Kerja Keras Adalah Energi Kita: Profil dan Pemikiran Ibrahim Hasyim


VLCC 260.000 DWT (http://www.nauticexpo.com)

VLCC 260.000 DWT (http://www.nauticexpo.com)

Masih ingatkah anda dengan pengadaan dua kapal tanker raksasa  tipe Very Large Crude Carrier (VLCC) yang pernah dimiliki Pertamina? Kapal-kapal tersebut direncanakan untuk mengangkut minyak mentah dari Timur Tengah ke kilang Cilacap. Pengadaan tanker dimaksud merupakan hal yang pertama kali dilakukan dan merupakan tanker terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Dimiliki sekejap,  akhirnya VLCC itu dijual kembali oleh pemerintah  cq Meneg BUMN Laksamana Sukardi di era Presiden Megawati Sukarno Putri. Hal mana  melahirkan protes sana-sini di dalam negeri. Parlemen Indonesia hingga membuat Pansus Hak Angket Kasus Kapal VLCC. Dan kasus penjualan VLCC itu nampaknya hingga kini masih diliputi misteri

Tahukah anda, tokoh di balik pengadaan VLCC  dengan bobot mati 260.000 DWT (Dead Weight Ton) tersebut tiada lain adalah Ibrahim Hasyim. Berkecimpung di dunia energi selama empat dekade, Ibrahim yang lahir di Aceh 15 Maret 1950 memusatkan perhatiannya agar keberadaan sumber daya alam (SDA) berupa minyak dan gas bumi itu dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Tentang VLCC yang disinggung di atas, dalam bukunya bertitel DR Ibrahim Hasyim Tahun Bergelut Energi: BBM Kapan Selesai? (Penerbit Bintang Satu Publishing, Jakarta: Cetakan I, Mei 2009), ia menggoreskan catatan khusus mengenai vitalnya keberadaan VLCC tersebut. Ia mengajukan dalil bahwa VLCC akan menjadi armada tulang punggung bagi Pertamina, untuk mengamankan pasokan BBM dalam negeri. Di samping itu, kehadiran VLCC juga bisa dihunakan untuk menghindari kartel tanker.

Benar adanya, dalil di atas bisa kita tambahkan bahwa  keberadaan unit tanker tipe VLCC dalam jajaran Perkapalan Pertamina akan meningkatkan kompetensi dan daya saing dalam percaturan kompetisi global. Hal ini sekaligus menjadi wahana pembuktian visi Pertamina untuk unggul, maju dan terpandang. Namun sayang seribu sayang, baru beberapa saat dimiliki akhirnya super tanker tersebut dijual kembali.

Lupakan dulu tentang VLCC di atas, kini marilah kita menguak sedikit sosok Ibrahim Hasyim dan pemikiran-pemikirannya…

***

Kerja Keras Adalah Energi Kita

kanan berjas Ibrahim Hasyim (http://www.bphmigas.go.id)

kanan berjas Ibrahim Hasyim (http://www.bphmigas.go.id)

Slogan Kerja Keras Adalah Energi Kita, kiranya pas bila kita sematkan pada sosok Ibrahim Hisyam. Menggeluti dunia energi di Indonesia selama 40 tahun, ia paham benar bahwa industri minyak dan gas bumi merupakan sektor penting dalam menggenjot pembangunan nasional. Baik dalam hal pemenuhan kebutuhan energi dan bahan baku industri di dalam negeri maupun sebagai penghasil devisi negara.

Ibrahim yang kini anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), mengawali pergumulan di bidang energi dengan bekerja di Pertamina (1973-2006). Karirnya dimulai dari bawah, yakni menjadi pekerja pengecat pipa minyak di belakang kilang minyak Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.

Dari sana karirnya menanjak, Mulai dari suvervisor di Pertamina Aviation, Kepala Internal Auditor di Manado, Kepala Seksi BBM di Jakarta, Kepala Cabang Pemasaran Maluku di Ambon, Kepala Penjualan Sulawesi di Makassar, Kepala Penjualan Sumbagut (Aceh, Sumut, Sumbar, Riau) di Medan, Kepala Dinas Pengkajian dan Pengembangan di Jakarta, Pimpinan UPPDN II (Sumsel, Jambi, Bengkulu, Lampung) di Palembang, Pimpinan UPPDN V (Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara dan Timor Timur), Kepala Dinas Pemasaran Non-BBM, LPG dan BBG di Jakarta, Deputi Direktur  Bidang Perkapalan, Komisaris PT Badak NGL, Komisaris Utama PT Pertamina Tongkang dan PT Patra Dok Dumai dan Staf Ahli Dirut Pertamina Bidang Hilir.

Ibrahim adalah pekerja dan gigih. Berkat kegigihannya itu, ia menerima tanda jasa Karya Patra Utama dari Dirut Pertamina dan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI atas keberhasilannya mempertahankan Pertamina di Timor Timur (kini negara Timor Leste).

Melihat sederet jam terbangnya yang tinggi itu, sudah pasti ia seorang pekerja keras. Pada dirinya bersemayam suatu energi besar untuk senantiasa berusaha, berpikir dan berkarya bagi dirinya sendiri, keluarga, nusa dan bangsa. Pencapaian suatu keberhasilan karena dalam kerja tersimpan suatu energi keberhasilan kita. Maka tepatlah bila dikatakan, Kerja Keras Adalah Energi Kita.

Kecintaan Ibrahim terhadap energi, mendorongnya mengemukakan pendapat, pengalaman dan analisisnya tentang masalah dan masa depan energi di Indonesia. Ia menulis semenjak tahun 1980 di media massa seperti Kompas, Suara Karya, Merdeka milik BM Diah, Investor Daily, Seputar Indonesia, Tempo, Surabaya Post, Duta, Sketsa serta talkshow di TVRI, JTV, Metro TV dan TV One.

Pendidikan formalnya juga terentang panjang. Selepas bangku SLTA, ia melanjutkkan pendidikan di Akademi Minyak dan Gas Bumi di Cepu (1973), S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1979), S2 Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Manajemen Labora dan meraih gelar Doktor dengan predikat cum laude dari Institut Teknologi Surabaya (ITS).

***

Tanpa bersuara lantang, ia merupakan tokoh dibalik eksistensi Pertamina di Timor Leste. Sejak lepas dari Indonesia, tidak terasa bekas provinsi ke-27  itu pada November 2009 lalu berusia 10 tahun.  Bagi Pertamina, ternyata mempertahankan bisnisnya di sana selama satu dasawarsa merupakan ujian berat. Namun tentu saja Pertamina, lulus dengan hasil mengagumkan. Dari sekian BUMN Indonesia, hanya Pertamina lah yang masih eksis di Timor Leste hingga kini.

Menurut Ibrahim Hasyim, ada sesuatu yang bisa didapatkan Pertamina dengan mempertahankan keberadaannya di Timor Leste, yaitu kelangsungan bisnis itu sendiri. Selama ini harga jual BBM di seluruh Indonesia merupakan harga yang sudah disubsidi oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden. Sedangkan di Timor Leste, Pertamina menjual BBM dengan harga internasional, dan tentu tanpa subsidi.

Penjualan BBM dengan harga internasional ini, bisa menjadi pelajaran penting bagi Pertamina dalam mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Pengalaman selama 10 tahun di Timor Leste ini, bisa menjadi acuan bagi Pertamina untuk mengembangkan penjualan eceran BBM dan non-BBM di pasar internasional di masa mendatang. Dalam kaitan ini, Pertamina telah melakukan langkah-langkah nyata ke arah tersebut.

Pemikiran Ibrahim Hisyam lainnya yang cukup brilyan, yakni gagasan perlunya “penyuluh energi”. Gagasan ini terinspirasi oleh keberhasilan ‘penyuluh pertanian” dengan Program Bimbungan Massal (Bimas) yang telah mengantarkan bangsa Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984. Konsepnya hampir sama. Kalau penyuluh pertanian mengedukasi petani, mulai dari mempersiapkan lahan, memilih bibit, merawat tanaman, mempersiapkan panen dan pasca panen, maka penyuluh energi mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan energi yang tepat.

Ia juga penggagas mengenai “Kota Gas”. Yakni sebuah bilamana kota itu memiliki sumber energi utamanya adalah gas. Untuk memasak,  untuk penerangan, untuk  industri dan untuk kendaraan. Energi lain seperti BBM bukan lagi menjadi sumber utama. Kota Gas bisa digagas pada kota yang sekitarnya ada lapangan gas marginal atau skala menengah.

Pemikiran Ibrahim jauh melampaui jamannya, seperti soal supertanker di awal tulisan ini. Ia juga sudah jauh-jauh mengingatkan mengenai tingkat persediaan BBM. Seperti kita ketahui, beberapa waktu lalu acapkali terjadi kelangkaan BBM di sejumlah wilayah. Ia mengajukan tesis mengenai perlunya model perencanaan. Yakni suatu model perencanaan berdasarkan parameter  komplit untuk menetapkan tingkat persediaan BBM nasional yang disepakati semua stake holder. Kemudian angka tingkat persediaan BBM Nasional ini harus menjadi angka asumsi sebuah APBN. Karena di dalamnya tidak hanya resiko sosial politik yang dipertaruhkan, akan tetapi juga melibatkan uang rakyat yang sangat besar jumlahnya.

***

Karena sudah cukup panjang, saya akhiri tulisan ini dengan beberapa catatan untuk Pertamina. Sebagaimana disinggung di awal tulisan ini, nampaknya kepemilikan armada kapal supertanker VLCC merupakan suatu keniscayaan. Tidak ada perusahaan migas yang akan tampil sebagai pemain kelas dunia, jika tidak ditopang oleh infrastruktur untuk memperlancar bisnisnya. Sebagai negara kepulauan sekaligus negara maritim, Indonesia memerlukan supertanker VLCC, karena distribusi BBM dan gas bergantung pula pada ketersediaan armada pengangkut. Kalaupun VLCC sulit segera diwujudkan lantaran dana yang terbatas, tetap bisa dengan menambah armada kapal skala menengah.

Dalam era perdagangan bebas saat ini, apabila soal armada pengangkut saja Pertamina masih tergantung pada kapal sewa perusahaan lain, bagaimana pula mau menjadi perusahaan skala dunia? Jangankan skala dunia, di dalam negeri saja ia akan tertatih-tatih bersaing dengan perusahaan minyak dan gas asing yang lengkap infrastrukturnya (dalam hal ini armada kapal pengangkut).

Bagaimanapun juga, memperkuat armada kapal pengangkut BBM bagi Pertamina, akan menjamin kompetisi dengan perusahaan asing sejenis. Pula akan menjamin pasokan-pasokan bagi pemasaran produk Pertamina di dalam negeri yang pasarnya sudah terbuka.

Namun demikian, semuanya kembali pada kemauan dan Spirit Kerja Keras Adalah Energi Kita jajaran petinggi Pertamina.

*****

[Dwiki Setiyawan]

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Kerja Keras Adalah Energi Kita: Profil dan Pemikiran Ibrahim Hasyim

  1. Ping balik: Artikel Penutup Kerja Keras Adalah Energi Kita « Dwiki Setiyawan's Blog

  2. arifteguhmartono berkata:

    kerja keras adalah energi kita, itu semua harus dgn niating tulus sebagai ibadah pd ALLAH. ( buat, berguna, kemajuan PT Pertamina, bangsa dan negara ) Salam sejahtera, sukses slalu. Amien.

  3. Gus Gombrexs berkata:

    saya sempat membaca buku Bapak ” BBM kapan selesai?” dan saya melihat substansi dari buku Bapak yaitu. semangat, Kerja keras, kejujuran dan kesederhanaan adalah talk less do more. salam

  4. munir ardi berkata:

    terimakasih atas informasi bergunanya

  5. Lowongan 2010 berkata:

    kerja keras emang perlu sekali om… hehehe…

  6. sm berkata:

    Mengenal P. Ibrahim Hasyim saat tugas di Ambon, memang sudah terlihat dari cara pandang dan cara tindakan.

    Tentang VLCC sepertinya kita paling tidak harus punya 3, untuk mengoptimalkan pendistribusian BBM yang saat ini masih dibutuhkan masyarakat kita … sampai ditemukan dan dipergunakan energi pengganti alternatif yang tepat untuk Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s