Audisi Calon Menteri Mirip Kontes Ratu Kecantikan


SBY di Puri Cikeas Santai Bersama Wartawan (http://www.presidenri.go.id)

SBY di Puri Cikeas Santai Bersama Wartawan (http://www.presidenri.go.id)

TIDAK ada yang salah dengan “tradisi politik” ala SBY dalam serangkaian tes terhadap calon-calon pembantunya yang akan duduk di Kabinet Jilid II Periode 2009-2014.  Masyarakat Indonesia dalam beberapa hari ini disuguhkan pertunjukan drama “Waiting for Ministry”  melalui segala saluran media yang ada. Mengaduk-aduk pikiran dan perasaan para pembaca dan pemirsa serta pendengar media massa cetak maupun elektronika. Sebagai sebuah pertunjukan drama politik, media massa telah turut andil mendramatisasi situasi ini.

Bagi saya pribadi, sesungguhnya kesan yang muncul terhadap audisi calon menteri biasa saja. Mensitir lirik lagu “Seurieus” dengan modifikasi kecil, “Toh menteri juga manusia.” Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri pesan pencitraan yang ingin ditonjolkan sangat terasa. Bahkan berlebihan. Audisi calon menteri SBY-Boediono ini sudah mirip Kontes Ratu Kecantikan.

Perhatikan saja tayangan di televisi dari kediaman SBY di Puri Cikeas Bogor. Mulai dari cara berjalan, cara mengemukakan pendapat di depan podium, dan mungkin audisi tertutup face to face-nya tidak beda jauh dengan kontes ratu kecantikan. Seandainya  waktu yang tersedia saja lebih panjang bagi SBY, barangkali ada tes fisik berenang  untuk calon  menteri tersebut.

Hemat saya, soal-soal menyangkut audisi menteri itu bisa lebih disederhanakan. Pencitraan politik dalam drama bertitel “Waiting for Ministry” dimaksud memang sangat penting. Untuk mengenalkan secara dini kepada para wartawan dan publik luas masyarakat Indonesia. Namun jauh lebih penting, apakah setelah nanti menjabat di kabinet, para pembantu presiden itu bisa menunjukkan loyalitas dan kinerja yang luar biasa.

Masalah loyalitas para menteri kepada Presiden dan Wakil Presiden, SBY-Boediono, nampaknya sudah dipagari dengan kontrak politik dan fakta integrasi yang ditandatangan enam partai politik mitra koalisi pada Kamis 15 Oktober 2009. Substansi klausul kontrak politik menyebutkan adanya kesamaan pikiran, visi-misi, platform dan ideologi masing-masing parpol mitra koalisi untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat  serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Adapun menyangkut kinerja, masih akan kita kritisi sekurang-kurangnya kurun waktu 100 hari masa pemerintahan semenjak menteri-menteri kabinet SBY-Boediono dilantik. Hal yang menyangkut kinerja kedepan para menteri SBY-Boediono ini patut kita kemukakan, mengingat persoalan-persoalan yang akan dihadapi bangsa ini memerlukan tindakan cepat namun bijaksana dan memuaskan semua kalangan. Ambil contoh, persoalan terkait ketenagakerjaan.

Tanpa perlu disebutkan statistiknya, dari pengamatan saya di lingkungan tempat tinggal saja, keluhan-keluhan sulitnya mendapatkan pekerjaan cukup layak sangat dirasakan. Belum lagi bicara yang bersifat makro ekonomi dan makro sosial-budaya-hankam.

Kesemua persoalan dalam kehidupan peri kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang kita hadapi saat ini, membutuhkan sentuhan-sentuhan kreatif dan koordinasi lintas sektoral dari orang nomor satu di masing-masing departemen, badan, lembaga dan instansi terkait.

Posisi Konduktor, Alat Musik dan Pemusik dalam Orkestra Politik (Oxford Ensiklopedi Pelajar)

Posisi Konduktor, Alat Musik dan Pemusik dalam Orkestra Politik (Oxford Ensiklopedi Pelajar)

Saya akan mengilustrasikan soal loyalitas dan kinerja para menteri dengan sebuah  pergelaran musik orkestra. Presiden adalah konduktornya, dan Wakil Presiden sebagai cokonduktor. Para menteri memerankan diri sebagai musisi-musisi dengan alat musik tertentu yang dikuasainya. Sedangkan rakyat bertindak sebagai penonton (yang aktif) dalam pertunjukan orkestra itu.

Tentu saja untuk menghasilkan alunan musik yang padu dan tidak sumbang, dibutuhkan ketrampilan konduktor untuk mengarahkan para musisinya. Musisinya pun mesti saling isi-mengisi serta lengkap-melengkapi agar tidak menimbulkan bunyi sumbang. Maka koordinasi dengan tidak saling menonjolkan ego masing-masing layak ditonjolkan. Darinya akan dihasilkan “kinerja” bagus berdasarkan kompetensi yang dimiliki masing-masing. Jadi alangkah lucunya, apabila ada seseorang yang mahir alat musik biola dipaksa konduktor untuk meniup klarinet.

Sebagai penonton, maka masyarakat berhak memberi apresiasi dengan cara “standing aplaus” apabila pertunjukan itu “ciamik“, namun di pihak lain masyarakat pula dapat memberikan kritik andaikan ada bunyi-bunyian sumbang dalam pergelaran orkestra bersangkutan. Bagi para kritikus, tidak ada maksud lain kecuali agar alunan musik yang berkumandang senantiasa  serasi dengan notasi-notasi (bisa dibaca: program kerja) yang telah dipersiapkan.

Kembali pada esensi posting, kita berpengharapan audisi calon menteri di Puri Cikeas merupakan pertunjukan drama serius. Sekalipun keseriusan itu tidak mesti diungkapkan dengan cara yang mempertunjukkan secara aktraktif layaknya kontes ratu kecantikan. Pengharapan lain yang jauh mendasar yakni keseriusan para menteri Kabinet SBY-Boediono nantinya untuk menuntaskan pekerjaan rumah bangsa ini yang masih terbengkalai.

Lanjutkan Sir!

*****



Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Audisi Calon Menteri Mirip Kontes Ratu Kecantikan

  1. semoga kabinet SBY yang baru ini bisa lebih baik dari yang sebelumnya…

  2. moel berkata:

    Semoga Pemerintahan yg saat ini dan akan datang bisa membawa perubahan yg lebih baik lagi.

  3. andry sianipar berkata:

    salam super,,,
    kita dukung dengan do;a saja ya !!!
    sebab do;a adalah senjata..
    terimaksih mas, sharing nya !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s