Dua Jam Saja Stop TV di Rumah


Keluargaku

Keluargaku

Dua jam saja stop tv di rumah. Mulai pukul 18.00  hingga pukul 20.00 WIB setiap harinya, terkecuali keesokan harinya libur sekolah. Ini kebiasaan yang telah berlaku semenjak anak pertama saya, Chiara Sabrina Ayurani, duduk di bangku sekolah dasar (SD). Hingga tulisan ini dibuat, peraturan rumah tangga tidak tertulis itu telah berlangsung selama 6 tahun.

Tahun ajaran baru pada Juli 2010 mendatang, Chiara masuk sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Mendeteksi catatan akademisnya yang cukup lumayan, dengan sistem rayon yang berlaku di DKI Jakarta, ada beberapa SMP Negeri  yang salah satunya akan ia masuki: SMP Negeri 49, SMP Negeri 103 atau SMP Negeri 179. Ketiganya merupakan SMP negeri di Jakarta Timur dengan standar di atas rata-rata.

Sementara itu,  anak kedua, Kevin Rizki Mohammad, akan naik kelas V di SD Islam PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur. Seperti kakaknya, prestasi akademisnya cukup menonjol. Bahkan sejak kelas I berada di ranking 1 kelas. Sedangkan anak ketiga (bungsu), Asgar Haidar Klatinski (4 tahun), mengikuti play group di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mawar RW 010 Kelurahan Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur.

Saya tidak bermaksud menghubungkan kaitan antara dua jam stop tv di rumah dengan prestasi akademis. Soalnya hal yang menyangkut prestasi akademis dipengaruhi banyak faktor. Namun saya percaya, bahwa cepat atau lambat, tayangan tv memiliki dampak yang kurang baik bagi perkembangan mentalitas anak. Untuk pembaca ketahui,  waktu yang terentang selama dua jam tanpa tayangan tv di rumah itu, bagi anak-anak saya di rumah justru dimanfaatkan untuk bermain ketimbang belajar (dalam arti belajar pelajaran-pelajaran sekolah).

Di samping bermain, kebiasaan anak suka membaca juga tersemai dengan sendirinya di antara waktu tanpa tayangan tv di rumah itu. Lantaran di rumah saya gemar membaca, maka anak-anak pun meniru kebiaasaan orang tuanya. Karenanya, saya menyediakan buku-buku bacaan anak dan beberapa koran yang saya bawa tiap harinya dari kantor. Tanpa diperintah pun, anak sudah mencari sendiri informasi-informasi yang disukai.

Sisi positif lain dari dua jam tanpa tayangan tv tentu saja suasana rumah yang tenang. Suatu suasana yang nyaman dan kondusif untuk aktivitas apa saja: mulai dari bermain, belajar Qur’an, membaca hingga mendekatkan dan menghangatkan antara satu anggota keluarga dengan lainnya. Di mana hal semacam itu susah diwujudkan tatkala rumah diberisikkan oleh aneka program televisi.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Dua Jam Saja Stop TV di Rumah

  1. aura pelupa berkata:

    Ide yang bagus, akan saya terapkan dirumah! Sukses buat keluarganya dan anda!

  2. Fifi berkata:

    dulu pernah diterapkan ma orang tua untuk tidak nonton TV sama sekali kecuali liburan, kerasa banget manfaatnya, tidak banyak informasi2 jelek yang masuk ke benak…

    (http://nurafifah06.student.ipb.ac.id/)

  3. indyastaric06 berkata:

    benar sekali..2 jam tapi sepertinya manfaatnya besar,,

  4. anonymous berkata:

    dalam hal ini orang tua lah yang paling berperan..

  5. selly berkata:

    boleh dicoba nih, tks..

  6. d4li berkata:

    Hmmm…kayaknya gak terlalu susah ya idenya diterapkan
    apalagi kalo kita langganan tv satelit bisa tuh di lock channel2 mana yg kira2 “tidak kondusif” buat anak2 kita…
    cool idea…(y)

  7. Ya untung tv drumah saya sudah terbiasa tidak ada yang berminat nonton tv,paling hanya sekedar teman tidur dimalam hari saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s