Mengenang Para Wartawan Senior Solo Era 1990-an


Makam Almarhum Gojek Joko Santoso

Makam Almarhum Gojek Joko Santoso

APABILA ada wartawan, budayawan, guru sekaligus sahabat baik yang patut saya kenang dalam hidup, salah satunya Almarhum Gojek Joko Santoso. Almarhum saya kenang lantaran ilmu-ilmu praktis yang ditularkannya dalam bidang kejurnalistikan.

Sebagai wartawan sekaligus Kepala Perwakilan Harian Suara Merdeka untuk wilayah Eks-Karesidenan Surakarta, Gojek merupakan tipe wartawan-budayawan gaul. Pergaulan kesehariannya melintasi sekat-sekat generasi. Kepada siapa dan dari manapun latar belakangnya, ia “nyambung” dalam pembicaraan. Orangnya agak nyentrik. Sering bercanda ketimbang seriusnya, dan kalau bicara apa adanya tanpa “tedeng aling-aling”. Ia juga tidak pelit menularkan pengalaman jurnalistiknya kepada para yunior-yunior yang menyambanginya.

Mahasiswa-mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UNS Solo yang tengah Praktek Kerja Lapangan (PKL) di kantor Perwakilan Harian Suara Merdeka di Jalan Ronggowarsito Solo di awal-awal dekade 1990-an, pasti punya kesan sama atas dedikasinya itu. Dan saya rasa, itulah amal kebaikan almarhum yang akan senantiasa dikenang para yuniornya.

Gojek berpandangan bahwa yunior-yuniornya sudah dibekali teori-teori komplit dalam kejurnalistikan. Karenanya ia memberikan keleluasaan sebesar-besarnya kepada para yunior untuk menggali lebih dalam lagi teknik-teknik yang dipelajari di bangku kuliah. Space yang luas juga diberikan untuk mengisi rubrik-rubrik yang ada di “Halaman Surakarta dan sekitar” Harian Suara Merdeka. Yang terkadang, wartawan resminya sendiri diminta untuk “mengalah”, space yang ada dipakai para mahasiswa magang tersebut.

Kepada para mahasiswa magang, Gojek senantiasa menekankan agar tatkala membuat reportase, mahasiswa tidak terpaku pada peristiwa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Tetapi mengembangkan latar peristiwa, dengan menggali urutan dan hubungan-hubungan yang terkait atas peristiwa itu serta memperkayanya dengan referensi yang relevan.

Sebagai contoh, misalnya, ada seminar mengenai “Solo sebagai Kota Pariwisata Seks Indonesia“. Menurut Gojek, jika hanya melaporkan kepada khalayak melalui reportase hanya dengan apa-apa yang dilihat, didengar dan dirasakan pada seminar itu, maka reportase yang dibuat nampak datar dan kurang berisi. Namun, kata Gojek selanjutnya, apabila diperkaya dengan bacaan yang relevan, dan bisa menempatkannya dengan pas dalam reportase yang dibuat, maka tulisan itu seolah-olah menjadi hidup dan menarik.

Lantaran kebijakan dan trik-triknya itu, tidak jarang reportase yang dibuat para mahasiswa magang tersebut bisa tampil di headline halaman satu Harian Suara Merdeka. Bagai mahasiswa magang, tampil di halaman satu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Makanya tidak heran, alumni magang selama kurang lebih tiga bulan di Harian Suara Merdeka itu, rata-rata sudah siap tatkala menjadi wartawan betulan.

Di kota Solo, pada dekade 1990-an, harian-harian yang memiliki kantor perwakilan atau biro seperti Kedaulatan Rakyat, Bernas, Kompas, Wawasan dan Jawa Pos sudah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi dan organisasi-organisasi (pelajar atau mahasiswa) yang ada. Bentuk konkritnya bukan hanya berupa diklat, worshop atau seminar jurnalistik melainkan praktek langsung sebagai wartawan magang.

Perlu juga ditambahkan disini, radio-radio swasta niaga yang ada di kota Solo saat itu juga membuka pintu selebar-lebarnya dalam kerjasama semacam. Mereka pun punya andil cukup besar dalam melahirkan penyiar radio handal.

Buah dari benih yang ditanam pihak perguruan tinggi dan organisasi-organisasi pemuda dimaksud dalam pola simbiosis mutualisma dengan pihak perwakilan/biro media massa cetak itu nampak pada kurun 1990-an akhir. Di mana, kini banyak dari alumni Ilmu Komunikasi Fisip UNS dan organisasi pemuda yang tersebar menjadi wartawan di media-media cetak dan radio tanah air.

Patut saya kemukakan disini, disamping Gojek Joko Santoso, wartawan-wartawan senior saat itu di Solo seperti: Mulyanto Utomo (dulu Kepala Biro Harian Bernas, dan kini di Solopos), Putut Gunawan (Bernas), Kahono Teguh (Jawa Pos), Hari D Utomo (Kedaulatan Rakyat), Ardus M Sawega (Kompas), Kastoyo Ramelan (Tempo kemudian Gatra) dan Junianto (Surya) punya saham setara dalam melahirkan wartawan mumpuni dari kota Solo.

Kepada nama-nama yang saya sebutkan di atas, tidak ada yang bisa saya berikan atas kebaikan dan amal budinya, selain ucapan terima kasih. Khusus kepada Almarhum Gojek Joko Santoso, semoga amal kebaikan yang pernah ditabur pada kami-kami sebagai yuniornya akan menuai balasan setimpal dari-Nya.

*****

Sumber Gambar: Klik Disini.


Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Mengenang Para Wartawan Senior Solo Era 1990-an

  1. kahono teguh s berkata:

    Mas Dwiki……
    Terlalu berlebihan kalau disejajarkan dengan teman-teman wartawan senior di Solo saat itu. Apalagi disejajarkan dengan Almarhum Gojek, mas Ardus Sawega, Hari D Utomo, Mulyanto dan Junianto.
    Karena saat itu aku hanyalah wartawan biasa.
    Tulisan ini sangat bagus.
    salam

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Mas Kahono. Saya mencatat dengan tinta emas dalam memori yang tersimpan di ingatan, bahwa Mas Kahono memiliki reputasi yang mengagumkan dan turut andil dalam mendidik mahasiswa jaman itu. Tidak sedikit mereka-mereka yang telah “jadi” saat ini mendapat sentuhan tangan dingin Mas Kahono. Jadi sangat wajar kalau Mas Kahono saya sejajarkan dengan mereka yang saya sebutkan itu. Oya, ada satu lagi wartawan senior yang ketinggalan saya sebut, yakni Mas Kastoyo Ramelan. Wartawan Majalah Tempo saat itu. Ia juga kalau diundang acara-acara pelatihan jurnalistik rajin, sebagaimana juga Mas Kahono, Almarhum Joko Gojek dan lain-lain.

      Kita ini kan hidup hanya sekedar mampir “ngombe” Mas. Maka sebagai yunior perlu menjunjung falsafah Jawa, “mikul dwur mendem jero”. Hal-hal baik yang dari seseorang yang terkenang kita ungkapkan, dan mungkin yang kurang baik kita pendam. Lantaran, dari hal-hal baik itulah kita belajar bagi generasi berikutnya. Bukankah begitu Mas?

  2. Buneyasmin berkata:

    Catatan yang bagus sekali, mas Dwiki😀

  3. asri al jufri berkata:

    Dulu waktu kuliah aku sering ketemu mas Gojek, dia senior saya kalau gak salah angkatan 80, sedang saya angkatan 81-AN. Memang beliau jadi icon Fisip saat itu. Tampilannya selalu nyentrik gaya marhaen. Memang beliau dekat dengan teman-teman GMNI yang saat itu dominan di Fisip. Sedangkan saya sebagai yunior,justru masih merintis HMI bersama beberapa teman. Karena itu tidak sempat dekat betul, cuma sering ketemu di kantin atau di emperan depan kampus saat menunggu jadwal kuliah. Tapi saya salut karena beliau sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial di kampus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s