Apakah Seseorang Terjangkit AIDS dan Perempuan Haid Bisa Memperoleh Lailatulkadar?


Kaligrafi Lailatulkadar (Ensiklopedi Al-Qur'an Jilid 2)

Kaligrafi Lailatulkadar (Ensiklopedi Al-Qur'an Jilid 2)

BANYAK keutamaan ibadah puasa di bulan Ramadhan bagi kaum muslim, salah satu diantaranya  pada bulan suci tersebut Yang Maha Mengatur semesta alam menjanjikan “piagam penghargaan” Lailatulkadar bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Allah SWT berfirman, “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S. al-Qadr [97]: 2-3)

Lailatulkadar, bermakna Malam Kemuliaan atau Malam Kepastian, yang ibadah pada malam itu sebagaimana dikemukakan ayat di atas memiliki nilai sama dengan ibadah seribu bulan bagi yang memperolehnya. Apabila dihitung secara matematis, seribu bulan sama dengan kurang lebih 83 tahun.  Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa siapa saja yang mendapatkan Lailatulkadar, akan mendapatkan sebuah pengalaman spiritual yang amat berharga dibandingkan dengan hidup 83 tahun.

Satu hal yang harus digarisbawahi di sini, mengutip pernyataan Quraish Shihab, bahwa kelebihan pada frase “lebih baik” daripada seribu bulan adalah nilai pahalanya, bukan kewajiban ibadahnya. Dengan demikian amat keliru mereka yang hanya ingin beribadah dan melaksanakan kewajiban agama pada malam Lailatulkadar atau malam-malam Ramadhan, dan tidak lagi melaksanakan kewajiban pada hari-hari lainnya, dengan dalih bahwa pelaksanaannya ketika itu sudah seimbang dengan pelaksanaan tuntutan agama seribu bulan lainnya.

Terhadap pertanyaan pada judul tulisan ini yang terkesan provokatif, jawabannya adalah bisa saja. Mengapa tidak? Karena pada awal tulisan ini saja saya katakan “piagam penghargaan” Lailatulkadar dianugerahkan Tuhan kepada kaum muslim yang taqwa. Termasuk seseorang yang terjangkit AIDS dan perempuan yang tengah haid di saat menjalankan ibadah puasa. Hanya saja yang menjadi persoalan, tidak sembarang orang mampu memiliki derajat ketaqwaan tinggi.

Pada kasus seseorang yang terjangkit penyakit AIDS –dalam hal ini lantaran penularan acap bergonta-ganti pasangan (bahkan dengan pelacur)– dan dia menyatakan bertobat. Bertobat dalam pengertiannya yang sungguh-sungguh haruslah diiringi oleh kesadaran diri. Yakni bertobat yang dibarengi kejujuran dan ketulusan sehingga setelah bertobat ia tidak akan kembali kepada perbuatan dosa lagi. Artinya ia  senantiasa menjaga perilaku gaya hidup sehat. Diiringi dengan langkah mendekatkan diri pada-Nya. Maka tidaklah mustahil dia akan mendapatkan Lailatulkadar di bulan Ramadhan.

Sedangkan pada kasus perempuan yang tengah haid, maka dia pun tidak tertutup untuk memperoleh dan merasakan malam Lailatulkadar. Perempuan yang haid memang dilarang menjalankan ibadah puasa. Larangan tersebut merupakan ketentuan syariat, akan tetapi bukan larangan untuk mendapatkan anugerah Lailatulkadar dari-Nya.

Anugerah dan rahmat Allah itu tidak terbatas. Pun Dia tidak kikir dan jual mahal. Siapapun orang muslim, apabila dikehendaki Sang Maha Pemurah maka ia akan mendapat kelimpahan anugerah dan rahmat-Nya. Dalam konteks ini memperoleh Lailatulkadar.

Telah saya kemukakan bahwa Lailatulkadar dilimpahkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Yakni mereka yang menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam konsep taqwa ini, mereka yang akan mendapatkan Lailatulkadar adalah orang yang tekun mengerjakan shalat sunnah, shalat malam, tadarus, membaca dan mempelajari Al-Quran sepanjang malam-malam bulan Ramadhan dan amalan ibadah lainnya, namun juga tidak melupakan aspek-aspek turunan ibadah puasa seperti bersedekah, membantu atau melayani yang butuh (social working), dan menghidari penyakit-penyakit hati (iri-dengki, provokasi, gosip, sombong dan sebagainya).

Menurut Nurcholish Madjid, Lailatukkadar sebagai Malam Kepastian yang memiliki nilai seribu bulan sebenarnya akan lebih tepat jika dipahami lewat kaitannya dengan kesiapan spiritual seseorang untuk melakukan apa saja atau siap berkorban.

Dengan demikian, bila pasca Ramadhan seseorang masih mementingkan dirinya sendiri dan belum siap berkorban untuk sesuatu yang lebih besar di luar dirinya, maka kemungkinan ia di bulan suci yang pernah dienyamnya belum memperoleh “piagam penghargaan” Allah SWT berupa malam Lailatulkadar.

Segalanya berpulang kembali pada kita semua….

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Religi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apakah Seseorang Terjangkit AIDS dan Perempuan Haid Bisa Memperoleh Lailatulkadar?

  1. Ping balik: Apakah Seseorang Terjangkit AIDS dan Perempuan Haid Bisa Memperoleh Lailatulkadar? | Update Blog Terbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s