Hebatnya Geng Ngocol Kompasiana


ANDA jangan sekali-sekali under estimate terhadap Geng Ngocol Kompasiana. Mereka memang suka membuat ulah. Mereka bikin gaduh. Mereka nampak kompak tatkala “eksistensinya” digugat dan dipertanyakan. Mereka bagi orang luar yang kurang menyelami nampak kelihatan asyik dengan dunianya sendiri. Namun siapa nyana, tatkala sudah “waras”, sekali dayung tiga pulau terlampaui. Itulah hebatnya Geng Ngocol Kompasiana. Mau bukti?

Hari Jum’at ini saja (18/12), di halaman utama Kompasiana, saat saya menulis postingan ini pada puklu 22.00 WIB, nangkring tiga orang anggota Geng Ngocol di Headline (HL) Kompasiana. Dari empat HL yang terpampang, hanya satu orang saja di luar Geng Ngocol, yakni Wisnu Nugroho dengan postingan berjudul “Di Mana Patung Pak Beye?“. Tiga HL lainnya, dibabat habis oleh tiga orang Geng Ngocol. Dan bukan suatu kebetulan belaka, ketiga-tiganya adalah perempuan. Hidup perempuan Geng Ngocol!

Ketiga HL yang saya maksud itu, Pertama, ditulis oleh Inge (Ratu Geng Ngocol Kompasiana) dengan tulisan berjudul, “Rahasia Menulis yang Belum Diungkap Kompasianers Terkenal.” Kedua, Fawaizzah Watie (Hulubalang Geng Ngocol Kompasiana) dengan sebuah reportase menarik bertitel, “Oleh-oleh dari Kampung Ampel.” Dan Ketiga, Lianny H (Ibu Suri Geng Ngocol Kompasiana) menulis sebuah artikel menarik bertajuk, “Kenali Penyakit Jiwa Bernama Judi!

Hal ini menunjukkan tatkala mereka “tersadar” dan “terbangun” dari dunia canda dan tawa, kemudian “unjuk gigi” ternyata tulisan-tulisan mereka penuh inspirasi dan mencerahkan jiwa. Jauh sekali dari kesan ngocol yang mereka tunjukkan di postingan-postingan berkategori hiburan.

Dan jangan salah sangka, bagi saya pribadi, berkomentar dengan nada ngocol disamping melemaskan otot pikiran yang kaku hingga menjadi rileks, justru dari situ menemukan inspirasi tulisan secara tiba-tiba.

Berlainan dengan yang disangka dan dituduhkan orang selama ini kepada Geng Ngocol Kompasiana, ternyata tatkala gabung di sana bukan saja menambah teman dan mempererat persahabatan blantika maya. Namun juga dari mereka-mereka itu, kita menjadi kebal akan “cacian”, ‘sindiran”, dan “olok-olok”. Dengannya menjadikan kita lebih matang dalam bersikap dan bertingkah laku di blantika maya. Tidak ada rasa minder, dan malahan terampil dalam menjawab komentar-komentar di tulisan kita yang serius.

Pecayalah, tidak semuanya yang berbau ngocol itu jelek. Namun memang harus diingat: jangan kelebihan dosis. Yang wajar dan sedang-sedang saja. Sebab, apa-apa yang sifatnya kelebihan justru berbalik menjadi kurang baik.

Selamat buat Inge, Izzah dan Lianny. Anda semua membanggakan, dan layak mendapat mahkota. Kapan traktir penulis postingan apresiasi ini? Maksudnya saya. Baginda ASA, lupakan dulu saja. Hahahaha.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s