Berpetualang Sebagai Penumpang Gelap di Lokomotif Kereta Api Argolawu


 

Lokomotif Kereta Api Argo Lawu (http://media.photobucket.com/image/lokomotif)

Lokomotif Kereta Api Argo Lawu (http://media.photobucket.com/image/lokomotif)

PENGALAMAN satu lagi yang cukup langka. Mendebarkan. Kalau saat ini mau melakukan kembali barangkali saya harus berpikir seribu kali. Disamping cukup beresiko tinggi, mungkin dengan melihat keadaan fisik diri saat ini nampaknya  juga harus tahu diri.

Kisah ini berkaitan dengan soal persalinan kedua sang istri. Akhir tahun 1999, istri mengandung anak kedua. Usia kehamilan 6 bulan. Entah mengapa, dengan alasan agar dekat dengan keluarga besar dan udara kampung yang masih segar, istri bersikeras ingin melahirkan anak kedua di Yogyakarta. Saat itu, adik-adik ipar (tiga orang perempuan) di kampung Blawong Trimulyo Jetis Bantul belum berkeluarga. Sementara anak pertama yang lahir di Jakarta pada April 1998 usianya kurang lebih satu setengah tahun. Alasan yang bisa diterima, mungkin adik-adik ipar bisa membantu kerepotan semacam itu.

Jadilah pada bulan Januari tahun 2000 saya mengantar istri pulang ke Yogyakarta untuk mempersiapkan kelahiran anak kedua itu. Dari sinilah, saya awali sebuah petualangan cukup mendebarkan berpetualang naik kereta api Jakarta-Yogyakarta bersama masinis di lokomotif kereta Argolawu. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Kereta eksekutif ini dipilih lantaran dia satu-satunya kereta api yang berangkat malam dan paling akhir dari stasiun Gambir. Jarang berhenti dan begitu kalau tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta masih pagi.

Sejak akhir Januari hingga Juni 2000, setiap dua minggu sekali (kadang seminggu sekali) saya ‘olah raga jantung’ Jakarta-Yogyakarta. Berangkat hari Jum’at selepas Magrib dari kantor di kawasan Senayan langsung ke stasiun Gambir. Dan tepat pukul 21.00 wib, sudah nangkring bersama masinis di lokomotif Argolawu meninggalkan emplasemen stasiun Gambir menuju Yogyakarta. Itu ritual berangkatnya.

Sedang dari Yogyakarta, kembali ke Jakarta bukan lagi naik Argolawu melainkan Kereta Api Senja Bisnis Yogyakarta yang meninggalkan stasiun Tugu pada kurang lebih pukul 18.00 wib. Di lokomotif juga? Bukan. Melainkan di gerbong barang kereta tersebut yang kalau dari Yogyakarta letak gerbong paling belakang. Persis dibelakang  gerbong diesel! Di situ, sudah banyak ‘teman-teman’ yang saban minggu juga bolak-balik Jakarta-Yogyakarta lantaran keluarganya di desa. Mula pertama terasa bising oleh suara mesin diesel. Namun lama kelamaan juga terbiasa. Tetap bisa tidur nyenyak.

Mengapa hal demikian saya lakukan? Pangkal soalnya semata-mata soal “penghematan”. Mengikuti prinsip ekonomi: mendapatkan hasil maksimal dengan biaya minimal. Dengan cara menghindar beli karcis resmi yang kalau tidak salah saat itu Argolawu bertarif Rp 100 ribu lebih. Dengan naik di lokomotif, saya cukup membayar Rp 30 s.d Rp 40 ribu. Pikir saya, lha wong sama-sama ke Yogyakarta-nya. Lagi pula selisih antara membeli harga karcis resmi dengan “nembak” di atas lokomotif cukup besar kala itu. Dan lumayan buat “nambah gizi” istri di kampung. Pun demikian, juga “sedekah” buat si masinisnya. 🙂

Gimana tekniknya bisa naik ke lokomotif? Sesampai di stasiun Gambir, untuk mengelabui petugas jaga karcis, saya hanya membeli karcis peron. Kadang kalau terburu-buru, saya hanya bilang pada petugas di pintu masuk, “Pak, ada barang saya tadi yang ketinggal di cafetaria atas”. Yang penting bisa sampai di atas. Lolos dari situ belum berarti kondisi aman. Masih ada tahap selanjutnya.

Penjagaan polisi khusus kereta api Argolawu agak ketat. Untuk bisa naik ke lokomotif  harus kucing-kucingan. Berjalan dulu ke arah selatan mencari lokomotif sambil lihat-lihat ke belakang. Bila merasa aman, tinggal kasih kode pada masinis yang sedang bertugas dan biasanya sebelum kereta berangkat salah satu masinis berada di luar lokomotif.

Naik ke lokomotif saja harus menunggu beberapa saat setelah ada pemberitahuan dari mikrofon atau TOA bahwa kereta akan segera berangkat. Kalau nekat sebelum itu, dan mendekam di lokomotif kadang bisa kena razia polisi khusus yang menginspeksi lokomotif. Saya pernah juga gagal pulang ke Yogyakarta dan harus kembali ke rumah di bilangan Pasar Rebo Jakarta Timur lantaran terjaring razia polisi khusus kereta api. Beruntung hanya diperingatkan. Tidak sampai urusan yang lebuh jauh lagi.

Kabin lokomotif Argo Lawu cukup lapang. Ada ruang cukup untuk rebahan berselonjor di belakang kemudi masinis. Lokomotifnya sendiri dikendalikan dua orang: masinis dan co-masinis. Kereta ini berhenti di Stasiun Cirebon, lantaran dari stasiun ini ada pergantian masinis. Bayar lagi? Ya tidak. Mungkin soal ini sudah diselesaikan secara adat oleh masinis sebelumnya.

***

Naik kereta di lokomotif, sesungguhnya bagi orang yang suka berpetualang lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. Suka yang pertama telah saya singgung di muka: irit. Suka yang kedua, dapat makan dan minum gratis. Sebelum kereta api berangkat, pramusaji restorasi kereta api telah membekali masinis sebuah box plastik cukup besar berisi nasi dan lauk pauknya, air putih dan satu termos besar berisi kopi panas. Bekal itu tidak mungkin dihabiskan oleh sang masinis, karenanya dbagi pada “penumpang gelap” seperti saya itu.

Sedangkan sukanya yang lain, bisa melihat panorama luar dengan sangat menajubkan. Contohnya, jelang memasuki Stasiun Jatinegara, laju kereta api melambat. Sebab di kanan-kiri rel terbentang suasana remang-remang tingkah laku pelacur-pelacur kelas pinggiran. Transaksi sex terjadi sambil duduk-duduk di bantalan rel, dan mereka akan menyingkir begitu tersorot lampu depan kereta api. Boleh percaya atau tidak, tempat untuk melakukan adegan mesum itu ya di pinggiran rel. Cukup gelap dan hanya beralaskan tikar butut atau lembaran-lembaran koran. Sayangnya saya belum pernah melihat adegan-adegan mesum itu dari dalam lokomotif.

Selain itu, perasaan takjub juga terjadi manakala kereta api akan memasuki sebuah terowongan. Seakan-akan, kita yang berada di lokomotif akan menabrak terowongan saja ….

Dari pengalaman menjadi penumpang gelap di lokomotif tersebut, saya jadi hapal nama-nama stasiun (besar atau kecil) yang membentang sejak Gambir Jakarta hingga Tugu Yogyakarta. Termasuk juga  tahu sistem persinyalan kereta api di Indonesia.

Anda mau mencoba? Apabila tidak “kepepet” seperti saya hampir 10 tahun silam sebaiknya jangan mencoba. Kecuali anda punya nyali dan berjiwa petualang….

*****

 



Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Berpetualang Sebagai Penumpang Gelap di Lokomotif Kereta Api Argolawu

  1. deFid berkata:

    Pengalaman yang sama persis apa bila sy naek kereta api. Ini sya lakukan karena jdwal dr stsiun Haurgeulis (Indrmayu) menuju Jakrta hnya ada 1 KA (kelas ekonomo) dan 1 kelas bisnis. Daripada membeli tiket bisnis yg hrganya mahal, atau naik KA kelas ekonomi yng selalu penuh n brdesak-desakan, mendingan sy naek langsung aja k lok masinis.Tak peduli kereta apa yg dinaikin (bisnis atw eksekutif), ‘tarifnya’ sm sprti KA ekonomi, Rp.15rb + bonus makan n minum (kalau dikasih). Tentu ada tawar menawar jg dgn masinis 😀

    Hgl – Jatinegara, saya naek di lok (‘nembak’ k masinis). Sampai d Jatinegara, sya disuruh turun untuk pindah k lokomotif penumpang. Karena disityu sudah tidak ada pemeriksaan karcis, jd ya aman-aman saja. hehe…

    (mohon jangan ditiru, karena ini merugikan negara). 😀

  2. harnoko berkata:

    Saya tiap dua minggu sekali ke solo,kewajiban sebagai suami dan ayah. Dengan membayar 50rb (gambir-solo) pada tehnisi saya bisa tidur beralas kardus di gerbong BP KA Gajayana Malang.
    Suatu jum’at sore selepas stasiun Cikampek masuk POLSUSKA & PS razia. Saya di haruskan membayar 300rb,saya dan 4 rekan menolak. Kami dipaksa turun dari kereta,sampai di stasiun Jati Barang kami ber-5 benar-benar turun. Di stasiun Jati Barang kami cari info kereta yg akan lewat,ternyata KA Bima Surabaya yg jg melalui solo namun tidak berhenti di stasiun jatibarang. Kamipun diskusi gmn caranya supaya bisa naek KA Bima. Diputuskan patungan 10rb, terkumpul 50rb kami serahkan ke KS/kepala stasiun. Minta tolong supaya lampu sinyal dibikin merah dan kereta berhenti. Dengan berat hati KS mengabulkan permohonan kami.
    Tak lama kemudian lokomotif KA Bima tepat di depan kami,dan kamipun bergegas naik ke loko berseri CC203 tsb. Perjalanan selanjutnya saya lakukan jongkok di belakang masinis.
    Perjalanan ini sungguh tidak nyaman dan amat melelahkan. (Pesan saya,kalaupun harus pulang kampung diusahakan 1 bulan sekali dengan pswt terbang.Tarif setara KA eksekutif waktu 10x lebih hemat dan nyaman.)

  3. Bapak Guru berkata:

    BUTUH IJAZAH UNTUK MENCARI KERJA – MELANJUTKAN KULIAH – KENAIKAN JABATAN ?!?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP MEMBANTU ANDA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH.
    BERIKUT INI MERUPAKAN JASA YANG KAMI SEDIAKAN.

    -SMU:4.000.000
    -D3:6.000.000
    -S1:8.000.000

    * AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / KOPERTIS / DIKTI, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI,BUMN, SWASTA).

    JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.

    SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE: 085736927001.ku@gmail.com
    HUB: +6285736927001.

    (HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)

    Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s