Memancangkan Tonggak Niat (Panduan Menulis 1)


AMAL perbuatan manusia tergantung niatnya…

(Hikmah Berserakan)

ooOOOoo


Begitu banyak orang yang bercita-cita menjadi penulis sukses, namun sedikit saja yang menggapainya. Bagi kita di Indonesia ini, pangkal soalnya adalah pekerjaan menulis tidak menjamin penghidupan. Tidak bisa dijadikan tumpuan untuk menghidupi diri sendiri, apalagi untuk menopang sendi-sendi ekonomi keluarga.

Untaian kalimat di atas barangkali tidak sepenuhnya benar. Sebab ada pula orang sukses di Indonesia yang hanya menggantungkan diri dari aktivitas menulis. Sekalipun itu bisa kita hitung dengan jari tangan. Selebihnya, sebagian besar penulis Indonesia yang sukses lantaran ia sudah mapan lebih dulu taraf ekonominya.

Beberapa dari kita di antaranya lantas berujar, “Saya akan kuatkan dan mapankan dulu ekonomi keluarga. Agar dandang dan ketel di dapur tidak jatuh terguling. Saya mau jadi bisnisman atau birokrat karier yang sukses terlebih dahulu dan kemudian akan menulis.”

Atau ada lagi dari kita yang mungkin menyela, “Wah, bacaan saya selama ini  masih kurang. Saya akan baca buku sebanyak-banyaknya dulu, dan setelah itu baru memulai menulis.”

Mereka yang berpendapat demikian boleh jadi kita anggap sedang berkelakar. Lantaran tidak mungkinlah menangguhkan cita-cita sebagai penulis sukses sampai 15 tahun atau lebih. Dalam kasus soal banyak tidaknya membaca, juga bukan jaminan. Dan tidak harus menungggu dulu banyak bacaan, lantas menulis. Sebab aktivitas menulis dan membaca bagaikan dua  sisi mata uang logam. Saling isi mengisi dan jalin menjalin berkelindan.

Perlu disadari bagi kita semua, bahwa menulis merupakan pekerjaan olah pikir, olah rasa dan olah karsa serta olah karya yang terus menerus dan tidak terputus-putus. Suatu proses belajar yang tiada henti-hentinya.

Olah pikir, yakni kemampuan untuk memusatkan segenap pikian pada satu titik (konsentrasi). Dengannya kegiatan berpikir itu dilakukan secara benar, efektif dan efisien. Olah rasa, adalah kemampuan untuk mengendalikan hati serta perasaan secara bijaksana. Termasuk dalam hal ini kemampuan untuk mengobservasi lingkungan sekitar dan suatu peristiwa yang kita alami secara jernih. Olah karsa adalah kemampuan untuk mengendalikan dan mengelola kemauan dan cita-cita yang telah ditetapkan sejak awal. Dan, olah karya ialah kemampuan untuk berkarya. Berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.

***

Berkenaan dengan cita-cita seseorang menjadi penulis sukses, asal muasalnya yang harus dilakukan (calon) penulis adalah memancangkan tonggak niat. Niat merupakan roh dan spirit untuk senantiasa menulis. Dalam situasi dan kondisi apapun. Ia ibaratnya landasan pacu terbentang lebar, luas dan panjang bagi pesawat terbang (aktivitas kepenulisan) untuk tinggal landas dan mendaratnya.

Sebagaimana acap kita dengar, banyak orang  jika ditanya niatnya mengapa ia menulis, jawabannya sebagai berikuti:  mau berbagi (sharing), mendapatkan dan membina persahabatan, belajar meningkatkan kualitas kepenulisan,  mau menjadi penulis masyur dan sebagainya.

Saya tandaskan bahwa  jawaban-jawaban tersebut hanyalah dekorasi saja, dan bukan esensi atas pertanyaan perihal “niat” cukup fundamental itu. Boleh jadi banyak orang setelah sekian lama menulis akan kecewa dan terluka karenanya. Niatnya mau berbagi, namun anda sangat kecewa tatkala merasa tulisannya dijiplak orang. Dan tulisan anda itu diterbitkan menjad buku oleh orang lain, tanpa anda dimintai ijin sebelumnya. Di sebuah blog personal, saya pernah membaca blogger yang “mencak-mencak” di blognya, lantaran merasa tulisannya dijiplak habis orang lain dan dijadikan buku; Anda mau membina persahabatan, namun bisa pula kecewa dan terluka tatkala lantaran kata-kata anda sendiri akhirnya memutus tali persahabatan itu; Anda mau meningkatkan kualitas kepenulisan, namun kecewa pula karena dalam pandangan anda sendiri tulisan-tulisan yang dihasilkan tidak beranjak mutunya. Sebabnya anda mengharap sanjungan dari pembaca, tanpa ada kemauan dan kerja keras lagi untuk meningkakan mutu tulisannya. Dalam hal ini bisa jadi anda juga anti kritik.  Dan seterusnya.

Dengan demikian, kita perlu memurnikan, mensterilkan dan mensucikan tonggak niat sebelum terjun dalam dunia kepenulisan. Jadi sebagaimana hikmah di awal tulisan, amal perbuatan manusia tergantung niatnya. Jika kita pahami bahwa menulis bagian dari ibadah maka hendaknya niat itu adalah mencari  ridho-Nya. Mengharap keberkatan Tuhan.

Sebab, jika Yang Maha Penulis tersebut telah meridhoi atau memberkati apa yang kita perbuat, maka apapun konsekuensinya pasti akan berbuah kebaikan. Dengan mendapat ridho-Nya, maka  hati kita bersih dan pikiran menjadi jernih. Pula tulisan yang kita hasilkan juga baik. Ditanggung halal lagi. Sesuatu yang halal pastilah menyehatkan, baik buat jasmani maupun rohani kita.

Dengan semata-mata hanya mengharap ridho-Nya, maka tiada beban apa-apa tatkala kita menulis. Ikhlas lahir dan batin. Mau dicaci maki, disanjung atau apapun pasti akan menerima dengan lapang dada.

Kini semuanya berpulang pada anda. Sudahkan mensucikan dan mensterilkan niat tatkala akan menulis itu?

****

Bersambung  Bagian 2: Menetapkan Pelabuhan Tujuan


Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Panduan Menulis dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Memancangkan Tonggak Niat (Panduan Menulis 1)

  1. Ping balik: Menetapkan Pelabuhan Tujuan (Panduan Menulis 2) « Dwiki Setiyawan's Blog

  2. Ping balik: Kunci Utamanya Disiplin (Panduan Menulis 3) « Dwiki Setiyawan's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s