Apel Haram: Kebaikan Menuai Keberkahan


Kisah Apel Haram: Kebaikan Menuai Keberkahan ini pernah saya sampaikan di hadapan jamaah shalat Tarawih Masjid At-Tauhid desa Sidomulyo Godean Sleman Yogyakarta lebih dari seperempat abad silam. Tepatnya di bulan ramadhan 1406 H atau 1985 M. Kala itu saya duduk di kelas 1 SMA Negeri Argomulyo Sedayu Bantul. Di masjid itu, penceramah tunggal ramadhan tahun-tahun sebelumnya adalah Bapak Suhudi, BA (kini telah almarhum dan teriring doa semoga kebaikannya mendapat tempat layak di sisi-Nya).

Lantaran Bapak Suhudi ingin mengkader beberapa orang untuk menggantikan beliau bila sewaktu-waktu berhalangan, dipilihlah beberapa orang yang dianggap pantas (dan berani) tampil menjadi penceramah shalat Tarawih. Entah mengapa, saya yang masih belia ditunjuk bersama beberapa lainnya untuk secara bergiliran menjadi penceramah. Jadilah saya penceramah paling muda saat itu.

“Yang penting, sampaikan dakwah sekalipun hanya dengan satu ayat. Saya akan tetap mendampingi kalian,” demikian beliau memberi motivasi. Yang sangat menarik, setelah anak didiknya memberi ceramah, beliau senantiasa tampil ke atas mimbar memberi catatan-catatan tambahan atau bahkan kritik halus atas isi ceramah, sebelum beliau memimpin shalat Tarawih dan Witir. Luar biasa cara mendidiknya.

Seingat saya, dari awal hingga akhir ramadhan, jamaah shalat Tarawih yang hadir dari beberapa dusun sebelah tersebut senantiasa memenuhi masjid. Tidak seperti jamaah shalat Tarawih yang saya saksikan masa kini, di awal ramadhan penuh dan menginjak pertengahan hingga akhir ramadhan semakin sedikit saja.

Siraman rohaninya diselenggarakan setelah shalat Isya’, menjelang masuk shalat Tarawih 8 raka’at dilanjutkan 3 raka’at shalat Witir. Istilah ceramah pengajiannya bertajuk kuliah tujuh menit (kultum). Walau bertajuk kultum, pada praktek penceramah jarang tepat tujuh menit, dan biasanya lebih dari sepuluh menit.🙂

Melihat banyaknya kalangan remaja dan anak-anak yang menjadi jamaah shalat Tarawih, saya sengaja mengambil tema cerita-cerita masa lalu orang-orang saleh dari khazanah Islam yang berlimpah. Dan ternyata sepanjang ingatan, justru ceramah dengan berkisah itu mudah ditangkap, dipahami, dicerna, dan menarik bagi para pendengar. Nyatanya memang menarik. Terbukti selama berceramah tidak saya lihat pendengar yang bercakap-cakap sendiri, atau bahkan mengantuk. Kuncinya ada pada cara penyampaian cerita yang pas.

Cerita Apel Haram: Kebaikan Menuai Keberkahan kali pertama saya baca dari sebuah buku tipis di kios buku pojok barat daya Pasar Godean saat saya bersekolah di SMP Negeri 1 Godean. Tak disangka, beberapa tahun silam saya menemukan cerita serupa dalam buku karya Dr Mulyanto, Kisah-kisah Teladan untuk Keluarga: Pengasah Kecerdasan Spiritual, yang diterbitkan oleh Penerbit Gema Insani. Saya seakan diingatkan kembali. Darinya, kisah yang pernah saya sampaikan tatkala masih remaja itu dapat pembaca ikuti saat ini. Selamat membaca.

***

Pada suatu hari, di tengah terik matahari, seorang pemuda berjalan di sepanjang sungai. Ia sangat lapar. Badannya lemas. Jalannya terhuyung-huyung. Saking laparnya, matanya berkunang-kunang. Segera ia minum air di sungai. Sedikit kesegaran terasa.

Sekonyong-konyong, bersama aliran air, muncul buah apel merah mengambang. Sang pemuda segera menangkapnya. Dibersihkan, lalu disantapnya dengan cepat. Rasanya manis sekali. “Apel yang nikmat,” serunya dalam hati.

Ketika laparnya hilang, sang pemuda baru sadar dengan apa yang dimakannya. “Apel ini bukan milikku. Kenapa aku memakannya? Padahal aku tidak tahu siapa pemiliknya,” ia membatin. Semakin direnungi, semakin ia merasa bersalah. Hatinya gundah dan tidak tenang. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari si empunya apel dan akan memohon ridha atas apel yang dimakannya.

Sang pemuda pun berjalan menelusuri sungai ke arah hulu, asal buah apel mengalir. Akhirnya, a menemui pohon apel berbuah lebat yang menjulur ke sungai. “Pasti dari pohon inilah apel yang kumakan tadi,” katanya dalam hati. Ia mencari pemilik buah apel itu. Ketika bertemu, sang pemuda menceritakan peristiwa yang dialaminya. Ia bersedia melakukan apa saja, agar sang bapak meridhai apel yang telah dimakannya.

Mendengar cerita si pemuda, bapak pemilik pohon apel sangat kagum. Jarang ia temui anak muda seperti ini. Gagah, sopan, jujur, dan sangat saleh. Alangkah berbahagianya jika ia dapat menjodohkan sang pemuda dengan anaknya yang sudah menginjak dewasa. Maka sang bapak pun mengatur siasat.

“Wahai anak muda,” kata sang bapak. “Niatmu sungguh mulia. Namun, aku sudah bersusah payah merawat pohon apel itu. Tidak bisa aku memaafkanmu begitu saja, kecuali kalau engkau bersedia menikahi putriku.” lanjut bapak itu. Sang pemuda tak berubah raut wajahnya dan dia bersedia.

“Apakah benar engkau bersedia anak muda?” kata bapak itu meragukan. “Engkau tahu anak muda. Anakku itu bisu, tuli, buta, dan kakinya lumpuh. Wajahmu pun biasa-biasa saja, tidak cantik. Bagaimana?” lanjutnya.

Si pemuda tetap pada kesediaannya. Tidak berubah. Ia siap melakukan apa pun untuk menebus kesalahannya. Si bapak semakin kagum. Akhirnya mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan itu dan si bapak memanggil anak gadisnya.

Betapa terperanjatnya si pemuda, anak gadis si bapak ternyata sehat-sehat saja. Tidak buta, tulis, bisu, apalagi lumpuh. Bahkan matanya sangat indah, dan wajahnya sangat cantik. Tidak tahan dengan keanehan itu, si pemuda pun berkata, “Wahai Bapak, anda bilang putrid anda bisu, tuli, buta, dan kakinya lumpuh. Tetapi, putri anda sehat-sehat saja. Bahkan, menurutku putri anda sangat cantik.”

Sang bapak tersenyum. “Begini anak muda,” katanya pelan. “Anakku kukatakan bisu dan tuli karena ia tidak pernah mengatakan dan mendengar hal-hal yang dilarang yang dilarang agama. Kukatakan buta dan lumpuh karena ia tidak pernah melihat sesuatu dan pergi ke tempat yang dilarang agama. Itu maksudku,” kata si bapak sambil terus tersenyum.

Dengan luapan rasa gembira pemuda itu menikahi putri si bapak tua. Ia tidak hanya lepas dari dosa memakan buah apel haram, tetapi juga mendapatkan jodoh seorang gadis yang cantik rupawan. Dari pasangan itulah lahir seorang pemuka Islam, yakni al-Imam Syafi’i.

Kebaikan senantiasa menuai keberkahan.

*****

Sumber Gambar: http://www.fruits.co.in

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apel Haram: Kebaikan Menuai Keberkahan

  1. Ping balik: Kisah Apel Imam Syafi’i | Afina Azizah's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s