Sisi Lain Masalah Minat dan Kemampuan Membaca


Sisi Lain Masalah Minat dan Kemampuan Membaca. Dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read, Glenn Doman  mengungkapkan membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.

Selanjutnya dikatakan, apabila belajar dibuat dengan cara-cara menyenangkan bagi anak, maka sang anak akan memiliki kapasitas yang hampir tak terbatas untuk mengambil, menyerap dan mempertahankan informasi. Dengan kata lain, anak akan menggunakan kemampuannya untuk memproses informasi intuitif dalam rangka untuk mengingatnya.

Apa yang diungkapkan Glenn Doman di atas, tidak terbantahkan relevansi dan kebenarannya. Saya sendiri punya pengalaman masa kecil soal dimaksud.

Buku cukup tebal Ramayana dan Mahabarata, saya baca habis tatkala kelas 3 Sekolah Dasar. Detail kisah-kisah dalam kedua buku itu masih saya ingat hingga saat ini.

Terkait dengan epos Ramayana dan Mahabarata dimaksud, manakala ketiga anak saya di rumah menyukai dan menanyakan beberapa pigur dalam film animasi “Little Krishna” di stasiun tv MNC, misalnya,  tanpa susah payah saya bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Siapa Rama, Laksmana, Sinta, Rahwana, Hanoman, Raja Kangsa, Krishna dan sebagainya… semuanya masih terpatri dengan segar di langit pikiran saya.

Di sekolah dasar (SD), guru-guru pun geleng-geleng kepala lantaran hampir semua koleksi buku dan majalah anak yang ada saya baca tuntas. Di perpustakaan SD pada sebuah ruangan yang agak sempit, saya suka membaca buku-buku fabel manca negara. Di situ pula terserak majalah khusus anak Si Kuncung dan Kawanku (ada cerita kartun Si Tomat yang saya nantikan dengan harap-harap cemas saat majalah ini terbit).

Bahkan lantaran tahu menyukai membaca, pihak sekolah pernah mengirim lomba bercerita siswa SD tingkat kecamatan, yang sayangnya lantaran demam panggung, saya kalah!🙂

Segi lain yang mendorong saya suka membaca sejak kecil, adalah lingkungan. Beberapa tetangga dekat rumah yang kebetulan berprofesi sebagai guru, berlangganan koran dan majalah. Di mana saya juga ‘numpang’ membaca.

Jadilah koran Suara Karya, majalah Penyebar Semangat, Joko Lodang, majalah Krida menjadi bacaan rutin di sela-sela bermain sebagaimana galibnya anak kecil masa itu. Majalah Penyebar Semangat dan Joko Lodang adalah majalah mingguan berbahasa Jawa, dan majalah Krida merupakan majalah intern KORPRI Jawa Tengah.

Yang tersisa dari ingatan bacaan-bacaan di atas, yaitu cerita bergambar “Phantom” (komik petualangan) di halaman belakang majalah Penyebar Semangat.

Nah, itulah sekelumit kisah persentuhan saya dengan bacaan di masa kecil.

***

Pembaca pastilah bertanya, apa yang dapat menumbuhkan minat dan kemampuan anak membaca? Jawabnya, sekali lagi berkaca pengalaman masa kecil diri saya sendiri.

Pertama, hasrat diri sendiri. Minat dan kemampuan membaca tidak bisa dipaksa-paksa. Ia musti lahir dari diri sendiri. Tugas dari orang tua hanyalah mendorong akan arti penting aktivitas membaca.

Kedua, dorongan lingkungan. Apabila anak berada dalam lingkungan di mana orang tua dan lingkungan sekitar rumah yang rendah membaca, dan lebih banyak menonton tayangan televisi, umpamanya, niscaya anak juga akan meniru kebiasaan tersebut. Ia akan meniru kebiasaan menonton ketimbang membaca.

Ketiga, ketersediaan bahan bacaan. Bagaimana mungkin kita akan menumbuhkan minat dan kemampuan membaca anak, sementara tidak ada bahan bacaan yang tersedia? Hemat saya bahan bacaan pun tidak harus buku-buku baru yang mahal. Buku-buku atau majalah lama yang bisa dibeli di pasar loak dengan harga terjangkau, rasa-rasanya sudah cukup untuk merangsang anak mau membaca. Yang penting isi, tata letak, bahasa dan penyajiannya menarik bagi anak.

Setidaknya ketiga hal inilah, menurut saya yang akan memupuk minat dan kemampuan membaca seseorang sejak kecil. Lantas, apa yang diharapkan setelah seseorang tumbuh minat dan kemampuan membacanya?

Di bagian awal posting ini dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dari kemampuan membaca itu, seseorang  dalam kehidupannya diharapkan mampu:   1). learning to thing – belajar berpikir; 2). learning to do —- belajar berbuat; 3). learning to be — belajar untuk tetap hidup, dan 4). learning to live together —- yaitu belajar hidup bersama, baik antar sesama lingkungan sekitar hingga antar bangsa.

Tidak perlu saya ulas satu per satu 4 (empat) pilar di atas. Pembaca sudah mengerti, bukan?

*****

Sumber Gambar: http://koleksitempodoeloe.blogspot.com

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah, Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sisi Lain Masalah Minat dan Kemampuan Membaca

  1. yudi berkata:

    bagaimana dengan tindakan seorang pengajr yang baik dalam mmbrikan pemahaman atau membri pengajaran kepada para peserta agar mereka dapat mmahami ttng pmbelajarn membaca d skolhnya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s