Kerja Keras dan Kesadaran Kelompok Bangsa Jepang


Teater Klasik Kabuki (http://www.id.emb-japan.go.jp)

Teater Klasik Kabuki (http://www.id.emb-japan.go.jp)

BEBERAPA waktu lalu, majalah Aneka Jepang yang diterbitkan oleh Kedutaan Besar Jepang menyingkap soal  kerja keras dan kesadaran kelompok bangsa Jepang. Menarik untuk kita simak. Lantaran darinya kita bisa belajar  sesuatu dari bangsa lain.

Selama ini Jepang kita kenal  telah membuktikan diri sebagai sebuah bangsa yang sangat maju. Perlu diingat pula, negeri seluas Pulau Sumatra itu  minim sumber daya alam. Berbeda jauh dengan bangsa kita yang kaya akan sumber daya alam, namun dalam hal mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju, masih tertatih-tatih.

Berikut petikan dari majalah Aneka Jepang

Acapkali kita dengar bahwa orang Jepang suka kerja keras, suka berkelompok, suka meniru dan sebagainya. Dalam bekerja, begitu asyiknya dengan pekerjaan kadangkala orang Jepang lupa waktu. Jarang kita dengar adanya keberatan dari kalangan karyawan untuk kerja lembur. Kesemuanya didorong oleh rasa tanggung jawab dan semangat kelompok.

Dalam hal kerja keras di Jepang ini, kita mengenal istilah workaholik. Di media massa arti istilah ini untuk merujuk oang-orang yang gemar bekerja berlebihan hingga kadangkala melupakan seluruh aspek kehidupannyya. Workaholik juga dapat ditujukan untuk mereka yang mendapatkan kepuasan dari melakukan pekerjaannya.

Orang Jepang pada umumnya cenderung kuat rasa keterikatannya terhadap kelompok di mana ia berada, terutama perusahaan tempat kerjanya. Apabila perusahaan tempatnya bekerja menghadapi masalah atau ada tugas yang mendesak dan harus segera dituntaskan, maka para karyawan merasa terpanggil untuk ikut memikul beban kerja bersama-sama, dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadi.

Sudah barang tentu ada regulasi ketenagakerjaan yang memberikan batasan terhadap jam kerja, lembur dan lain-lain. Masing-masing perusahaan menentukan aturannya sendiri dalam batasan yang sudah ditetapkan itu. Dewasa ini mulai ada perubahan, bahkan timbul kesadaran, terutama di kalangan karyawan muda, untuk lebih menikmati hidup dengan lebih banyak menyisihkan waktu bagi keluarga dan rekreasi.

Kesadaran kelompok di kalangan orang Jepang konon berakar pada budaya tanam padi di masa lampau yang harus dikerjakan beramai-raamai, berdasarkan sistem kerjasama berkelompok dan kuatnya ikatan kekeluargaan. Ada keteraturan kerja dalam mengolah sawah, melakukan panen, mengatur pengairan, hingga mengatur komunitas pertanian tempat mereka bermukim. Jiwa berkelompok itu kemudian diperkokoh oleh ajaran Konfosius, yang masuk dari Cina. Salah satu ajaran tersebut berpegang pada konsep kelompok kekeluargaan.

Dengan latar belakang sejarah demikian, rasa keterikatan (kelompok) karyawan terhadap perusahaan dan rekan kerja makin menjadi kuat dengan adanya apa yang dinamakan “life time employment“, yakni kebiasaan orang Jepang setia bekerja seumur hidup pada sebuah perusahaan saja. Namun demikian, dewasa ini banyak kaum muda di Jepang sudah enggan terikat pada satu perusahaaan. Dan ada gejala mereka kini lebih senang berpindah-pindah menurut kehendak hatinya

Kesetiaan kelompok tidak terbatas di perusahaan atau kantor saja. Bisa saja dalam kelompok olah raga, klub kesenian, kelompok ketetanggaan, kelompok  kelas di sekolah, kelompok seangkatan di universitas dan sebagainya. Orang Jepang yang masuk sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok ketetanggaan, merasa adalah kewajibannya untuuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain. Lantaran  hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya.

Prestasi seorang individu dalam kelompok bukan lagi prestasi yang yang bersangkutan tetapi menjadi prestasi kelompoknya. Masyarakat Jepang kurang dapat menerima sifat individualisme, apalagi yang mencolok seperti dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan dan alam sekitarnya.

*****

Pada umumnya orang sering menyebutkan bahwa orang Jepang suka bekerja keras, suka berkelompok, dan sebagainya. Begitu asyik dengan pekerjaannya sehingga orang Jepang suka lupa waktu. Di perusahaan-perusahaan kurang terdengar suara keberatan untuk kerja lembur. Hal tersebut didorong oleh rasa tanggung jawab dan semangat kelompok. Orang Jepang pada umumnya cenderung kuat rasa keterikatannya terhadap kelompok di mana dia berada, terutama perusahaan tempat kerjanya. Bilamana perusahaannya menghadapi masalah atau tugas yang mendesak dan harus segera dituntaskan, maka para karyawan merasa terpanggil untuk ikut memikul beban kerja bersama-sama, dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadinya.

Tentu saja ada peraturan ketenaga-kerjaan yang memberikan batasan terhadap jam kerja, lembur, dll. dan masing-masing perusahaan menentukan aturannya sendiri dalam batasan yang sudah ditetapkan itu. Dewasa ini mulai ada perubahan, bahkan timbul kesadaran, terutama di kalangan karyawan muda, untuk lebih menikmati hidup dengan lebih banyak menyisihkan waktu bagi keluarga dan rekreasi/ hiburan.

Kesadaran kelompok di kalangan orang Jepang konon berakar pada budaya tanam padi di sawah di masa lampau yang harus dikerjakan beramai-ramai, berdasarkan sistem kerjasama berkelompok dan kuatnya ikatan kekeluargaan. Ada keteraturan kerja dalam mengolah sawah, melakukan panen, mengatur pengairan, hingga mengatur komunitas pertanian tempat mereka bermukim. Jiwa berkelompok ini kemudian diperkokoh oleh ajaran Konfusius, yang masuk dari Cina, yang berpegang pada konsep kelompok kekeluargaan.

Dengan latar belakang sejarah demikian, rasa keterikatan (kelompok) karyawan terhadap perusahaan dan rekan kerja makin menjadi kuat dengan adanya apa yang dinamakan “life-time employment“, yakni kebiasaan orang Jepang setia bekerja seumur hidup pada sebuah perusahaan saja. Akan tetapi, akhir-akhir ini makin banyak kaum muda yang enggan terikat pada satu perusahaan; mereka lebih senang berpindah-pindah menurut kehendak hatinya.

Kesetiaan kelompok tidak terbatas di perusahaan atau kantor saja. Bisa saja dalam kelompok klub olahraga, klub kesenian, kelompok ketetanggaan, kelompok kelas di sekolah, kelompok seangkatan di universitas, dll. Orang yang masuk dalam sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok seperti kelompok ketetanggaan, merasa adalah kewajibannya untuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain sendiri karena hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya. Prestasi seorang individu dalam kelompok bukan lagi prestasi pribadi yang bersangkutan tapi menjadi prestasi kelompoknya. Masyarakat Jepang kurang dapat menerima sifat individualisme, apalagi yang mencolok seperti dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan, dan alam.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s