Mengenang Ibu


Mengenang Ibu, bagi saya seperti layaknya mengenang kepribadian anggun, sekaligus kepemimpinan, keteladanan dan keindahan. Ibu selalu menjadi sumber inspirasi seluruh puteri-puteri beliau… Ibu memang seorang perempuan Jawa yang mengayomi dan menenteramkan. Dalam keadaan yang paling sulitpun ibu selalu berpenampilan sangat sempurna, dan elegan. Bahkan, meskipun beliau bukanlah seorang yang terpelajar, ibu senantiasa berpenampilan rapi, mengesankan apalagi jikalau mengenakan kacamata jernih dengan frame berwarna kuning emas. Dengan penampilan itu, ibu tampak sangat anggun dan berpendidikan.

Untaian kalimat mengesankan di atas, digoreskan oleh seorang sahabat sekaligus guru informal saya, Bambang Marsono dalam bukunya Nasehat Ibu. Nama yang saya sebutkan ini, adalah pendiri lembaga kursus bahasa Inggris Oxford Course Indonesia yang memiliki banyak cabang di beberapa kota besar tanah air. Lelaki kelahiran Solo 23 Maret 1943 ini, merupakan anak ke-4 dari 10 bersaudara. Ia juga pendiri sekaligus owner Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Trianandra.

Mengenai profil lengkap Bambang Marsono dan lika-liku ia mengepakkan sayap -sayap bisnisnya, Insya Allah, bisa saya tulis di blog ini dalam waktu dekat.

Mengenang Ibu, Bambang Marsono pada bagian lain bukunya menggambarkan sosok ibu dengan ungkapan cinta setulus hati.  Bambang terkenang-kenang ibunya, Raden Nganten Hajjah Karsiyem binti Martoprawiro,   “Rambut ibu senantiasa disisir rapi.  Tutur bahasanya sangat indah, situasional dan sangat tepat bagi siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Ibu juga sangat percaya diri, dan tidak pernah merasa rendah diri tatkala berhadapan dengan siapapun. Andalan beliau adalah sopan santun dan tutur bahasa yang indah dan sangat tinggi. Meskipun beliau tidak mampu berbahasa Indonesia, tetapi bukan berarti beliau tidak mengerti sama sekali. Beliau memahaminya, kapan saja ada yang berbicara dengan beliau dalam bahasa Indonesia. Ibu juga seorang yang kuat, mencangkulpun bisa beliau lakukan. Tahu sopan santun, terampil, lembut, tanggap dan trengginas. Itulah ibu.”

Soal lain berkenaan dengan kebiasaan berpakaian ibunya, Bambang Marsono merasa hingga saat ini penampilan ibunya dalam berbusana tidak pernah tertandingi oleh putera-puterinya. Sebagai perempuan Jawa, kenangnya, ibunya tidak pernah berkenan mengenakan celana panjang, apalagi daster.

Beliau senantiasa mengenakan kain batik dan kebaya. Hampir tidak ada kain batik ibu yang tidak batik tulis, kecuali untuk basahan atau sekedar dipakai di rumah. Kain pesta yang beliau kenakan selalu dipilih dengan cermat, biasanya kain yang terbaik. Meskipun jumlahnya tidak banyak, akan tetapi biasanya harganya mahal, dan sangat berhati-hati merawatnya. Sesekali baju-baju itu diangin-angin, dijemur ditempat yang teduh hanya beberapa saat, lalu disimpan kembali. Ibu merasa sangat bahagia dengan pakaian yang dimilikinya.”

Bagi Bambang Marsono, sosok ibu baginya adalah bukan perempuan biasa. Lantaran acakali ditinggal ayahnya bergerilya di masa Perang Kemerdekaan akhir 1940-an, ibunya mengasuh sepuluh anak dan dua lainnya dari perkawinan ayah dengan ibu lain. Situasi dan kondisi itu memaksa ibunya mencari metode terbaik untuk mendidik, mengawasi, menjaga dan mengasuh anak-anaknya. “Beliau adalah seorang pemimpin besar, penggembala, pelindung, pengayom dan manajer sejati dalam keluarga kami,” kata Bambang Marsono.

Rasanya menulis juga mengenang tentang sosok ibu kita sendiri, tidak akan ada habis-habisnya. Mengingat akan kebaikan dan pengorbanan tiada putus-putusnya yang tercurah pada kita. Demikian pula Mengenang Ibu sebagaimana yang coba diungkap Bambang Marsono.

Dari 10 orang putera-puteri Raden Nganten Hajjah Karsiyem binti Martoprawiro (almarhumah), hanya dua puteri tidak mengenyam pendidikan tinggi lantaran harus menikah pada usia muda mereka. Selebihnya menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahkan dua dari 10 bersaudara itu menjadi guru besar masing-masing dalam bidang Manajemen Internasional (Bambang Marsono) dan Politik Internasional (Totok Sarsito).

***

Mengenang ibu, bagi Bambang Marsono, jalin berkelindan dengan nasehat-nasehat ibunya yang ia dengar semenjak kecil. Dalam buku Nasehat Ibu, Bambang juga coba mengingat sekian banyak nasehat-nasehat ibundanya. Mulai nasehat kepada anaknya saat bangun tidur, setelah shalat Subuh, berangkat dan sepulang sekolah, saat berada di lingkungan sekolah, saat makan malam, saat bermain di tempat asing, berkunjung ke rumah teman, bertamu, diajak makan bersama, saat bermimpi buruk, kala hujan lebat, bersahabat dengan orang lain dan masih banyak nasehat lainnya. Terlalu panjang bila saya paparkan di sini.

Di antara nasehat-nasehat yang telah saya sebutkan, menarik saya kutip di sini soal nasehat  saat kita bersahabat dengan orang lain. “Ibu selalu berpesan agar menjaga persahabatan dan bahkan memperluas persahabatan,” tandas Bambang. Nasehat orang tua Bambang Marsono dalam soal persahabatan yang saya istilahkan Adab Bersahabat sebagai berikut:

  • Tidak boleh bersahabat lantaran kekayaan seseorang, tetapi bersahabatlah dengan mereka yang berhati mulia.
  • Tidak boleh memilih-milih orang yang ingin bersahabat tetapi jangan menenggelamkan diri dalam persahabatan.
  • Mulailah persahabatan dengan keikhlasan dan ketulusan.
  • Ucapkan nama dengan jelas.
  • Panggilah dengan menggunakan sebutan di depan namanya, misalnya mas, kang, pak, bu, mbak, jeng, bang, dik dan sebagainya.
  • Bersalamanlah dengan genggaman yang mantap.
  • Tidak boleh memaksa bersalaman dengan lawan jenis.
  • Tataplah lawan bicara dengan lembut.
  • Teguhlah dalam berjanji dan jangan menciderainya.
  • Berbuatlah ksatria, melindungi teman perempuan dan menghormati teman lelaki.
  • Jagalah kehormatan persahabatan.
  • Tolonglah sahabat kita dan jangan mengharapkan pertolongan orang lain.
  • Berniatlah bersahabat karena Allah SWT, dan bukan karena maksud-maksud tersembunyi.
  • Persahabatan itu sering mahal harganya dan butuh pengorbanan.
  • Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat sejati.
  • Tidak boleh membuat persekutuan antar sahabat untuk melakukan kejahatan.
  • Mulailah persahabatan dengan baik, dan andai harus mengakhiri, akhiri dengan baik pula.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Tinjauan Buku dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Mengenang Ibu

  1. memang..IBU adalah sosok yang sangat kental dalam jiwa kita. Karena beliaulah..Qita/ penulis jd seperti saat ini…Ketelatenannya dalam mendidik kita..so, memang pantas klo IBU adalah orang yang pertama kali kita hormati, bru kemudian ayah…terima kasih pada penulis, atas tulisannya..mungkin tulisan ini ada hikmanya..bgi orang yang lalai pd IBUnya..

  2. Trisnoaji berkata:

    Kasih ibu sepanjang masa🙂

  3. mycoretanz berkata:

    ibu slalu dihatiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s