Bagaimana Sih Rasanya Orang Mabuk Itu?


Alkoholis (http://scrink.com)

Alkoholis (http://scrink.com)

WIKIPEDIA berbahasa Indonesia (Klik DiSini), mengartikan secara umum bahwa mabuk, adalah keadaam keracunan karena konsumsi alkohol sampai kondisi dimana terjadi penurunan kemampuan mental dan fisik. Gejala umum antara lain bicara tidak jelas, keseimbangan kacau, koordinasi buruk, muka semburat, mata merah dan kelakuan-kelakuan aneh lainnya. Seseorang yang terbiasa mabuk kadang disebut sebagai alkoholik atau “pemabuk”.

Kita sering membaca, mendengar dan menyaksikan berkali-kali pemberitaan di media massa kasus orang tewas bahkan tewas berjamaah lantaran pesta minuman keras (miras). Menurut pemberitaan media, kasus ini muncul lantaran mereka “mengoplos” atau mencampur aduk beberapa minuman dari jenis berbeda. Tatkala kondisi  korban mengenaskan (sekarat atau tewas) pesta miras itu ditayangkan televisi, tak pelak lagi banyak ibu-ibu pemirsa tayangan berita itu cemas, gundah-gulana sekaligus miris menyangkut nasib putra-putri kesayangannya. Jangan-jangan nasib buruk –apabila tak disertai pengawasan– bisa juga menimpa mereka?

Bicara soal mabuk, seumur-umur saya belum pernah merasakan “nikmat”-nya mabuk lantaran minum miras.  Berdasarkan penuturan beberapa teman yang telah mengalaminya, katanya kalau mabuk seakan-akan ia terbang di awang-awang. Badan terasa ringan bagaikan kapas menari-nari di angkasa, dan semua persoalan hidup hilang seketika. Masak iya sih?

Dulu, saat saya indekos di Jalan Kebangkitan Nasional Solo (belakang Stadion Sriwedari), dari deretan kamar yang ada, banyak penghuninya adalah gadis-gadis pekerja di diskotik kawasan Balekambang yang gemar pesta miras. Kamar yang persis didepan kamar yang saya tempati, beberapa kali dijadikan ajang pesta miras. Sekalipun saya akrab dengan penghuni kamar itu, tak pernah sekalipun saya ditawari mencoba menenggak miras yang mereka konsumsi. Sebabnya diantara penghuni-pengghuni kamar kost itu, saya termasuk yang rajin shalat. Di mata mereka, saya dianggap orang alim (walaupun pada kenyataannya juga belum tentu). He..he..he.

Kalau sudah “teler”, mereka berbicara kacau. Mata nanar, dan kesadaran terganggu. Pernah ada seorang yang saya kenal akrab, keluar dari kamar sambil nunjuk-nunjuk ke arah saya, “Mas Wawan (panggilan saya di kost itu), I love you.” Dan karena sudah tahu perangai semacam itu sebelumnya, saya sendiri juga ikut menanggapi santai dengan telapak tangan kanan mengayun dari depan mulut ke arahnya, “I love you too moachhh.”

Mengenai bicara kacau itu belum seberapa nampaknya, kadang ada yang tertidur membujur hampir-hampir tidak bergerak hingga tiga hari dua malam. Yang terakhir ini, konon menenggak  miras ditambah obat penenang yang over dosis.

Jangankan mabuk seperti ilustrasi di atas, mabuk perjalanan di atas moda transportasi saja belum pernah merasakan. Sedari kecil, saya acap diajak bepergian orang tua, lantaran itu mungkin saja menyebabkan tubuh saya kebal oleh mabuk perjalanan. Satu-satunya mabuk yang pernah saya alami, yakni mabuk kepayang. Di kala belia, tatkala benih-benih cinta bersemayam dalam dada, untuk ditaburkan di pesemaian pujaan hati.

Nah kalau mabuk kepayang ini, saya bisa mendiskripsikannya dengan untaian kata. Siapapun orangnya, bila mabuk yang satu ini membuncah di dataran hati, ia merasakan bahwa dunia ini bagaikan hamparan bunga warna-warni. Yang setiap melangkah, harumnya tercium semerbak mewangi. Pendek kata, rasanya pada hamparan tersebut tidak ada satupun bunga bangkai yang tumbuh dan mekar. Yang ada: mawar, melati, lavender, tulip, anggrek, sedap malam dan sebagainya. Dunia yang luas inipun, bagi orang yang tengah mabuk kepayang, terasa sempit. Karenanya, serasa milik berdua saja.

***

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, mabuk menenggak miras itu jelas merupakan tindakan tidak sayang badan. Seseorang yang tidak menyayangi dirinya sendiri, tidak bisa diharapkan untuk menyayangi orang lain. Sebab fondasi dasar agar kita dapat menyayangi orang lain, pertama-tama  musti  diawali dengan menyayangi dirinya sendiri.

Menyayangi dirinya sendiri berarti pula ia menyayangi Dzat di luar dirinya, yang dengan kemurahan dan perkenan-Nya memberinya hidup dan kehidupan. Jika engkau telah sampai ke taraf pemahaman samacam itu, tidak akan pernah dalam hidupmu engkau bertindak di luar batas-batas kemanusiaanmu. Mabuk, termasuk salah satu tindakan di luar batas itu, karena dengannya engkau bukanlah dirimu….

*****


 

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Gaya Hidup dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Bagaimana Sih Rasanya Orang Mabuk Itu?

  1. Ping balik: Remaja Cerdas Anti Miras | evRina shinOda

  2. Minyut berkata:

    Tulisan nya mantab banget gan, jd penasaran ma orang nya. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s