Muda Wangi Parfum, Tua Bau Balsem


Parfum Perempuan (http://www.kapanlagi.com)

Parfum Perempuan (http://www.kapanlagi.com)

SEKIAN lama tak sua, pada sore hari beberapa bulan lalu, di pintu masuk utama Plaza Senayan (PS), seorang perempuan muda dengan pandang menunduk tergopoh-gopoh lari kecil keluar dari dalam mobil.  Beberapa anak tangga dia tapaki, kepalanya pun mendongak diantara kerumunan orang yang tengah menunggu kendaraan. Wangi parfumnya semerbak.  Tercium  aroma rosemary khusus buat perempuan yang energik, keras, berani dan menyukai petualangan. Ia kaget melihat saya.

“Oh Mas Dwiki. Apa kabar mas?” ujarnya sembari mengulurkan tangan. Saya sambut uluran tangannya. Hangat. Jari-jemari lentiknya itu beberapa saat saya genggam.

“Baik dan Sehat Izzah (bukan nama sebenarnya). Gimana dengan kamu?”

“Baik juga. Senang Izzah ketemu mas Dwiki disini,” ujarnya menyunggingkan senyum.

“Yuk kita mojok sambil ngopi bareng mas!”

Berjalan beriringan, kami pun bergegas menuju kedai kopi Sta—cks yang berlokasi di barat daya PS. Senja yang mulait urun menampakkan wujudnya. Diantara lalu lalang kendaraan di jalan raya depan kedai kopi, dan bayang-bayang muram pejalan kaki di atas trotoar, kami  mengambil tempat duduk di luar kedai. Persis di sebelah pintu samping keluar masuk kedai kopi itu. Hanya berbatas dinding kaca.

“Pesan Kopi apa?”

“Apa yang mas suka, Izzah juga suka, ” ujarnya mengulas senyum.

Saya segera menuju kasir, dan beberapa saat dua cangkir Caramel Macchiato tersaji. Sembari menyeruput secangkir minuman itu, potongan-potongan mozaik kenangan akan Izzah pun terlamun…¹. Lamunan akan perempuan dihadapan saya ini  buyar  manakala sekonyong-konyong Izzah meminta pendapat sesuatu hal.

“Menurut mas Dwiki. Gimana dengan penampilan Izzah sekarang dengan yang mas kenal selama ini?”

Saya sedikit tergagap.

“Oh… Kamu masih seperti yang dulu saya kenal. Cantik, penuh vitalitas dan menggairahkan mata lelaki yang melihatnya.”

Sengaja kata “smart” tidak saya ungkapkan, karena memang saya tidak suka pujian yang membabi buta. Ungkapan pujian tersebut, saya rasa bukan dibuat-buat. Perempuan juga tidak suka oleh pujian yang berlebihan. Untungnya ia sudah cukup puas dengan lontaran dimaksud.

“Masak. Mas Dwiki bisa saja?”

“Ada yang berubah dengan saya mas?”

Dia menunggu-nunggu ungkapan yang akan saya kemukakan. Harap-harap cemas. Entah dari mana, muncul ilham untuk mengomentari penampilannya yang bak model sabuk kecantikan terkenal yang acap diiklankan televisi.

“Ooo ada. Harum aroma tubuhmu  oleh wangi parfum yang kau pakai hari ini dan hari-hari lalu. Hanya saja,  jika kita bertemu lagi pada 20 tahun mendatang, bukan lagi wangi parfum yang aku rasakan, tapi bau balsem menyengat sebelum kita bersalaman.”

Izzah cukup terperanjat oleh ungkapan tersebut. Dia mikir sejenak (mungkin membayangkan dirinya pula neneknya persis seperti ungkapan spontan tersebut)… muda wangi parfum, tua bau balsem.

“Asem mas Dwiki!”

***

Begitulah. Demi untuk sekedar penampilan, seseorang berupaya semaksimal mungkin ingin menunjukkan tentang “siapa dirinya”. Banyak orang berela-rela mengejar “impian semusim” itu untuk mendongkrak penampilan kulit luarnya. Segala cara ditempuh dan diperjuangkan —Bahkan yang tidak masuk akal, untuk tidak mengatakan haram hukumnya.

Budaya masyarakat kita memang masih mengagungkan tampilan-tampilan kulit  luar (yang tampak,  sekalipun mungkin menipu), dan bukan mengagungkan isi atau kemampuan apa dari seseorang.

Di sebuah bank swasta, saya pernah antri panjang bersama dengan seorang lelaki tua keturunan. Melihat tampilan luarnya, kita pasti akan “menyepelakannya”.  Bersandal jepit, memakai celana pendek dan kaos oblong, apalagi menenteng-nenteng handphone  keluaran terbaru.

Tahukan pembaca. Begitu dia mengeluarkan isi dari tas kresek hitam yang ditentengnya dihadapan petugas teller bank, banyak orang yang melihatnya terbelalak. Ratusan juta rupiah berjejer rapi didepan teller. Pecahan seratusan ribu rupiah. Sebagian uang itu lusuh.

Boleh jadi, si lelaki tua itu seorang pengusaha ulet. Dia tak perlu wangi parfum ditubuhnya. Barangkali pula di rumah dia sudah memakai balsem. Siapa tahu?


¹) Akan saya ceritakan pada postingan tersendiri.

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s