Adib Zuhairi: Bankir Lokal Berwawasan Global


Adib Zuhairi (dwiki file)

Adib Zuhairi (dwiki file)

DALAM soal prestasi, lelaki yang usianya belum mencapai 40 tahun ini perlu mendapat acungan jempol. Merintis usaha perbankan mikro bersistem syariah sejak Oktober 1998, ia selama 7 bulan tidak mendapatkan “gaji”. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, lambat laun usahanya berkembang. Dan baru pada bulan ke-8 ia menerima gaji. Berapa? Hanya Rp 40 ribu per bulan!

Tentunya jumlah tersebut di atas jauh dari cukup, baik untuk sekedar menghidupi diri sendiri apalagi untuk satu keluarga. Akan tetapi siapa nyana, ternyata ia kini telah terbentuk menjadi bankir lokal namun berwawasan global. Sebagai bankir lokal ia mempunyai misi khusus, yakni berikhtiar untuk menggerakan sistem ekonomi yang berbasis pada pola syariah. Dengan wawasan globalnya berjangkauan ke depan itu, BMT diharapkan tidak saja menjadi counter effect sistem kapitalis, tetapi juga bisa menjadi bukti keberhasilan sistem yang dikembangkan sesuai syariah Islam. Simak kisahnya berikut.

Keberanian Adib kembali ke kampung halamannya di Boyolali Jawa Tengah untuk memulai usaha baru yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya, patutlah menjadi pelajaran buat kita. Sebelum memutuskan kembali membangun kampung halaman, ia telah malang-melintang sebagai aktivis sosial di Jakarta.

Keberhasilan Adib Zuhairi memulai rintisan usaha yang langsung bersentuhan dengan kalangan paling bawah pelaku ekonomi itu, tidak lantas menjadikan dia tinggi hati. Ia tetaplah seorang pribadi yang rendah hati. Atas capaian prestasi yang telah diukirnya itu ia menganggap dirinya biasa-biasa saja. Dan ia menyadari banyak pula kekurangannya. Begitulah adanya. Bak ilmu padi. Semakin berisi ia akan menunduk.

Dan apabila BMT Tumang yang dikelola saat ini cukup berkembang, ujar Adib, bukan karena dia luar biasa, tetapi satu hal yang pasti, Adib menjalankan amanah tersebut (sebagai manajer utama) dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Area Pemancingan Tlatar Boyolali dari kiri Dwiki Setiyawan, Adib Zuhairi, Yunan Saputro, dan Diana Ariyanti (dwiki file)

Area Pemancingan Tlatar Boyolali dari kiri Dwiki Setiyawan, Adib Zuhairi, Yunan Saputro, dan Diana Ariyanti (dwiki file)

Dengan penuh kesadaran pula, Adib rela meninggalkan pekerjaan di Jakarta, kemudian merintis berdirinya BMT Tumang, yang waktu itu (Oktober tahun 1998) masih cukup asing di masyarakat, dan yang pasti lembaga tersebut belum bisa menjadi tumpuan dapat memberikan imbalan (gaji) yang layak, apalagi dalam meniti karir.

Pengalaman membuktikan, Adib baru dapat menikmati gaji dari BMT setelah bulan ke-8 yang diterima sebesar Rp 40 ribu. Tentunya jumlah tersebut jauh dari cukup, baik untuk sekedar menghidupi diri sendiri apalagi untuk satu keluarga.

Menurut lelaki kelahiran 26 Februari 1970 tersebut, perjalanan merintis berdirinya BMT Tumang yang dapat tetap eksis dan cukup berkembang sampai saat ini antara lain, Pertama, awalnya Adib tidak menyiapkan dirinya sebagai pengelola (manajer utama). Lantaran niat awal pulang kampung, hanya mencari calon pengelola yang akan dididik di Jakarta. Namun ternyata tidak mudah mencari calon pengelola di desa Tumang. Meskipun di desa tersebut juga cukup banyak sarjana dan tidak sedikit yang merupakan lulusan perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal.

Pada kenyataannya, ‘mereka yang mampu‘ ternyata ‘tidak mau‘, sementara mereka ‘yang mau‘ ternyata ‘tidak mampu‘. Artinya selama ini banyak dari masyarakat desa yang mengenyam pendidikan tinggi, yang secara status dan kapasitas diri meningkat, tetapi setelah lulus sebagian besar dari mereka bekerja di luar kota dan tidak pernah lagi memikirkan dan memberi kontribusi untuk desanya.

Sementara sarjana terdidik yang tetap tinggal di desa terpaksa akhirnya dia tetap bertahan tinggal di desanya lantaran di luar susah mendapatkan pekerjaan. Sangat jarang dari mereka yang mencoba mengimplimentasikan ilmu yang di dapat selama mengenyam pendidikan tinggi, yang dapat memberi kontribusi untuk kemajuan desanya.

Kedua, memulai sebuah usaha tidak harus mempunya modal yang cukup. Pengalaman BMT Tumang membuktikan, tidak saja keterbatasan modal secara finansial, juga sistem dan pola kerja yang belum ada dan juga materi SDM yang terbatas. Adib sendiri meskipun sarjana tetapi sarjana sosial jurusan sosiologi, di mana disiplin ilmu yang didapat selama kuliah sangat tidak mendukung dengan pola kerja yang sedang di kembangkan di BMT Tumang. Akan tetapi karena tekad bulat dengan motivasi yang tinggi, ternyata pengalaman kerja bisa dicari. Melalui usaha untuk meningkatkan kualitas diri, ilmu dan pengetahuan tata cara pengelolaan lembaga yang baik. Menurutnya, manajemen organisasi dan kepemimpinan semua dapat dipelajari secara langsung. Dan itu justru lebih efektif ketimbang sekedar belajar teori tetapi tidak pernah diaplikasikan secara konkrit.

Ketiga, motivasi yang benar. Dengan motivasi yang benar “mencari ridho Allah dan berusaha memberi manfaat bagi masyarakat” ternyata Allah SWT senantiasa memberi kemudahan. Memang tidak mudah untuk memulai sebuah usaha baru, apalagi menjalankan usaha yang belum banyak dikenal masyarakat. Yang paling vital ternyata harus bisa mensosialisasikan kepada masyarakat. Karena BMT tidak akan dapat berjalan tanpa dukungandan keterlibatan masyarakat (anggota). Karenanya memang harus pandai-pandai untuk mengkomunikasin atau mempromosikan kepada masyarakat umum dengan cara yang tepat serta metode yang pas.

Pose Bersama Istri dari kiri Diana Ariyanti dan Adib Zuhairi (koleksi foto adib)

Pose Bersama Istri dari kiri Diana Ariyanti dan Adib Zuhairi (koleksi foto adib)

Pada akhirnya BMT Tumang ternyata bisa diterima baik oleh masyarakat (anggota) itu tidak lain memang campur tangan Allah yang memberi kemudahan, dan itu wujud imbalan bagi mereka yang rela berkorban untuk kepentingan kemaslahatan sebagai kunci motivasi yang benar.

Dari awal motif pendirian BMT Tumang bukan karena untuk mencari keuntungan secara finansial. Akan tetapi yang lebih dominan adalah sebagai wujud kepedulian sebagian masyarakat untuk membantu masyarakat yang lain. Dalam hal ini menghilangkan rentenir yang sudah melembaga di masyarakat Tumang Cepogo pada khususnya, dan masyarakat Boyolali pada umumnya.

***

Mantan Ketua Umum HMI Cabang Solo itu kini namanya melesat bagai meteor di kalangan UKM di Jawa Tengah sebagai manajer handal sebuah usaha mikro ekonomi kalangan bawah masyarakat. Ia pimpinan BMT Tumang Boyolali (Baitul Mall Wattamwil atau semacam BPR). BMT tersebut didirikan pada 1 Oktober 1998. Berkantor pusat di Jalan Melati No. 12 Tumang Cepogo Boyolali, dan memiliki 3 kantor cabang di utara Pasar Cepogo, kota Boyolali tepatnya jalan Pandanarang nomor 299 dan di depan pasar Ampel.

Modal awal pendirian BMT pada 1998 hanya Rp 7,5 juta, pada 2009 ini telah mencapai Rp 12 milyar. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) UNS Solo yang saya kenal sejak sejak usia belasan ini, telah memiliki nasabah ribuan jumlahnya. Mulai dari perajin tembaga, peternak susu hingga mbok-mbok penjual sayuran di beberapa pasar di Boyolali.

Pertumbuhan BMT Tumang Desember 1998-Desember 2008

Pertumbuhan BMT Tumang Desember 1998-Desember 2008

Lembaga simpan pinjam yang dirintisnya kurang lebih 11 (sebelas) tahun silam itu, beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat maupun daerah. Beberapa kali pula mendapat pinjaman lunak dari Departemen Koperasi dan UKM, BUMN, Lembaga Pembiayaan dan sebagainya. Atas prestasi yang telah diukirnya itu, sudah tidak terhitung pula ia diundang sebagai narasumber untuk menularkan resep-resep usaha yang digelutinya pada berbagai seminar dan forum UKM.

Kantor Pusat BMT Tumang Cepogo Boyolali (koleksi BMT Tumang)

Kantor Pusat BMT Tumang Cepogo Boyolali (koleksi BMT Tumang)

Kini BMT Tumang telah memiliki sebuah gedung megah sebagai kantor pusatnya senilai Rp 800 juta. Berdiri di atas lahan seluas 340 m² Dan diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali pada 20 Januari 2009 lalu, yang dihadiri pula oleh Bupati Boyolali Sri Moeljanto, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng A Sulhadi serta pejabat muspida setempat.

Dari gedung megah tersebut, Adib  yang ayah dari  Nasya dan Ghozy buah dari perkawinanya dengan Diana Ariyanti (anggota KPUD Kabupaten Boyolali) itu, kini lebih nyaman dalam bekerja dan melayani nasabahnya ketimbang saat-saat berjibaku diawal pendirian BMT. Ia piawai dalam meyakinkan masyarakat akan pentingnya kredit mikro guna mengangkat harkat ekonomi kalangan bawah itu.

***

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah singkat di atas? Jawabnya, seseorang jika mau mencoba keras keluar dari terowongan gelap (pekerjaan) yang selama ini mengungkungnya pastilah akan ada seberkas sinar (penghidupan baru) di ujung terowongan itu.

Orang yang berani banting stir memulai usaha baru semacam Adib Zuhairi, di Indonesia ini jumlahnya cukup banyak. Kita acap pula disuguhi media massa kisah-kisah sukses semacam itu. Namun sayangnya, lebih banyak orang yang tidak berani memutuskan suatu bisnis baru sebagai ladang penghidupan dirinya sendiri, sekaligus yang dapat memberi dan membuka peluang pekerjaan bagi insan-insan di sekitar lingkungan sosialnya.

Doa dan Mimpi BMT Tumang (dwiki file)

Doa dan Mimpi BMT Tumang (dwiki file)

Tanpa saya paparkan efek domino usaha-usaha baru yang digeluti Adib di atas, pembaca pasti tahu bahwa dari bisnis itu telah menghidupi banyak orang dari berbagai lini kehidupan. Ibaratnya dari hulu hingga hilir sektor produksi dan konsumsi telah berhasil dirangkumnya.

Banyak orang yang sukses memulai bisnis baru karena memiliki bakat terpancar (maksudnya dia memang sedari awal mengetahuinya). Sebaliknya banyak pula orang yang gagal dalam bisnis karena dirinya tidak mengetahui bakat terpendamnya.

Di sini saya tidak akan berbicara kesuksesan bisnis ditinjau dari aspek permodalan, lokasi, jaringan, patron dan sebagainya.

Pada diri Adib Zuhairi yang sejak jaman mengenyam pendidikan selalu menjadi pimpinan organisasi itu terbentuk karakter manajer dalam pengelolaaan lembaga. Melihat latar belakang pendidikan sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), pastilah orang tadinya heran dengan aktivitasnya sebagai pimpinan “bank rakyat” yang mestinya kavling untuk sarjana Fakultas Ekonomi (FE).

Saya teringat ucapan mendiang Profesor DR Nurcholish Madjid dan akrab disapa Cak Nur, yang menyatakan bahwa seseorang mengenyam pendidikan hingga setinggi-tingginya akan dinilai apakah ia menjadi manusia terpelajar atau bukan? Ia mencontohkan alumni-alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang banyak sukses menjadi wartawan dan bankir. Bukan menjadi ahli-ahli pertanian. Jawaban Cak Nur karena mereka terpelajar.

Seseorang yang terpelajar pada dirinya bersemayam kualitas insan pencipta dan insan pengabdi. Yakni insan yang senantiasa mau beriktiar untuk melakukan inovasi baru bagi lingkungan sosialnya dan insan yang mengabdikan diri sesuai bakat, ketrampilan dan ilmu yang telah diperolehnya bagai kemaslahatan masyarakat. Sekalipun itu di luar sekat disiplin ilmu yang dienyamnya.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Adib Zuhairi: Bankir Lokal Berwawasan Global

  1. wah….hebat tenan mas Adib ini. sy perlu belajar sama beliau. atas kesabaran dan kegigihannya. perlu kita tiru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s