Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja


Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide. Demikianlah salah satu penggalan larik puisi Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja, yang digoreskan oleh sastrawan Angkatan 66 Taufiq Ismail.

Puisi Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja ditulis Taufiq Ismail tatkala mengikuti seminar sejarah PDRI pada 26 September 1989. Apabila kita resapi kandungan makna puisi panjang di bawah nanti, niscaya kita dengan tepat dan lugas mendapat perspektif dan penggambaran memikat mengenai sosok-sosok orang kecil ‘tanpa nama’ yang turut menyumbang kemerdekaan tanah air kita tercinta ini.

Dari perspketif dan penggambaran yang kita peroleh ini, kita mustinya menggugat dalam diri masing-masing: masihkah sikap ikhlas dan bersahaja yang menjadi jiwa banyak orang di masa awal republik ini menjadi panutan generasi kita di masa kini?

Selamat menyimak puisi Aku Rindu Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja berikut. Saya kutip dari buku Ketika Kata Ketika Warna, kumpulan puisi dan lukisan pilihan yang diterbitkan dalam rangka 50 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1995. Di buku tersebut, puisi-puisi lain Taufiq Ismail yang disajikan, yakni: Dengan Puisi Aku, Dari Catatan Seorang Demonstran, Kembalikan Indonesia Padaku, dan Kopi Menyiram Hutan.

***

Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja
(catatan-catatan ketika mengikuti seminar sejarah PDRI, 26 September 1989)

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas,
bagai menyaksikan sebuah pentas,
Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali
kembali ingatan pada Agresi Kedua, 1948 tahunnya,
Aku berenang di antara arus kertas kerja, penelitian, bibliografi dan
wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang
disajikan, kurasa sudah kukenal anotomi dan fisiologi-sukmamu
wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sososk-sosok
pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan
negeriku ini, mereka dahulu cendekian-cendekia sangat belia,
pemuda-pemuda yang memahat sebuah negara, remaja-remaja
yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio
dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut
tanpa armada, penerbang yang merindukan sayap-sayap, para
pemberani yang tabah menghadapi segala kemuskilan dalam
beribu format,

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang
jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomade yang
lengket, dan aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan,

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan
uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran
serta ide,

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di
ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan
Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain
pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka
ketika memerdekan Nusantara,

Mari kita tundukkan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik,
dan kita bacakan dalam hati Al-Fatihah untuk mereka,

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan
terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut
wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu
telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah
tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat
terbang untuk perang kemerdekaan.

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka
di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori Apa Siapa,
di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk
dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa
maupun versi partikelir atawa swasta.

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka
semuanya ini? Mengapa bisa berjuta-juta marionette menari dan
melonjak-lonjak dalam suatu simponi gerakan yang sedemikian
ruwet tapi sekaligus akhirnya Nampak beraturan di atas panggung
histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu
para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah
mereka menjawabnya?

Aku saksikan kepala-kepala yang cendekia menggeleng perlahan.
“Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,
“sebenarnya tahu sedikit saja.”

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan: suatu zaman
yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu
zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan
dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran
panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak
tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman di mana
sikap bersahaja diperebutkan.

***


Profil Singkat Taufiq Ismail:

Lahir di Bukittingi Sumatera Barat 25 Juni 1935. Antologi bersamanya adalah Manifestasi (1963). Kumpulan puisinya: Tirani (1966), Benteng (1966), Buku Tamu Musium Perjuangan (1969), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit (1971), Sajak Ladang Jagung (1973),  Kenalkan Saya, Hewan (sajak anak-anak, 1974), Puisi-puisi Langit (1990). Bersama D.S. Moeljanto dia menyusun Prahara Budaya (1995). Taufiq Ismail yang juga tokoh sastra Angkatan 66 ini adalah penerima Anugerah Seni (1970), Australian Cultural Award (1977) dan South-East Asia Write Award (1994).

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Bilik Sastra dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja

  1. Pecahbanget.com berkata:

    widih mantep bang..
    nice share..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s