Ngabuburit di Jembatan Layang Pasar Rebo Jakarta Timur


Senja di Persimpangan Pasar Rebo Jaktim (dwiki dok)

Senja di Persimpangan Pasar Rebo Jaktim (dwiki dok)

COBALAH sesekali pada malam Minggu bertandang ke jembatan layang (fly over) ini. Jembatan layang yang membentang dan melintas di persimpangan Pasar Rebo Jakarta Timur tersebut sudah cukup lama dijuluki “Jembatan Cinta”. Julukan itu terpatri di hati lantaran ia merupakan tempat favorit muda-mudi setempat  dan sekitar merajut janji setia sehidup semati.

Dipandang dari sudut manapun, bagi muda-mudi,  banyak keuntungan bermesra-mesra di jembatan layang ini di kala malam : murah dan ekonomis, suasana mendukung –temaram dan syahdu– serta pemandangan sekitar lokasi yang cukup indah.

Senja hari jelang pergantian siang ke malam, dari jembatan layang ini orang bisa melihat indahnya matahari beranjak tidur ke peraduan (little sunset). Sekalipun tidak seindah dan sedramatis seperti bila melihat matahari tenggelam utuh (full sunset) dari bibir pantai.

Melepas penat sejenak dari jembatan layang ini, kita bisa melihat hiruk-pikuk kendaraan-kendaraan yang melintas. Berpacu. Kadang cepat, kadang sedang-sedang dan kadang lambat. Memandang persis ke bawah jembatan layang ini, kita bisa lihat deretan penjaja buah,  kerumunan orang menunggu kendaraan umum, perempuan-perempuan sexi yang tergesa-gesa menyeberang, hingga bus dan mikrolet yang saling sodok-menyodok berebut penumpang.

Sedangkan bila memandang ke arah timur jembatan layang ini,  terlihat bus-bus dari Terminal Kampung Rambutan tujuan Bandung, Tasikmalaya, Cikampek dan sebagainya memutar di dekat jalan layang. Sedangkan dari arah barat (Ciputat, Lebakbulus, Pondok Indah), utara (dari arah Kramatjati) dan selatan (dari arah Bogor, Depok) berbagai bus dan mikrolet saling memacu menuju Terminal Kampung Rambutan sebagai tujuan akhirnya.

Dari atas jembatan layang ini pula, sejauh mata memandang ke arah timur, nampak menara Masjid At-Tien  di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Senja temaram jelang pergantian ke malam, siluet menara masjid At-Tien itu bagaikan memanggil-manggil jemaat untuk mampir sejenak bersujud dan bersimpuh ke hadirat-Nya.

Sementara itu, bagi muda-mudi yang tengah di mabuk kepayang, berasyik-masyuk berdua di jembatan layang Pasar Rebo ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jembatan layang ini cukup jarang dilalui kendaraan ketimbang jalur dibawahnya yang penuh sesak dan berdesak-desakan. Bagi muda-mudi yang tengah berpacaran, maka deru kendaraan lalu lalang di jembatan layang bagaikan roda-roda cinta yang tengah ia gelindingkan. Dan sepoi-sepoi angin semilir malam ibaratnya melodi yang mengiringi nada-nada kasih yang tengah mereka senandungkan.

***

Jelang Buka Puasa di Jembatan Layang Pasar Rebo Jaktim (dwiki dok)

Jelang Buka Puasa di Jembatan Layang Pasar Rebo Jaktim (dwiki dok)

Pada bulan Ramadhan 1430 H ini, suasana senja malam Minggu di jembatan layang itu masih tetap seperti hari biasa lainnya. Yang membedakan hanya jumlah muda-mudi agak berkurang ketimbang di luar bulan Ramadhan. Sedang yang tidak berkurang, atau malahan bertambah yaitu jumlah pedagang yang mangkal di jembatan layang tersebut.

Setiap sore menjelang buka bersama, berderet pedagang di sisi kiri dan kanan jembatan layang, seperti: penjual buah-buahan siap saji dan makan, penjual es cendol Banjarnegara, penjulal es kelapa muda, penjual siomay, penjual teh botol (ada yang bilang ini singkatan dari teknologi buat orang-orang tolol. He..he..he), pedagang rokok dan sebagainya.

Sejauh pantauan saya selama ini, sekalipun berdagang di jembatan layang itu nyata-nyata suatu larangan, keberadaan para padagang  tersebut selama ini belum menimbulkan akibat-akibat negatif, misalnya, mengotori lingkungan dan menimbulkan kemacetan. Lagi pula sebagian besar  yang mampir dan nongkrong di jembatan layang Pasar Rebo ini adalah pengendara motor. Jadi masih relatif aman dan terkendali.

Merenung sekelebat dari jembatan layang Pasar Rebo Jakarta Timur ini, maka sampailah kita pada satu kesimpulan. Inilah potret mini kehidupan keras ibu kota. Aktivitas warga ibu kota di luar lingkungan kediamannya tergambar jelas di sini. Sodok-menyodok angkutan umum mencari penumpang, saling memotong jalan antar pengendara,  berpacu menjadi yang terdepan (dan sopir kendaraan umum memperlambat laju mobil guna mendapatkan penumpang) di lampu pemberhentian, kerumuman orang dan lalu lalang wajah kusut pejalan kaki yang menyeberang hingga para pencopet yang mengintai cari peluang dan kesempatan dan sebagainya.

Dari perenungan itulah, ngabuburit di jembatan layang Pasar Rebo Jakarta Timur tidak sekedar menunggu adzan Magrib berbuka puasa. Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari situ. Bahwa kehidupan ibu kota itu keras dan membutuhkan perjuangan keras pula untuk melampauinya.

*****

Dwiki Setiyawan, tinggal di Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur.


Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Religi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ngabuburit di Jembatan Layang Pasar Rebo Jakarta Timur

  1. Gostav Adam berkata:

    Wah enak tuh sambil menikmati angin sepoi sore hari sambil menikmati hidangan buka puasa. Manteb banget nih. Harga sebuah kebebasan yang sangat mahal…

    salam mampir ke blog kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s