Rating Asal Tulis: Mengapa Takut?


SAYA tidak segan-segan kasih rating “asal tulis” untuk suatu tulisan yang dibuat. Sebab buat apa ada fitur itu jika tidak kita gunakan?  Seseorang mungkin kesal dan merasa dongkol, sudah “susah-susah” menulis ada pembaca yang memberi rating “asal tulis”. Akan tetapi benarkah demikian? Marilah mulai saat ini  berpikir jernih. Kita mulai….

Asalkan kita memiliki karakter pribadi kuat, tidak merasa tinggi hati, dan mempunyai keluasan samudera hati untuk saling memberi dan menerima (kritik), maka tidak ada alasan untuk malu-malu menyatakan sikap. Sekalipun itu pada teman sendiri. Dalam hal ini sikap setuju atau tidak setuju atas suatu tulisan. Termasuk dalam ini memberi rating “asal tulis”. Mengapa takut?

Namun demikian, sikap yang kita tunjukkan dengan memberi rating “asal tulis” kepada seorang penulis harus didasarkan pada kondisi obyektif. Yakni alasan-alasan masuk akal atas sikap yang kita kemukakan tersebut. Di mana alasan-alasan itu dapat diuji kesahihannya kepada para pembaca lainnya.

Yang terjadi selama ini, sikap pemberian rating “asal tulis” kepada penulis lain bukan didasarkan atas kondisi obyektif. Biasanya, belum dibaca tuntas tulisannya, dan hanya melihat judul saja langsung bereaksi dengan mencap “asal tulis”. Lebih parahnya lagi, setelah “menjustifikasi” langsung ngacir. Lempar batu sembunyi tangan. Lempar rating sembunyi diri. Tidak bersikap jantan, pula betina. 🙂

Yang saya maksud kondisi obyektif di atas, yakni sikap pemberian rating “asal tulis” juga dijelaskan kepada si penulisnya. Baik melalui pesan japri maupun (sebaiknya) langsung di kolom komentar. Sehingga alasan-alasan yang dikemukakan atas sikap dimaksud bisa diuji oleh pembaca lainnya.

Alasan-alasan pemberian rating “asal tulis” tersebut, misalnya:

  1. Postinganya berupa copas 100 % dari tulisan lain (sama sekali tidak ada pikiran si penulisnya).
  2. Isi tulisan menghasut dan mengadu domba antar indiviidu atau golongan. Pula menebarkan rasa permusuhan dan kebencian secara terselubung.
  3. Menulis yang nggak ada benang merah atau kaitan sama sekali antara alinea satu dengan lainnya. Alias asal jeplak. Apalagi identitas si penulisnya nggak jelas.
  4. Isi tulisan bertolak belakang atau tidak nyambung dengan judul tulisan.
  5. Isi tulisan kacau balau baik dalam hal kaidah bahasa, melompat-lompat dan meloncat-loncat pokok pikiran satu dengan lainnya dan sebagainya.
  6. …. (silakan dan mohon ditambah sendiri oleh pembaca).

Menurut hemat saya, apabila ada alasan-alasan yang disampaikan dengan cukup obyektif tersebut, sekalipun pahit namun si penulis postingan akan dapat memahami dan menerima (sekalipun beberapa saat akan dongkol juga :). Pasti akan muncul argumen masing-masing di kolom komentar bersangkutan. Dan ini juga salah satu fungsi dari adanya kolom komentar. Bagi pembaca lainnya, dari situ bisa belajar mengenai suatu tulisan yang baik atau tidak. Dengan demikian ada suatu pencerahan bagi kalangan pembaca.

Dengan adanya olah pikir dan olah rasa dikarenakan suatu sikap atas pemberian rating “asal tulis” tersebut, bukan berarti seseorang harus takut dalam menulis. Justru sebaliknya, dapat dijadikan “rambu” dan “panduan” sebelum mempublikasi suatu tulisan. Sehingga yang akan lahir dan terpublikasi adalah tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan pula. Baik bagi diri sendiri maupun di hadapan publik. Semoga.

*****

Kebenaran menentang sendiri melalui badai yang menaburkan

benihnya di mana-mana

(Gitanjali, Rabindranath Tagore)

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Rating Asal Tulis: Mengapa Takut?

  1. Vicky Laurentina berkata:

    Saya nggak mau repot-repot me-rating “asal tulis”. Kalau saya nggak suka tulisan itu, saya nggak mau kasih apresiasi barang satu huruf pun.

  2. Fanda berkata:

    Terus terang saya belum pernah me-rating tulisan seseorang, mas. Biasanya kalo saya appreciate tulisan seseorang, saya akan mengatakannya langsung. Tapi kalo saya tak berkenan, sama seperti komentar Vicky, saya bahkan tak mau repot-repot membacanya. Memang masih ada saja blogger yang nulisnya asal njeplak, dia sendiri tak tahu apa yang mau ditulis. Tapi menurutku, berhubung itu blog pribadi, ya terserah penulisnya mau diisi apa.

  3. barajakom berkata:

    wah blognya keren ya, berkunjung ke blog sekeren ini bisa membuat aku ikutan keren, aku numpang keren ya sob, makasi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s