Menyelami Puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri


Karikatur-Sutardji-Calzoum-Bachri (http://caricartoon.blogspot.com)

Karikatur-Sutardji-Calzoum-Bachri (http://caricartoon.blogspot.com)

Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu penyair sufi Indonesia terkemuka. Ia juga kita kenal sebagai cerpenis, eseis dan budayawan. Lahir di Rengat Riau 24 Juni 1941, ia terkenal sejak awal 1970-an tatkala mengumumkan Kredo Puisi-nya (1973) “kata harus dibebaskan dari beban pengertian”  yang mendasari sebagian besar dari puisi-puisi  ciptaannya. Kredo puisi Sutardji pada masa itu  serta-merta menimbulkan kontroversi dalam kesusastraan Indonesia.

Kumpulan puisi Sutardji diantaranya O (1973), Amuk (1979), dan O Amuk Kapak (1981). Pada puisi-puisinya O dan Amuk, tertangkap kesan adanya semangat awal Sutardji dalam pencarian Sang Maha Penyair. Kecenderungan sufistiknya sangat nampak pada kumpulan puisi ketiganya O Amuk Kapak.

Tanpa kita perlu berpanjang-panjang, marilah kita menyelami pengakuan masa-masa kelam Sutardji Calzoum Bachri dan pertobatannya dalam puisi Idul Fitri. Puisi ini diciptakan pada 1987. Selengkapnya:


Idul Fitri

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

***

Repro Segala yang di Langit Segala yang di Bumi Karya A.D Pirous

Repro Segala yang di Langit Segala yang di Bumi Karya A.D Pirous

Menyimak dan menyelami puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri di atas, kita tentunya sepakat bahwa proses “penyucian jiwa” setiap individu berbeda-beda kadarnya. Sebagaimana dialami Sutardji. Namun, sangat dimungkinkan setiap individu mengalami kelahiran kembali dirinya sebagai manusia (dengan fitrah  awalnya). Jalan ke arah itu, bagaikan tengah memasuki sebuah rumah dengan sederet pintu-pintu rahasia didalamnya. Guna mendapatkan ridha-Nya, tugas kita yakni menemukan kunci pembuka pintu rahasia tersebut.

Penyair, kata Sutardji, bukan penyaksi kejadian yang lalu-lalang di hadapan mata inderanya. Dia adalah penyaksi kebenaran hakiki, yang merupakan pusat dari kehidupan. Puisi adalah ungkapan dari sebuah perjalanan spiritual menuju ke lubuk rahasia-rahasia. Jika sudah sampai kepada yang rahasia, ia akan mengalami pencerahan dan karenanya akan mengalami kebangunan diri kembali.

*****

Sumber Foto Karikatur: klik sini

Sumber Repro Lukisan: Ketika Kata Ketika Warna, Jakarta: Yayasan Ananda 1995.

About these ads

6 gagasan untuk “Menyelami Puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s