Pada Hakikatnya, HMI Adalah Sebuah Perusahaan


Eki Syahcrudin Moral Politik (Scan Dwikis)

Eki Syachrudin Moral Politik (Scan Dwikis)

Pada Hakikatnya, HMI adalah Sebuah Perusahaan. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan menyelenggarakan Kongres ke-27 pada 5 hingga 10 November 2010 mendatang di Graha Insan Cita (GIC) Depok Jawa Barat. Kita tentu berharap, selain kongres itu memunculkan formatur/ketua umum baru yang akan memimpin PB HMI dua tahun ke depan, juga dari arena kongres akan lahir pikiran-pikiran cerdas yang berfaedah bagi masyarakat luas.

Guna menyambut Kongres ke-27 Himpunan Mahasiswa Islam dimaksud, mulai hari ini akan saya turunkan beberapa tulisan lama terserak. Baik itu berupa reportase dan artikel di media massa, naskah ceramah, catatan maupun buku yang ditulis tentang HMI. Mohon jangan dilihat dari lamanya saat tulisan itu dibuat, namun lihatlah pemikiran-pemikiran cerdas yang terkandung di dalamnya. Kiranya dari publikasi tulisan-tulisan lama ini, siapa pun dari kader HMI yang akan memimpin PB HMI dua tahun ke depan, bisa mengambil mutiara hikmah yang ada dari tulisan berseri ini.

Saya awali dengan tulisan almarhum Eki Syachrudin bertitel Pada Hakikatnya, HMI adalah Sebuah Perusahaan yang ia tulis pada 1996. Saya kutip dari buku Moral Politik Sebuah Refleksi halaman 671-674. Buku Moral Politik tersebut merupakan sebuah bunga rampai tulisan Mang Eki (panggilan akrab Eki Syachrudin) yang diterbitkan oleh LP3ES tahun 2006 lalu. Selamat membaca.

***

Pada Hakikatnya, HMI Adalah Sebuah Perusahaan

Oleh Eki Syachrudin

Sebuah perusahaan itu bisa memproduksi barang-barang, seperti radio dan mobil atau bisa juga berupa buah mangga dan durian atau nanas, tergantung dari jenis perusahaan yang bersangkutan, apakah manufaktur atau agrobisnis. Tapi, sebuah perusahaan, bisa juga tak menghasilkan benda-benda atau komoditi yang fisik bentuknya, tapi tetap ia memperoleh penghasilan melalui produksi jasa-jasa atau services, seperti perusahaan konsultan dan rumah sakit.

Pendeknya, sebuah perusahaan, apabila ia mau survive apalagi bila ia mau berkembang, ia bukan saja harus mampu memproduksi barang atau jasa secara kontinyu, tapi harus dengan harga kompetitif, mutu yang handal, baik karena kegunaannya, performance-nya dan mampu “mengikat” loyalitas konsumennya, karena terpenuhinya unsur-unsur kesetiaan dan lain sebagainya. Tanpa itu, perusahaan bukan saja tak berjaya di pasar tapi lama kelamaan mereka akan bangkrut.

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), menurut pikiran saya, juga merupakan sebuah perusahaan, dengan produk yang tertentu pula. Produk utama dari organisasi yang bernama HMI ini, berbeda dengan produk dari perusahaan konvensional, ia terutama, memproduksi “pikiran-pikiran” yang “dijual” ke tengah-tengah masyarakat, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap pikiran itu bisa dipenuhi oleh produk berupa konseo-konsep yang dihasilkan organisasi HMI itu. Pikiran, seperti juga barang, merupakan sebuah kebutuhan, yang apabila tidak dipenuhi oleh suatu perusahaan, ia akan diproduksi oleh perusahaan lain, sepanjang demand terhadapnya masih ada.

Pikiran merupakan komoditi “abstrak” yang dibutuhkan secara esensial oleh manusia, sebab manusia bukan hanya membutuhkan makanan untuk pengisi perutnya, pakaian untuk membalut badannya, kesenian untuk menghibur hatinya, tapi juga konsep-konsep, way of life, agama, ideologi, ilmu, dan hal lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kepala dan hati nuraninya.

Apakah HMI telah menempatkan diri sebagai produser aneka komoditi abstrak itu tadi untuk memenuhi demand bagi pikiran manusia, atau organisasi ini hanya sebagai konsumen belaka dan “mempercayakan” pemenuhan kebutuhan pikiran dan perangkat ruhaniah kepada produsen lain, seperti organisasi-organisasi politik atau kemasyarakatan yang berkiprah di arena kehidupan nasional?

Mari kita buka buku sejarah organisasi ini. Apabila kita “kebet” halaman demi halamannya maka kita akan tahu apakah para pemimpin dan anggota organisasi mahasiswa terbesar ini sadar akan fungsinya sebagai pabrik pikiran-pikiran berupa konsep-konsep, apakah itu di bidang kemahasiswaan, kepemudaan, kemasyarakatan atau sosial, ekonomi, politik bahkan pandangan hidup. Ataukah mereka demikian tak mampu sehingga cukup menjadi konsumennya belaka? Seandainya mereka hanya mampu berfungsi sebagai konsumen belaka, maka statusnya sebagai perusahaan, bila tak berproduksi, artinya mau tak mau ia akan bangkrut, merugi atau makin mengecil.

0OO0

Pada masa Orde Lama (1960-1965), di mana saya terlibat secara intens dalam organisasi ini, peranan sebagai produsen pikiran itu nyaris tak seberapa, sebab segala kebutuhan rohani pikiran kita telah dipenuhi oleh produsen yang ada ketika itu, seperti produk-produk berupa ideologi Nasakom, doktrin Manipol, Ganyang Malaysia, dan Ganyang Kontrev. Dengan mengkonsumsi ide-ide, konseop-konsep serta way of life dari produsen lain itu, maka PB HMI waktu itu mempengaruhi pengadilan agar almarhum Kasman Singodimejo, sang perintis kemerdekaan, mantan Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), dihukum seberat-beratnya. Bahkan, mengenai konsep revolusi dunia, di mana Malaysia dianggap sebagai the life line of imperialism dan oleh karena itu harus diganyang, tak kurang dari Ketua Umum PB HMI sendiri ketika itu berangkat ke perbatasan untuk menyerbu Malaysia. Sang Ketua Umum ini sudah melakukan pelbagai latihan kemiliteran dan sudah ditempatkan di Provinsi Aceh, bersiap-siap untuk menyeberangi selat Malaka dan menyerbu ke Malaysia, demi revolusi, demi Nasakom dan Manipol, yang ternyata kemudian merupakan konsep Nyoto yang diadopsi oleh Bung Karno, sang Pemimpin Besar Revolusi.

Bahkan demikian mudahnya kita “melahap” produk-produk pikiran pabrik lain, yang notabene adalah lawan-lawan umat Islam, ditelan begitu saja, sampai-sampai PB HMI pun sama sekali tak membantunya bahkan menjauhinya, sebab ia adalah musuh revolusi, suatu konsep yang “dimamah” begitu saja oleh para pemimpin HMI ketika itu. Siapa yang salah? Kita semua juga bersalah. Tapi kesalahan itu terutama menjadi tanggungjawab siapa? Pada waktu itu, ada juga upaya-upaya agar kita tak terbawa habis oleh komoditi orang lain, tapi upaya-upaya itu tak mempunyai arti apa-apa, sebab sebagian besar kita memang :mengidap” rasa rebdah diri dan tak jelas apa fungsinya sebagai perusahaan yang harus memproduksi pikiran-pikiran.

Secara kecil-kecilan, saya mencoba mengangkat soal itu, soal bahwa kita tak hanya sekedar menjadi konsumen, dan jangan menari di atas genderang orang lain! Tapi upaya-upaya itu berakhir dengan “pemecatan” saya bersma saudara Nazae E Nasution yang ketika itu menjadi Ketua I HMI Cabang Jakarta, beberapa hari setelah konferensi cabang selesai pertengahan 1964.

Syukur tak lama kemudian terjadilah peristiwa G 30 S itu, di mana kemudian segala konsep-konsep yang kita “telan” mentah-mentah terpaksa harus dimuntahkan kembali. Sebab Nasakom, Manipol, Resopim dengan konsekuensi mengganyang Malaysia, menahan dan menghukum pelbagai orang tak bersalah, ternyata dikoreksi oleh arus perubahan yang baru.  Syukurlah kita termasuk penggerak dan pendorong arus baru tersebut, sehingga perasaan bersalah kita agak bisa terobati. Bukan begitu Mas Tom (red: Sulastomo mantan Ketua Umum PB HMI) dan bukankah begitu juga Pak De? (red: Dahlan Ranuwihardja mantan Ketua Umum PB HMI).

Sebagai sebuah perusahaan, apa jualan kita di masa-masa mendatang? Apakah hanya sekedar mencari “selamat” seperti pada era Orde Lama?

00OOO00



Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Tinjauan Buku dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Pada Hakikatnya, HMI Adalah Sebuah Perusahaan

  1. sarjoni berkata:

    Selamatkan Intelektual muda HMI dari Serangan Politik Busuk para Perusak….

  2. hardono berkata:

    HMI (Dipo) mau jualan pemikiran? Capek deeeeecccchhhhhh….

  3. edyputra1989 berkata:

    HMI jangan kau terpecah belah,..😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s