Nyaris Celaka Gara-gara Mainan Anak


 

Mainan Anak (Foto: Dwikis)

Mainan Anak (Foto: Dwikis)

 

Ini pelajaran berharga buat keluarga saya, dan mudah-mudahan tulisan ringan ini menjadi perhatian pembaca. Hanya gara-gara mainan anak, putra bungsu saya, Asgar Haidar Klatinski (4,5 tahun) tadi malam (7/10) nyaris celaka. Sebuah benda bulat warna hijau terbuat dari plastik yang ternyata peluru dari pistol mainan masuk ke dalam hidungnya. Benda asing itu sudah menjorok ke dalam.

Peristiwanya berlangsung begitu cepat. Entah bagaimana awal mulanya, sekonyong-konyong tanpa menangis ia berkali-kali memasukkan jari telunjuk ke dalam hidungnya. Mungkin maksudnya akan mengeluarkannya sendiri. Curiga pada keanehan ini, istri saya menanyakan dan dijawab anak bahwa hidungnya kemasukan benda asing.

Saya periksa hidung si anak dengan senter kecil. Betapa kagetnya kami, sebuah benda bulat warna hijau ada di lubang kiri si anak. Benda asing tersebut sudah agak menjorok ke dalam. Untungnya kami berdua tidak panik mensikapi peristiwa itu. Lantas bersama istri, saya mencoba mengeluarkan benda asing itu dengan alat khusus. Tatkala alat khusus saya coba untuk mengeluarkan benda asing itu, kadang ia geli, dan kadang ia (mungkin) kesakitan. Berkali-kali mencoba, dan gagal, akhirnya segera saya putuskan untuk membawa anak ke poliklinik yang hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari rumah. Untung pula kejadianya belum larut malam sehingga poliklinik yang dekat rumah tersebut masih buka. Di samping itu, anak saya tenang.

Sesampai di poliklinik segera ditangani seorang dokter, dengan dibantu oleh tiga orang asisten. Lubang hidung kiri anak lalu disemprot cairan tertentu. Maksudnya barangkali sebagai pereda rasa geli dan sakit. Pantas saja saat saya mencoba mengeluarkannya sendiri si anak merasa geli dan kesakitan. Setelah disemprot cairan itu, nampak lubang hidung agak membesar. Dan dengan alat yang persis sama dengan saat saya gunakan di rumah, dengan mudah benda asing itu dikeluarkan. Legalah kami. Berapa biaya mengeluarkan benda asing itu dari lubang hidung? Tidak banyak sih. Hanya lima puluh ribu rupiah.

Setelah semuanya beres, sang dokter mengatakan bahwa jika tidak ditangani segera, benda asing itu bisa masuk ke paru-paru. Wah-wah, terkejut juga mendengar penuturan dokter.

Sesungguhnya, di rumah kami sendiri mainan anak yang ada didominasi unsur edukasi. Antara lain boneka bermacam-macam untuk kegiatan mendongeng, mobil-mobilan, fuzzle, dan rubik. Pistol mainan hanya satu. Dan itu pun milik kakaknya yang kini kelas lima SD. Namun justru dari yang satu ini nyaris melahirkan marabahaya.

***

Dari peristiwa di atas, saya kemudian berkesimpulan (walau sebelumnya sudah tahu soal ini) bahwa bermain di rumah bagi anak tidak kalah berbahayanya dengan  bermain di luar rumah. Malah boleh dikatakan, rumah yang kita anggap aman untuk bermain anak sesungguhnya menyimpan bahaya tak terduga jika kita sebagai orang tua yang memiliki anak kecil lalai mengawasinya.

Saya kemudian teringat peristiwa masa kecil. Seorang teman sepermainan tersiram air panas satu dandang sekujur tubuhnya. Saat itu si teman bermain sepatu roda di dalam rumah. Berkeliling satu ruangan ke ruangan lain hingga akhirnya menuju dapur. Lantaran sesuatu dan lain hal, saat meluncur memakai sepatu roda ia tidak bisa mengendalikannya. Menabrak meja kayu dudukan kompor, terjatuh di dekatnya, dan air panas dan baru saja dimatikan ibunya segera mengguyurnya. Sampai sekarang, Teguh, nama teman sepermainan masa kecil itu cacat seumur hidupnya.

Sebagaimana kita tahu, di rumah banyak sekali benda-benda yang kita anggap remeh berpotensi mencelakai anak. Mulai dari  pintu kaca bufet, sudut-sudut lancip perlengkapan furnitur, knalpot sepeda motor, setrika habis dipakai, colokan listrik, lantai licin di kamar mandi dan sebagainya. Dan tentu saja mainan anak yang kita koleksi.

Terkait dengan mainan, pelajaran penting yang dapat dipetik hanya satu: katakan saja tidak pada anak, jika ia meminta suatu mainan yang kita anggap dapat membahayakan dirinya. Bukan hanya mainan semacam pistol-pistolan, namun terhadap segala mainan apapun, kita musti menimbang-nimbang apakah itu membahayakan atau tidak. Pula kita musti melihat label umur yang tertera di kemasan mainan. Terkadang untuk soal yang satu ini, banyak orang tua merasa tidak tega jika anak merengek-rengek minta dibelikan mainan tertentu.

Akhir kata, katakan saja tidak! Mau anak ngambek, meraung-raung nangis dan seterusnya apabila kita sebagai orang tua merasa bahwa mainan anak yang diinginkan anak tidak cocok untuk usianya dan akan membahayakan dirinya sendiri.

******

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Nyaris Celaka Gara-gara Mainan Anak

  1. bahri berkata:

    baru2 ni malah menewaskan seorang anak prempuan,, wt orang tua mmg hrs megawasi dengan ketat.

  2. ARIYANTO berkata:

    wah,, bagus benar infonya,.
    memang anak kecil harus dapet perhatian lebih,..
    infonya lagi yang bagus dunx,,.

  3. sebuah keteledoran orang tua walaupun sedikit,, bisa mengakibatkan celaka bagi anak kita,
    jadi kita harus selalu memperhatikan anak kita ketika dia masih anak-anak.

  4. infonya menarik, i like it.

  5. Meja Makan berkata:

    terimakasih infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s