Kisah PB HMI: Ponsel Pemikat Calon Mertua


Kisah PB HMI: Ponsel Pemikat Calon Mertua. Alkisah, PB HMI Periode 1997-1999 bersama Badko HMI Jabar menyelenggarakan acara bakti sosial untuk masyarakat Suku Baduy di Desa Ciboleger Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten (saat itu masih Provinsi Jawa Barat). Pesertanya banyak. Baik HMI-wan maupun HMI-wati. Kegiatan diadakan siang hingga sore bertempat di kawasan terminal angkutan umum setempat. Malam harinya peserta menginap di rumah-rumah penduduk sekitar, dan keesokan harinya kembali ke Jakarta.

Kegiatannya sukses. Sangat meriah. Bakti sosial tersebut salah satunya diisi dengan pembagian beberapa bahan pokok (bako). Oya melantur sedikit, kadang orang salah kaprah bilang sembako atau sembilan bahan pokok, walau pada kenyataannya bahan pokok yang dibagikan tidak mencapai sembilan item. Paket hanya berisi beras, mie instan, gula pasir, dan minyak goreng dibilang sembako. Mustinya agar bergizi bagi penerimanya ada tambahan telur atau daging sebagai komponen bahan pokok. Namun, mana ada selama ini pembagian paket bahan pokok ditambah isi daging dan telur?🙂

Waktu acara bakti sosial di kawasan terminal Desa Ciboleger berlangsung, dari kejauhan nampak saudara Ahsan Rais. Ia kader HMI Cabang Jakarta Cilosari, dan pernah mengenyam  jabatan (kalau tidak salah) sebagai wakil bendahara umum PB HMI Periode 1995-1997 di masa kepemimpinan Taufiq Hidayat. Kok ada di sini? Usut punya usut, ternyata ia sedang mengawal beberapa HMI-wati dari HMI Cabang Jakarta. Rupanya, salah satu HMI-wati tersebut sedang ia taksir. Istilah gaul kini: pedekate. Secara kebetulan pula si HMI-wati itu tinggalnya di Lebak, tidak terlalu jauh dari tempat acara.

Selama kegiatan bakti sosial berlangsung, sikap dan tingkah laku Ahsan Rais ini sunggguh atraktif. Tangannya menenteng-nenteng ponsel (handphone) ukuran besar warna hitam dengan merk saya lupa. Kadangkala ia selipkan di pinggang pada posisi tertentu sehingga mengundang perhatian bagi siapapun yang melihatnya. Kalau saja ia menelepon, sudah dipastikan ia menipu orang sekelilingnya. Sebab, mana ada sinyal ponsel di desa terpencil semacam Desa Ciboleger pada waktu itu?

Tingkah laku Ahsan Rais tentunya bisa dimaklumi, mengingat ponsel kala itu merupakan barang mewah dan langka. Dikatakan mewah dan langka, lantaran saat itu stok ponsel terbatas di pasaran dan harganya mahal. Pula harga kartu perdananya juga mahal, bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Ditambah hanya ada segelintir operator yang beroperasi.

Postur tubuh saudara Ahsan Rais cukup tinggi, cenderung kerempeng. Kepribadiannya menarik, banyak orang menyukainya. Yang membuat tidak kuat hati dari sosok kesehariannya adalah masalah gaya (style). Ia tipe kader HMI easy going yang suka slengekan baik dalam berbincang keseharian maupun di acara-acara resmi semacam rapat-rapat PB HMI. Sekalipun dirinya acapkali menjadi bahan olok-olok kawan seangkatannya di HMI, ia tidak pernah punya rasa dendam atau rendah diri kepada siapapun yang mengoloknya itu. Dalam banyak kesempatan, ia mampu mengolah olok-olok tersebut dengan tangkisan-tangkisan jawaban jenaka yang justru membuat orang-orang sekelilingnya tertawa berderai. Terlepas dari kekurangan yang ada, pada hakikatnya ia memiliki rasa percaya diri sangat kuat.

Setelah acara bakti sosial berakhir, tidak terlihat batang hidung Ahsan Rais. Di mana gerangan? Ternyata ia mengantar salah seorang HMI-wati ke kediamannya di Lebak. Berangkat bersama HMI-wati Cabang Jakarta lainnya. Baru tengah malam tiba kembali di lokasi acara. Dengan gaya kocak ia menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya. Menurut Ahsan, tatkala tiba di kediaman si HMI-wati yang ditaksirnya itu, ia sendiri yang mengetuk pintu pada tuan rumah. Lantas memperkenalkan dirinya termasuk rombongan yang mengiringi. Tidak lupa (dan memang disengaja) ia menenteng ponsel yang dibawa seolah ingin memamerkan barang mewah dan langka itu pada orang tua si HMI-wati. Rombongan pun masuk rumah, dan menunggu di ruang tamu.

Di sela-sela perbincangan rombongan dengan orang tua si HMI-wati, kata Ahsan selanjutnya, ia izin pada tuan rumah mau menelepon seorang temannya. Selanjutnya, di teras rumah itu Ahsan pun beraksi cuap-cuap pakai ponsel. Suaranya sengaja agak keras agar orang tua si HMI-wati itu mendengar dari dalam rumah, dan terkesan dengan aksinya. Ia berpikir ponsel yang dibawanya itu dapat memikat hati sang calon mertua.

Yang sangat mengejutkan, sembari Ahsan Rais terkekeh-kekeh, ia buka rahasia. “Padahal, ponsel itu sejak saya bawa dari Jakarta dalam kondisi mati. Juga tidak ada sim card-nya. Saat saya bicara di teras itupun sebenarnya saya juga bicara dengan diri sendiri.” 🙂

Oooalah Ahsan Rais. Keren habis gayanya….

***

Beberapa waktu lalu saat acara Rakernas KAHMI di Hotel Sahid Jakarta, saya ketemu kembali Ahsan Rais. Gayanya tidak banyak berubah. Saya ingatkan dia peristiwa ponsel saat bakti sosial di kampung Baduy. Ia hanya ngakak. Kemudian saya menyela, “Jangan-jangan ponsel yang kamu bawa saat ini juga dalam kondisi mati?” Kembali tawanya meledak.

****

Sumber Gambar: http://www.theverteblog.com

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah PB HMI: Ponsel Pemikat Calon Mertua

  1. santo berkata:

    kalo sama dengan gambar, itu nokia 5110 berjuluk hape sejuta umat. pada tahun 1999, saya membelinya dengan harga sedikit di atas 1 juta. demikian om dwiki…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s