Dokter Pras: Juragan Poliklinik


dr Prasetyo Widho Buwono Sp Pd Berpose di Depan Klinik Utama (dwiki file)

dr Prasetyo Widho Buwono Sp Pd Berpose di Depan Klinik Utama (dwiki file)

TATKALA membuka praktek poliklinik di bilangan Pasar Rebo Jakarta Timur pada 5 September 1999, dr Prasetyo Widhi Buwono Sp PD (selanjutnya saya sebut dr Pras) sama sekali tidak mengira usaha yang dirintisnya bisa maju sedemikian rupa. Bermodalkan uang “pinjaman” ibundanya sebesar Rp 3,5 juta, dalam 10 tahun ia telah mengepakkan sayap-sayap bisnisnya. Kini dengan 6 buah poliklinik yang dimilikinya –tersebar di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur– omzet per hari mencapai Rp 15 hingga Rp 20 juta.  Bila secara kasar keuntungan bersihnya 10 % dari omzet tiap bulannya, kurang lebih Rp 50 juta saja telah ia kantongi. Di mata saya yang mengenalnya cukup lama, dr Pras layak disebut Juragan Poliklinik.

Sebelum lebih jauh mengetengahkan sosok dokter spesialis penyakit dalam kelahiran Solo 30 Juli 1971 ini, akan saya ungkap resep yang dia miliki tatkala mempopulerkan klinik yang baru didirikan (ini bisa juga diaplikasikan untuk  bisnis lainnya).

Perlu diketahui, klinik-klinik yang didirikan dr Pras didedikasikan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Karena itu tidak jarang lokasinya berada di gang-gang sempit pemukiman penduduk. Agar klinik yang ia dirikan cepat dikenal oleh masyarakat sekeliling dan terkesan murah serta manjur, berikut trik-triknya yang khusus ia kenang kembali kepada saya sembari terkekeh-kekeh. Dokter ini memang jenaka….

Silaturahmi PB IDI diwakili dr Zaenal dan dr Pras dengan PC IDI Klaten  (koleksi foto PC IDI Klaten)

Silaturahmi PB IDI diwakili dr Zaenal dan dr Pras dengan PC IDI Klaten (koleksi foto PC IDI Klaten)

Setelah sebuah klinik ia dirikan, dalam beberapa hari dr Pras mengerahkan beberapa anak buahnya untuk promosi klinik tersebut kepada masyarakat sekeliling. Bukan dengan menyebar brosur atau pemasangan spanduk besar-besaran. Melainkan anak buah dr Pras pura-pura bertanya pada penduduk sekitar  yang ditemui, tentang alamat dan lokasi klinik yang baru didirikan. Disertai “ngecap” anak buah dr Pras bahwa ia bekas pasien si dokter poliklinik tersebut. Juga mengatakan bahwa poliklinik itu biayanya murah dan manjur dalam pengobatan. Tentu saja teknik yang “tidak biasa” itu membuat penduduk sekitar poliklinik menjadi penasaran. Dan ujung-ujungnya mencoba. Untungnya memang, poliklinik tersebut memang murah dan manjur betulan.

“Pernah ada anak buah saya kasih laporan. Setelah berkeliling keluar masuk gang di tengah pemukiman, tanpa sadar ia bertanya untuk kedua kali pada orang yang sama. Sehingga orang yang ditanya itu terbengong-bengong, dan spontan berkata bahwa bukankah tadi juga sudah nanya hal sama,” ujar dr Pras sembari tertawa berderai-derai.

Bukan hanya soal promosi saja. Lantaran modal cekak di awal-awal ia mendirikan poliklinik, untuk mengesankan pada pengunjung bahwa obat-obatan di poliklinik yang dimilikinya lengkap, dr Pras tidak kehilangan akal. Ia memerintahkan anak buahnya “meminjam” bekas kardus dan kemasan obat beraneka ragam dari beberapa toko obat yang ada di Pasar Pramuka Jakarta Timur. Dengan kecerdikannya, bekas-bekas kardus dan kemasan itu ia tata dengan rapi dan mengesankan di etalase lemari obat polikliniknya. Pengunjung yang datang, menurut dr Pras, rata-rata berdecak kagum akan kelengkapan obat-obatan yang dimiliki poliklinik baru itu!

***

dr Prasetyo Widhi Bubowo SpPD beserta keluarga (koleksi foto dr Pras)

dr Prasetyo Widhi Bubowo SpPD beserta keluarga (koleksi foto dr Pras)

Mendirikan poliklinik, bagi dr Pras yang lulus dari Fakultas Kedokteran UNS Solo tahun 1997 itu, awalnya ia maksudkan untuk membiayai sendiri kuliah lanjutnya di Program Strata 2 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI). Ia menyelesaikan Program S-2 jurusan Biomedik FK UI pada 2002. Selanjutnya selama 5 tahun sejak 2003 hingga 2008, dr Pras yang kini dikarunia 2 orang putra/i dan beristrikan Rita Kumalasari, memperdalam  pendidikan dokter spesialis pengakit dalam di universitas yang sama. Istrinya yang juga seorang dokter kini tengah mengambil spesialis rehabilitasi medik (fisioterapi).

Seiring perjalanan waktu,  berpraktek sebagai dokter umum di poliklinik sembari yang bersangkutan melanjutkan studi lebih lanjut agar tuntas S-2 dan dokter spesialis, ia jadikan pijakan  misi mulianya.

Setelah 10 tahun berlalu, lima buah polikliniknya di bawah bendera “Restu Ibu” dan sebuah poliklinik utama berbendera “Budi Sehat”   itu telah melahirkan 2 orang dokter spesialis. Yakni dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis paru-paru.

Masih ada beberapa dokter  yang kini menempuh pendidikan spesialis  secara mandiri, hanya dengan berpraktek 2 atau 3 kali seminggu di polikliniknya: 3 orang di bidang neurologi (syaraf), 1 orang penyakit paru, 1 orang di bidang rehabilitasi medik (fisioterapi), 1 orang di bidang kebidanan, dan 2 orang di bidang bedah tulang (ortopedi).

Sebagai CEO Grup poliklinik jaringan “Restu Ibu” dan “Budi Sehat“, dr Pras juga tidak mewajibkan dokter yang telah menuntaskan pendidikan spesialisnya, untuk berkarya di jaringan poliklinik miliknya. Justru ia berharap agar mereka dapat mengabdi di tempat lain, dan posisi yang ditinggalkan diisi dokter baru yang masih segar dan baru dilantik dari daerah. Demikian seterusnya.

Plang Papan Nama Praktek Dokter Bersama (dwiki file)

Plang Papan Nama Praktek Dokter Bersama (dwiki file)

Dikemukakan lebih lanjut, pasien-pasien polikliniknya yang pada mulanya lemah secara ekonomi, justru menjadi pelanggan fanatiknya. Dari situ dr Pras belajar bahwa merawat pelanggan sejatinya lebih sulit ketimbang mendapatkan pelanggan baru. “Dalam bisnis jasa kesehatan semacam poliklinik ini, saya berpandangan bahwa seiring perjalanan waktu pasien yang tadinya lemah secara ekonomi pasti akan beranjak lebih baik taraf kehidupannya. Oleh karenanya, kita tidak boleh menyepelekan dan menomorduakan pasien sekalipun ia tidak memiliki uang sama sekali.  Pasien-pasien dari golongan kurang mampu inilah pelanggan kami yang paling loyal. Pun demikian kita tidak pernah tahu, bahwa dari pasien semacam inilah promosi akan keberadaan poliklinik kami tersebar dari mulut ke mulut. Pula menaikkan citra mengesankan kehadiran poliklinik,” tandasnya.

Untuk lebih merekatkan dengan masyarakat sekeliling polikliniknya, ia memiliki program tahunan dalam bentuk Penyuluhan Kesehatan bagi Masyarakat Awam. Ia juga mengirim tenaga medis secara cuma-cuma ke setiap Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Usia Lanjut dan Balita yang ada di sekitarnya.

Berawal hanya dengan 5 orang karyawan yang dimiliki pada 1999, kini dengan 6 jaringan polikliniknya ia memiliki 64 orang karyawan terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, tenaga administrasi, office boy dan tenaga keamanan.

Memulai bisnis, ia hanya mengontrak sebuah rumah berukuran 60 m² di Jalan Masjid yang agak sempit di bilangan Kampung Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dengan ketekunan dan dedikasinya, kini ia mampu membeli lahan seluas 800 m² di Jalan Raya Tengah (belakang Jalan Masjid) yang cukup luas.

Di atas lahan seluas itu, kini berdiri Klinik Bersalin dan Praktek Dokter Bersama Budi Sehat. Ia jadikan sebagai kantor pusat jaringan bisnis polikliniknya. Fasilitas medis di tempat tersebut lumayan lengkap. Mulai dari 12 kamar rawap inap bersalin, apotek, UGD, USG, rontgen, rekam jantung, praktek dokter bersama, laboratorium hingga rehabilitasi medik.

Laboratorium dan Pusat Diagnostik (dwiki file)

Laboratorium dan Pusat Diagnostik (dwiki file)

Dokter Pras kini tengah mengurus perizinan klinik bersalinnya itu menjadi rumah sakit ibu dan anak. Ia juga sedang negoisasi dengan pemilik tanah kosong  samping poliklinik agar bisa dibeli.  Menurutnya sudah ada kesepakatan, bahwa disamping menyediakan uang tunai juga imbal baliknya berupa saham kepemilikan rumah sakit bagi pemilik lahan. Lantaran syarat pendirian sebuah rumah sakit menimal memiliki lahan seluas 1000 m².

Di luar poliklinik utama di atas lahan seluas 800 m² yang telah menjadi hak miliknya, ia juga sudahberhasil membeli lahan seluas lebih dari 200 m² di daerah Poltangan Jakarta Selatan. Di mana di atas lahan tersebut berdiri 2 lantai bangunan poliklinik miliknya. Sementara 4 buah poliklinik lainnya masih mengontrak.

Apabila saya taksir, total aset yang dimiliki dr Pras saat ini kurang lebih mencapai Rp 5 milyar. Bayangkan, hanya dengan modal awal Rp 3,5 juta pada 1999, 10 tahun kemudian ia mampu melipatgandakan kekayaan yang cukup fenomenal. Itu semua bukan dari hasil KKN, namun murni kerja keras yang tiada henti disertai kreativitas dan fokus pada bidang yang ditekuninya.

Sekalipun sukses tekah diraih, dan keahlian dalam spesialisasi penyakit dalam telah ia genggam, bukan berarti dr Pras sudah puas dengan ilmu yang didapatkan. Saat saya wawancarai beberapa hari lalu ia mengungkapkan pada Juni 2010 mendatang akan menempuh pendidikan jenjang Program Doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selamat Juragan. Anda memang layak dapat bintang!

*****

Dwiki Setiyawan, tinggal di Pasar Rebo Jakarta Timur.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dokter Pras: Juragan Poliklinik

  1. novi berkata:

    Salam kenal dr. Pras.
    Success story dokter very inspiring me. Sy juga punya cita2 ingin mendirikan rumah bersalin sendiri, dan kalo bisa klinik sendiri. Tp sy bukan dokter, sy baru lulus S1 Public health. Ingin rasanya bisa sharing dgn dokter supaya sy kecipratan ilmunya dlm mengembangkan usaha klinik tsb..

  2. diana berkata:

    sip,semangatnya tak pernah padam utk memberikan manfaat bagi org lain. Dulu slm sy kuliah dr.pras jg aktif berperan dlm baksos. Subhanallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s