Puncak Kemasgulan Pengendara di Perlintasan Kereta Api


Pembaca budiman. Ini hanya sekedar tulisan ringan dan singkat, dimaksudkan sebagai selingan belaka di antara berpuluh tulisan di Kompasiana setiap hari yang membuat kita kadang mengernyitkan dahi. Bagi saya pribadi, tulisan ini sebagai penglipur lara setelah 24 jam berjibaku mudik lebaran ke Yogyakarta.

Pembaca pasti pernah mengalami peristiwa yang satu ini: terhalang perjalanan berkendaranya tatkala pintu perlintasan kereta api ditutup. Kita harus mau tidak mau dan suka tidak suka menerima momen menyebalkan itu. Itu konsekwensi yang harus kita pikul secara sadar apabila masih sayang dan cinta dengan nyawa satu-satunya yang dimiliki.

Disebabkan takut pada kendaraan berzirah besi kesemuanya itu, dan kematian malang nian apabila terseruduk olehnya maka banyak orang waspada tinggi setiap akan melintasi rel kereta api (berpintu maupun tidak). Beberapa tahun silam, saya pernah terjebak didalam bus Kopaja S-66 Jurusan Blok M-Manggarai yang sekonyong-konyong mogok tepat d atas bantalan rel dekat Jalan Sultan Agung Jakarta Selatan hanya terpaut puluhan detik saja sebelum kereta api melintas.

Bus tersebut penuh sesak dengan penumpang. Sebagian besar perempuan muda kantoran. Beberapa diantaranya perempuan lanjut usia. Coba bayangkan seandainya pembaca sendiri juga pada situasi mencekam itu? Hampir semua penumpang dalam bus menjerit-jerit histeris dan menggoblok-goblokkan pengemudi yang agak ugalan-ugalan itu. Dicaci maki disertai jeritan-jeritan histeris, sang pengemudi tambah gugup dan salah tingkat. Distarter berkali-kali tetap saja busnya diam mematung. Sementara, alarm perlintasan tak henti-hentinya berkumandang. Menambah mencekam suasana.

Saya yang kebetulan berdiri bergelantungan samping pintu depan dengan santainya turun. Namun di dalam bus, situasi bertambah kacau karena semuanya ingin yang pertama keluar dari bus sialan itu. Beberapa diantaranya terjatuh, bahkan ada yang terinjak. Untungnya, pada situasi yang cukup menentukan busnya bisa jalan dan selamatlah semua dari maut yan mengintai.

Nah, soal menunggu kereta api yang akan lewat di perlintasan, tahukah pembaca apa yang menjadikan puncak dari kemasgulan pengendara? Lamanya menanti kereta api yang akan lewat adalah salah satu kemasgulan. Ternyata, yang membuat para pengendara di puncak kemasgulan tatkala menanti di perlintasan kereta api, yang satu ini: kereta yang lewat hanya lokomotifnya saja!

Mungkin di langit pikiran pengendara harus ada korelasi antara menunggu lama kereta api yang akan lewat dengan panjangnya rangkaian kereta tersebut. Biarpun demikian itu tetap si banteng besi. Walau cuma lokomotif saja yang lewat, pabila menyeruduk tak kalah sadisnya dengan yang berangkaikan gerbong-gerbong di belakangnya bukan?

*****

Dwiki Setiyawan, Blogger Kompasiana yang sedang mudik di Yogyakarta dan tengah menikmati kedamaian berkumpul bersama keluarga.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s