Solo….. selamat jalan Pak Dosen, kawan dan sahabatku…. semoga Allah SWT menempatkan MU Disisi NYA…. amin…..

  5. arif wachyudin berkata:

    semoga beliau diterima disisi-Nya..

  6. uswatun hasanah berkata:

    meski tak pernah dekat, tapi pernah akrab dalam satu almamater pondok assalaam dan hmi cabang surakarta. aku bersyukur pernah mengenalnya. aku kehilangan atas kepergiannya. Alloh telah membebaskannya dari tugas-tugas dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s