Secarik Kisah Konyol Menjadi M Alfan Alfian


M Alfan Alfian (sumber: Akun Facebook Alfan)

M Alfan Alfian (sumber: Akun Facebook Alfan)

INI kisah nyata, unik dan lucu  sekaligus konyol diri saya sendiri pada sekitar kurun waktu lebih dari empat  tahun yang silam.  Apabila membaca tulisan ini hingga tuntas, dijamin pembaca belum pernah menemukan tandingan dan padanan kisah serupa dari yang pernah saya alami. Kita mulai saja jalannya satu tonggak perjalanan kehidupan nan unik ini…

Siang yang terik dan menyengat di luar, namun kala saya memasuki ruang administrasi dan keuangan harian Media Indonesia (MI) di bilangan Kedoya Jakarta Barat untuk mengambil honor tulisan, langsung “mak nyes“. Terasa segar dan nyaman, meskipun bulir-bulir keringat sebesar biji padi masih menempel  membasahi punggung, leher dan pelipis. Maklum, datang ke sana mengendarai angkutan umum, mikrolet merah B-14 jurusan Citraland-Puri Indah yang lewat dekat kantor MI Kedoya. Sudah penuh sesak oleh penumpang, mikrolet itu, sebentar-sebentar berhenti lagi. Dan mengalami kejadian semacam itu, bukan hanya satu-dua, namun berkali-kali.

Mbak Hesti, staf administrasi dan keuangan MI, dengan senyum khasnya segera menyambut dan mengulurkan tangan. Berjabatan tangan. Mempersilakan saya duduk, dan dengan renyah menyapa, “Halo Mas Alfan. Bagaimana kabarnya?” “Baik-baik Mbak Hesti,” jawab saya. Seolah sudah tahu arti kedatangan saya, ia bertanya, “Artikel hari apa ya Mas Alfan?” Saya sebutkan judul artikel, hari dan tanggal pemuatan artikel di MI, dan ia dengan sigap mengambil kwitansi honor. Kemudian menyerahkan kwitansi itu pada saya sembari tidak lupa meminta fotocopy KTP, seraya mempersilakan agar saya ke bagian kasir yang tidak jauh dari situ guna mencairkan honor. Di loket kasir, tidak usah basa-basi, petugasnya sudah menyunggingkan senyum begitu kepala saya nongol, dan ia sudah mahfum maksud kehadiran saya. Di sini, saya juga menyerahkan fotocopy KTP.  Menandatangani kwitansi, dan bukti PPH, secepat kilat uang honor artikel yang telah dihitung dan disiapkan beralih ke dompet saya. Kadang perempuan petugas kasir itu hanya berseloroh, “Lha bukankah beberapa hari yang lalu baru saja mengambil honor mas?” Saya hanya “cengar-cengir” mendengar seloroh itu.

***

Begitulah. Boleh percaya atau tidak? Di kalangan staf bagian administrasi dan keuangan MI, sudah terpatri di hati bila disebutkan sosok M Alfan Alfian maka orangnya ya saya ini. Saya juga tidak habis pikir, bertahun-tahun “menjadi M Alfan Alfian” di kantor MI, mereka tidak bisa membedakan antara M Alfan Alfian asli yang sosoknya tinggi besar dengan M Alfan Alfian palsu yang agak tinggi kurus ceking ini. He..he..he…. Mungkin pula mereka berpikir, bahwa nama M Alfan Alfian bukan hanya satu. Jadi kalau saya ke sana, ini Alfan yang satunya lagi.

Bila tengah menunggu giliran menghadap Mbak Hesti, di kantin MI, kadang saya kepergok rekan sesama almamater dari UNS Solo, Saudara Budiono (kini Korlip Metro-TV) atau Saudara Mas’ad (Narator Metro-TV). Awal-awal ketemu, mereka menanyakan ada keperluan apa saya ke MI. Dan jawab saya, mengambil honor tulisan. Selanjutnya bila ketemu mereka, seakan  sudah sama-sama mahfum. Untungnya mereka tidak tanya lebih lanjut, judul artikel dan kapan pemuatannya. Dikiranya pasti tulisan saya sendiri, karena mereka tahu sejak di Solo saya memang telah aktif menulis, padahal itu tulisan Saudara M Alfan Alfian!

Apabila ditotal, honor-honor artikel M Alfan Alfian di MI tersebut sudah jutaan rupiah yang saya ambil. Tahun-tahun terakhir sebelum saya mengakhiri “menjadi M Alfan Alfian”, honor tulisan dia saya konversi dalam bentuk pembayaran premi asuransi pendidikan anaknya.

Rentang waktu mengambil dan “memiliki” honor artikel itu cukup lama. Semenjak aktif di Bakornas Lembaga Pers PB HMI tahun 1997 hingga 2005.  Mulai dari Mbak Hesti, staf administrasi dan keuangan MI di atas belum memiliki putra/i  hingga foto anaknya yang lucu dipajang di meja kerjanya. Tatkala ia cuti melahirkan anak pertamanya, staf lain mengambil alih tugasnya, dan soal pengambilan kwitansi honor tulisan masih lancar-lancar saja. Seperti Mbak Hesti, ungkapan yang terlontar saat saya datang nyaris segendang sepenarian, “Halo Mas Alfan. Bagaimana kabarnya?”

Yang mungkin aneh bagi pembaca, kesemua honor itu merupakah “hibah murni” tanpa komitmen apa-apa buat pribadi saya sendiri. Ini semata-mata suatu jalinan pertemanan yang agak unik dan cukup langka. Saya sendiri juga lupa tanggal, bulan dan tahunnya M Alfan Alfian “berkomitmen” honor tulisannya di MI direlakan buat diri saya. Yang saya ingat, saat di Bakornas Lembaga Pers PB HMI, ia hanya “menyuruh”  saya mengambil dan memiliki honor, kala artikelnya dimuat di MI. Mungkin saja ia merasa sudah cukup dapat honor dari “big newspaper”  semacam Kompas.

Ajaib pula, istri M Alfan Alfian, Saudari Alfiasih, mengetahui bahwa honor-honor tulisan suaminya di MI “dihibahkan” untuk saya. Belum pernah saya dengar istrinya protes soal “hibah honor” itu. Tentang istrinya ini, ia tak lain dan tak bukan seorang karib saya saat di HMI Cabang Solo. Dan keduanya bisa berjodoh karena saya ikut andil mencomblanginya (untuk lika-liku mereka merajut tali pernikahan Klik Sini).

Mula-mula, setiap artikel yang dimuat di MI mendapatkan imbalan Rp 250 ribu. Agak lama bertahan dengan honor Rp 250 ribu, selanjutnya meningkat Rp 350 ribu, dan beberapa saat telah mencapai Rp 500 ribu. Terakhir saya mengambil di tahun 2005 telah mencapai Rp 700 ribu. Apabila M Alfan Alfian diminta khusus redaksi untuk menulis artikel khusus dalam rangka momen tertentu, imbalan honornya juga lain dari biasanya. Mencapai Rp 1 juta.

Saya sendiri jarang bertemu muka dengan Alfan, dia hanya memberi tahu via sms apabila ada tulisannya yang dimuat di MI. Suatu saat, tatkala satu buah artikelnya sudah naik mencapai Rp 500 ribu, ia menanyakan agak malas-malasan berapa kini imbalan honornya di MI? Saya menjawab malas-malasan pula namun sedikit meyakinkan bahwa masih tetap Rp 250 ribu. He..he..he….

***

Lantaran beberapa tahun mengambil “gaji buta” hasil artikel opini Alfan menulis di MI, saya berpikiran alangkah lebih baik bila ia juga merasakan jerih payahnya itu. Karena punya “side job” sebagai Mitra Bisnis Agen (MBA) sebuah perusahaan asuransi jiwa terkemuka, akhirnya saya tawarkan agar anak-anaknya disertakan dalam program asuransi beasiswa berencana. Pembayaran preminya diambil dari honor tulisan dia di MI yang selama ini saya ambil. Setelah saya yakinkan bahwa dari honornya itu ada kelebihan buat saya, asalkan frekwensi menulisnya di MI ditambah, akhirnya ia dan istrinya setuju.

Mula-mula anak pertamanya yang saya sertakan ikut asuransi pendidikan itu, dengan term pembayaran tiga bulan sekali. Lalu dilanjutkan anak keduanya. Sama-sama saling menguntungkan. Dan tetap berlanjut hingga saat ini. Ia beserta keluarganya juga sudah merasakan manfaat ikut serta asuransi tersebut. Apabila akan jatuh tempo pembayaran preminya, saya hanya sms ke Alfan: ada premi asuransi yang belum dibayar, dan biasanya selang beberapa hari akan nongol artikel opininya di MI. Selanjutnya, seperti kisah yang telah saya paparkan, bergegas saya ke kantor MI mengambil honor tulisan itu.

Saya katakan di atas, untuk mengambil honor tulisan musti menyerahkan fotocopy KTP atas nama penulisnya. KTP-nya benar punya Alfan. Namun foto diri Alfan di halaman muka KTP, saya ganti dan tempel foto saya sendiri tanpa ada stempel instansi berwenang yang melegalkannya. Saat suatu kali saya menonton film yang dibintangi Leonardo De Caprio dengan trik-triknya mengganti foto semacam itu, saya tidak bisa menahan tawa karena mengalami sendiri apa yang De Caprio lakukan.

Berperan sebagai “M Alfan Alfian” berakhir ketika manajemen administrasi dan keuangan MI pada akhir 2005 memutuskan akan mentransfer honor-honor artikel para penulis melalui jasa perbankan. Kalau saya agak ngotot, cara-cara manual mengambil sendiri ke kantor redaksi MI sebenarnya masih bisa dilakukan. Namun saya berpikir, kini saatnya saya mengakhirinya. Di satu sisi, agar “belang” saya tidak ketahuan, dan di sisi yang lain sudah saatnya mengeyam hasil jerih payahnya sendiri. Toh dia  masih terikat dengan pembayaran-pembayaran premi asuransi pendidikan anak-anaknya. Setiap kali mentranfer dana pembayaran premi anaknya, ia juga tak lupa melebihkan lebih dari cukup untuk uang saku anak-anak saya.

Harapan saya, semoga M Alfan Alfian beserta keluarganya sehat-sehat selalu. Dalam lindungan, rahmat, barokah dan inayah Allah SWT. Atas kebaikannya selama ini pada saya dan keluarga, semoga menjadi amal jariyah yang akan berlipat-lipat balasan dari-Nya. Amiin.

Sebagai pamungkas kisah dan bukti nyata apa-apa yang dikemukakan, saya tampilkan tiga gambar hasil scan ke hadapan pembaca: dua bukti kwitansi honor dan satu bukti penyetoran PPH. Diam-diam, penulis artikel media cetak itu pembayar pajak setia lho.

Kwitansi Honor Tulisan Media Indonesia M Alfan Alfian 1 Juni  2005

Kwitansi Honor Tulisan Media Indonesia M Alfan Alfian 1 Juni 2005

Kwitansi Honor Tulisan Media Indonesia M Alfan Alfian 1 Agustus 2005

Kwitansi Honor Tulisan Media Indonesia M Alfan Alfian 1 Agustus 2005

Bukti Pemotongan PPH Pasal 21 M Alfan Alfian

Bukti Pemotongan PPH Pasal 21 M Alfan Alfian

*****


Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Secarik Kisah Konyol Menjadi M Alfan Alfian

  1. Tedy berkata:

    Menarik, mas! Cerita pengalaman ini membuat saya tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari ini. Trims.
    Salam kenal

  2. fauzan berkata:

    wakakak, ceritanya seru mas. salama kenal yah

  3. ulid berkata:

    idem sm komentar yang sebelumnya..sy jd dpt ide utk perbaikan diri kedepan. terimakasih dan salam kenal

  4. carphoto berkata:

    waduh g bsa pertamak deh, juru kunci juga g pap deh

  5. Yudhi berkata:

    Artikelnya dah lama tapi menarik

  6. mbah bejo berkata:

    nice post bos

    salam kenal Y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s