Fenomena Mudik: Anak Jadi Tameng, Ibu Jadi Bumper


SELAMA perjalanan lebaran 1430 Hijriah ke Yogyakarta (17/9) tempo hari, saya mengamati dengan seksama perilaku pengendara motor di sepanjang jalur mudik. Mulai dari jalur sepanjang jalan Kalimalang, jalur Pantai Utara (pantura) Jawa, jalur Brebes-Bumiayu-Purwokerto, dan jalur jalan lintas selatan Jawa Tengah-DIY.

Sekurangnya saya menyaksikan 3 kali kecelakaan lalu lintas di sepanjang jalur yang dilalui itu. Kesemuanya melibatkan pengendara motor. Dan kesemuanya pula terjadi pada jalur satu arah. Yang paling parah, sebuah kecelakaan di daerah Jatibarang di jalur menjelang masuk Tol Kanci-Pejagan. Sebuah sepeda motor ringsek tak berbentuk lagi. Pengendaranya seperti apa, saya tidak tahu. Lantas, mengapa bisa terjadi?

Dari pengamatan dan wawancara sekilas terhadap pengendara yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas atau saksi di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) itu, boleh percaya atau tidak ternyata ketiga pengendara motor tersebut tidak menyalakan lampu di pagi, siang atau sore hari dan tidak menggunakan kaca spion standar!

Menyalakan lampu sepanjang waktu buat pengendara motor, diakui atau tidak meminimalisir terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan di jalan raya. Baik bagi kendaraan lain yang berjalan searah atau berlawanan arah. Sorot lampu sepeda motor, bagi pengendara lainnya sepersekian detik terpantul di mata baik bagi pengendara dari arah berlawanan maupun spion-spion pengendara lainnya. Untuk memberi tanda bahwa ada sepeda motor yang melintas di samping, di belakang atau akan menyalibnya. Sayangnya kesadaran menyalakan lampu sepanjang waktu bagi pengendara motor ini acap diabaikan.

Sementara spion standar sisi kiri dan kanan sepeda motor, sangat berguna untuk melihat keadaan “secara penuh” di belakang pengendara. Namanya saja kaca  “spion”. Jadi hakekatnya ia adalah “mata ketiga” pengendara. Sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan setelah keadaan sekeliling telah dikuasai. Namun karena dianggap kurang praktis dan tidak bisa “slap-slup” di sela-sela kendaraan lain atau celah sempit yang akan dilalui, banyak pengendara motor menggunakan spion seadanya. Akibatnya, ketika mobil di depan pengendara motor berhenti tiba-tiba dan si pengandara motor secara reflek  banting kemudi kanan atau kiri untuk menyalib, ia tidak tahu keadaan “penuh” di belakangnya. Kecelakaan pun tidak bisa dihindari.

Hal-hal yang menyangkut menyalakan lampu dan kaca spion standar tersebut menjadi alasan terbanyak sepeda motor mengalami kecelakaan di jalur satu arah.

Fenomena lainnya bagi pengendara motor selama arus mudik tempo hari yang saya tangkap, yakni masih adanya pengendara motor yang kurang peduli pada keselamatan pembonceng. Dalam hal ini, masih terlihat anak-anak kecil yang malahan dijadikan “tameng” bagi ayahnya di jalan raya. Atau istri pengendara motor yang bertindak sebagai bumper. Keduanya tidak dilengkapi alat pengaman berupa penggunaan helm.

Mari kita saksikan 2 (dua) buah foto yang saya ambil pada Jum’at siang (18/9) di Jalan Raya Pamanukan Pantai Utara Jawa. Kontras sekaligus kontradiktif di antara keduanya. Foto pertama, si anak tanpa mengenakan helm ditempatkan dibagian depan sepeda motor sebagai “tameng” ayahnya. Seakan-akan si ayah lebih mencintai istrinya ketimbang anaknya. Sedangkan foto kedua, ibu yang dijadikan “bumper”. Tanpa mengenakan helm. Seolah, si ayah sangat mencintai anaknya ketimbang istrinya. Wallahualam Bi Shawab.

Ke depan, semoga para pengendara motor memperhatikan pula keselamatan pemboncengnya.

Mudik Lebaran Anak Menjadi Tameng (dwiki dok)

Mudik Lebaran Anak Menjadi Tameng (dwiki dok)

.

Mudik Lebaran Ibu Menjadi Bumper (dwiki dok)

Mudik Lebaran Ibu Menjadi Bumper (dwiki dok)

*****


Dwiki Setiyawan, anggota komunitas Blogger Kompasiana.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Fenomena Mudik: Anak Jadi Tameng, Ibu Jadi Bumper

  1. Lintang berkata:

    Ha ha ha…. mas Dwiki jeli banget ya….

    Saya sampai sekarang koq sering kehilangan momen ketika ingin mengabadikan peristiwa. Ketika mengeluarkan kamera pasti momen yang saya ingin tangkap sudah “gosong”.

    Mungkin sense of citizen journalism-nya kurang :p

  2. Ping balik: Dua Orang Kompasianers Memenangkan Lomba Posting Blog DSFL Indonesia « Dwiki Setiyawan's Blog

  3. PDF Manual berkata:

    yang kayak gini nih, cuma Indonesia yang bisa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s