Dikritik Gara-gara Kalimat Salam Sejahtera


Pengalaman yang pernah saya alami ini cukup menggelikan. Pada suatu pertemuan Reuni Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo di Jakarta dua tahun lalu, seorang alumni mengkritik surat undangan yang diterimanya. Gara-garanya ada kalimat “Salam Sejahtera” di bagian pembuka surat. Saya jelas tertohok kritik tersebut, lantaran konsep surat saya sendiri yang membuat. Pula yang mengirim ke kurang lebih 100 undangan.

Sesungguhnya, hemat saya, format surat undangan yang dibuat itu standar. Khas surat undangan ala HMI. Ada kalimat pembuka Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Dan kalimat penutup klasik Billahittaufiq Wal Hidayah; Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang dipersoalkan, setelah kalimat pembuka Assalamua’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, kemudian saya tulis, “Salam sejahtera mengawali segenap kata, semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Amiin.” Lantas  ke inti bagian surat dan seterusnya.

Menurut si pengkritik tersebut, kalimat “Salam Sejahtera” itu tidak mencerminkan Islam. Tidak islami. Itu punyanya Nasrani. Dan seterusnya hingga ia mengunci kritiknya seraya mengatakan, “Besok lagi jika membuat surat undangan serupa hendaknya tidak ada lagi kalimat “Salam Sejahtera“!

Saya sendiri sebenarnya geram  mendengar kritik itu. Untungnya saya tahan. Tatkala mendapat kesempatan klarifikasi, hanya saya katakan kritik (bahasa lisannya masukan) diterima. Coba bayangkan, sudah  capek-capek mengorganisir kegiatan nirlaba semacam Reuni Alumni HMI itu –bahkan kadang nombok— masih ada saja yang mempersoalkan hal sepele semacam kalimat “salam sejahtera” itu.

Pikir saya, orang yang mengatakan bahwa kalimat “Salam Sejahtera” milik suatu kaum (dalam hal ini Nasrani) sesungguhnya picik jalan pikirannya. Tidak ada dalil yang bisa dipegang berkenaan dengan penggunaan kalimat tersebut. Sebabnya, kalimat dimaksud sifatnya generik. Dapat  dipakai dan dipergunakan kepada siapa saja dalam lingkungan NKRI. Bukankah begitu?

Sumber Gambar: http://groups.yahoo.com

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Dikritik Gara-gara Kalimat Salam Sejahtera

  1. maria berkata:

    Pro dan kontra itu sudah biasa. Sabar aja ya Pak

  2. yuliana ibrahim berkata:

    yang sabar kanda….namanya juga HMI, klo gak kritis bkn HMI namanya

  3. kalongking berkata:

    Harusnya bersyukur ya mas sudah diundang. Bukankah dengan diundang berarti itu juga sebagai bentuk penghormatan? Bisanya kontraaaa aja. Tetap semangat mas.

  4. jjlea berkata:

    saya orang nasrani, saya tekankan bahwa kata salam sejahtera itu bukan monopoli orang nasrani, tapi itu dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat indonesia.

  5. dianw1968@yahoo.co.id berkata:

    Kadang yang mengkritiki hal hal sepele yang tidak ada dasar hukumnya , justru sering mengesampingkan hal hal yang lebih besar yang justru dikesampingkan. Mungkin dia sering perpakaian ala timur tengah . Kopiah putih baju gamis sehingga melupakan pakaian nasional peci hitam baju safari yang sudah susah payah diperkenalkan ke selurug dunia oleh Presiden Soekarno, Karena sebenarnya Islam tidak indentik dengan arab , hanya kebetulan nabinya dari arab maka adat istiadat arab banyak dilakukan Nabi……..jadi yang dilihat luarnya tidak dalamnya. Wong Abu Lahab dan abu jalal juga berpakaian sorban baju gamis jubah dlsb padahal jelas jelas kafir dan masuk neraka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s