Nilai Budaya Menabung Ketimbang Membelanjakan


Kita semua ditakdirkan bakal mati, maka biarkanlah kita membelanjakan uang. Kita semua akan hidup lama, maka segeralah menabung. (Mutiara Hikmah Bangsa Sumeria)

Jacques Attali adalah seorang novelis, esais, dan penulis terkemuka Perancis. Ia pernah menjadi penasehat ekonomi Presiden Francois Mitterand tatkala memerintah. Selain daripada itu, Attali pernah menjabat sebagai Presiden Bank Pembangunan dan Pengembangan Eropa di London. Ia memang dikenal sebagai profesor ilmu ekonomi di Ecole Polytechniques Paris. Salah satu bukunya yang cukup menggelitik bertajuk Millenium: Winners and Losers in the Coming World Order.

Buku Milenium karya Attali mendapat penghormatan kata pengantar dari penulis ‘future’ terkenal Alvin Toeffler tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta pada 1997 lalu. Dan diberi titel: Milenium Ketiga Yang Menang, Yang Kalah dalam Tata Dunia Mendatang. Sekalipun beberapa kecenderungan ekonomi dunia yang coba dikemukakan Attali pada buku tersebut, hemat saya kurang tepat untuk kondisi saat ini, namun ia berhasil tatkala memotret Jepang dari kekuatan ekonomi yang dimilikinya.

Dibahas cukup panjang lebar, Attali berhasil merumuskan beberapa hal yang mendorong Jepang, melebihi bangsa-bangsa lain, dalam berpacu untuk masa depan. Menurut Attali, “Jepang adalah bangsa yang lebih banyak menabung ketimbang membelanjakannya, dan mengekspor lebih banyak daripada mengimpor. Mereka memiliki wawasan ke depan untuk berbagai kepentingan, kemampuan bekerja keras, komitmen terhadap kualitas, mempunyai bakat penemuan dan memproduksi barang-barang konsumsi baru yang diproduksi secara besar-besaran, keinginan untuk belajar dari bangsa lain, dan dinamis terhadap dunia luar.”

Semua bangsa di dunia ini yang tengah terlilit masalah dan tengah berjuang mensejajarkan dirinya sebagai bangsa maju dan berkarakter, tak terkecuali bangsa Indonesia, tentunya ingin meniru capaian kemajuan seperti halnya Jepang. Nilai-nilai yang dikemukakan Attali dimaksud bersifat universal. Jika ada kemauan, pastilah ada jalan untuk meretas kemajuan secara ekonomi, politik, sosial dan budaya yang diidam-idamkan itu.

Dari beberapa hal yang telah diungkap Attali tentang nilai budaya bangsa Jepang di atas, perlu digaris bawahi soal nilai ‘lebih banyak menabung ketimbang membelanjakan’. Sekalipun soal ini telah merasuki kesadaran banyak orang untuk melakukannya, namun tidak bisa kita pungkiri pula timbulnya gejala merajalelanya budaya konsumtif di kalangan masyarakat kita. Suatu hal yang bertolak belakang tentunya.

Jepang adalah bangsa yang lebih banyak menabung ketimbang membelanjakannya, dan mengekspor lebih banyak daripada mengimpor. Mereka memiliki wawasan ke depan untuk berbagai kepentingan, kemampuan bekerja keras, komitmen terhadap kualitas, mempunyai bakat penemuan dan memproduksi barang-barang konsumsi baru yang diproduksi secara besar-besaran, keinginan untuk belajar dari bangsa lain, dan dinamis terhadap dunia luar.

Jika kita cermati di banyak tempat di dunia ini, turunan dari nilai ‘lebih banyak menabung ketimbang membelanjakan’ itu akan mendorong orang untuk melakukan hal-hal produktif ketimbang konsumtif bagi hidup dan kehidupannya. Dengannya segala upaya dilakukan hanyalah untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya, keluarga, masyarakat, dan bangsanya. Bagi sebuah bangsa, jika saja nilai budaya ‘lebih banyak menabung ketimbang membelanjakan’ beserta turunannya itu menjadi pegangan masyarakatnya, maka salah satu penyangaa perekonomian berbasis nilai budaya itu telah tegak berdiri dengan kokoh.

Kita bisa saja berargumen bangsa ini masih terseok-seok di jalan ekonomi yang belum mapan, banyak dari elemen masyarakat kita yang miskin, dan sebagainya, sehingga nilai ‘lebih banyak menabung ketimbang membelanjakan’ masih merupakan utopia. Namun kampanye besar-besaran terkait masalah yang satu ini mutlak dilakukan. Lantaran bagaimanapun juga kecenderungan ‘jor-joran’ budaya konsumtif masyarakat kita saat ini lambat laun akan mengakibatkan tingkat inflasi tinggi, yang pada gilirannya menggerogoti sendi-sendi ekonomi bangsa. Laksana sebuah balon yang ditiup perlahan membesar, untuk pada akhirnya meletus menjadi bencana yang sulit untuk meredamnya!

****

Sumber Ilustrasi Gambar: http://shortcutstofabulous.com

Artikel di atas merupakan bagian pendahuluan dari sebuah esai yang saya tulis untuk dilombakan pada Lomba Karya Tulis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dengan tema “Peran dan Fungsi LPS dalam Menjamin Simpanan Nasabah Perbankan”.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Nilai Budaya Menabung Ketimbang Membelanjakan

  1. sarjoni berkata:

    bener itu kawan, dan satu lagi bangsa indonesia adalah bangsa yang rakyat demam jadi pegawai negeri sedikit sekali yang demam jadi pengusaha kalaupun ada itu mungkin warga pribumi blasteran,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s