Kidung Penjaga di Keheningan Malam


Misteri Malam (kredit foto: http://www2.nau.edu)

Misteri Malam (kredit foto: http://www2.nau.edu)

KIDUNG Rumeksa Ing Wengi“. Saya terjemahkan bebas menjadi Kidung Penjaga di Keheningan Malam. Ia merupakan tembang, gita, lagu atau nyanyian yang sangat popoler di pedesaan-pedesaan Jawa. Konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Tatkala SD di Klaten Jawa Tengah awal-awal 1980-an, saya acap mendengar “ura-ura” (senandung) lirih dan penuh penghayatan ini dari bibir tipis Pakde Minto  pada keheningan malam yang tengah “leyeh-leyeh” (berbaring rileks) di bale bambu yang sudah agak reyot. Di lain waktu, kidung ini disenandungkannya sembari membuai mesra putra bungsunya yang susah tidur dan senantiasa menangis –sebagai pengantar ke peraduan.

Apabila mendengar kidung dilantunkan, aliran darah serasa terkesiap. Dan memang, pada kenyataannya kidung  ini bukan sembarang kidung. Orang Jawa meyakini, dengan menyanyikannya, maka pelantun dan keluarganya akan terhindar dari malapetaka.

Keseluruhan bait  dari “Kidung Rumeksa Ing Wengi” berjumlah sembilan. Namun yang terkenal dan acapkali disenandungkan yakni bait pertamanya. Bait pertama  sangat dikenal dan menjadi semacam “kidung wingit”  karena diyakini membawa tuah seperti mantra sakti penolak bala.

Jika kita cermati makna dari sembilan bait kidung ini, kandungan isinya merupakan medium dakwah dalam bentuk tembang yang sangat luar biasa. Ini menandakan bahwa para penyebar agama Islam di masa-masa awal perkembangannya di pulau Jawa mampu memahami, menjiwai dan sekaligus menjawab kebutuhan spiritualitas masyarakat.

Semangat yang terkandung dari  kidung ini  untuk saling ingat-mengingatkan manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Gusti Allah SWT. Dengan mempercayai bahwa Allah SWT sangat dekat dengan makhluk ciptaan-Nya, maka apapun rintangan dan godaan dari luar yang menghadang akan dengan mudah diatasi. Termasuk rintangan dan godaan yang kadangkala di luar kemampuan akal manusia.

***

Sekarang mari kita resapi, dua buah bait gita  ini dalam langgam “Dhandhanggula“. Ia seolah-olah menjadi tembang klasiknya Orang Jawa, yang abadi sepanjang masa. Hingga kini, orang-orang tua di pedesaan masih banyak yang hapal dan mengamalkan lirik tembang terkemuka ini.

Kidung Rumeksa Ing Wengi (1)
—————————-

Ana kidung rumekso ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunaning wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirno


Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Kidung Penjaga di Keheningan Malam (1)
—————————-

Ada kidung penjaga di keheningan malam

Kukuh selamat terbebas dari  penyakit

Terbebas dari segala malapetaka

Jin dan setan jahat pun tidak berkenan

Segala jenis sihir pun tidak ada yang berani

Apalagi perbuatan jahat

Ilmu orang yang bersalah

Api dan juga air

Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku

Guna-guna sakti pun sirna

***

Sementara itu, saya pilihkan bait berikutnya yang dipercaya dapat mempercepat perjodohan. Bagi orang Jawa, mengamalkan lirik ini, terutama bagi perempuan tua yang kesulitan  mendapatkan suami diyakini dapat menemukan jodohnya. Disamping itu, bait ini juga dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Betul atau salah, dan betul-betul berkasiat atau tidak,  saya serahkan pada kemantapan masing-masing pribadi.

Kidung Rumeksa Ing Wengi (2)
—————————-

Wiji sawiji mulane dadi

Apan pencar saisining jagad

Kasembadan dening zate

Kang maca kang angrungu

Kang anurat kang anyimpeni

Dadi ayuning badan

Kinarya sesembur

Yen winacakna ing toya

Kinarya dus rara gelis laki

Wong edan nuli waras


Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Kidung Penjaga di Keheningan Malam (2)
—————————-

Kejadian berasal dari biji yang sama

kemudian berpencar ke seluruh dunia

Terimbas oleh zat-Nya

Yang membaca dan mendengarkan

Yang menyalin dan menyimpannya

Menjadi keselamatan badan

Sebagai sarana pengusir

Apabila diterapkan dalam air

Dipakai mandi perawan agar cepat bersuami

Orang gila pun segera sembuh

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Kidung Penjaga di Keheningan Malam

  1. ki samudro berkata:

    wah asyiknya bisa nembang, mbok sekaliyan videonya supaya bisa dengar nadanya

  2. ekosugiarto berkata:

    keterangannya belum lengkap .ini berkaitan dengan jimat kalimusodo ,yang menceritakan puntadewa mencari kesempurnaan hidup dan menitipkan ke kanjeng sunan kali menjaga alam goib yang kelak pada suatu saat negri dari keturunan trah pandawa mengalami kemakmuran setelah goro2 ,atau peristiwa besar .

  3. suyanto berkata:

    sepertinya baitnya lebih panjang lagi pak, tetapi saya nggak hafal.

  4. jarod waryono berkata:

    mohon fersi lengkapnya donk…

  5. mohon di posting mp3nya gan saya harap dengan sangat

  6. ayu klaten berkata:

    saya sangat senang. dan trimaksih telah nguri-uri kabudayan. tentang nadanya biasanya di sekitar jogja solo itu masih ada sesepuh yang tahu. mohon siapa saja untuk berpartisiapasi.

  7. hari roestiono berkata:

    Salam hormat sya ,penjenengan tlah ikut menyimpan dan melestarikan pusaka budaya Jawa.

    • Dwiki berkata:

      Terima kasih Mas Hari. Saya mau melengkapi posting sebagaimana saran beberapa komentator hingga kini belum kesampaian. Rupanya posting ini disukai para pembaca. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s