Deklamasi Lupa


Deklamasi Lupa Kenangan Tak Terlupakan. Ini cerita agak konyol diri saya sendiri yang terjadi lebih dari seperempat abad silam. Di awal tahun 1980-an. Tepatnya tatkala saya duduk di kelas I SMP Negeri I Godean Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam rangka perpisahan dengan kakak-kakak kelas III, pihak SMP Negeri 1 Godean menyelenggarakan acara pentas seni. Tempatnya di aula sekolah. Dikatakan aula dalam arti sebenarnya tidak juga, karena itu tiga ruangan kelas yang sekat-sekatnya dibongkar hingga jadilah sebuah aula.

Di kelas 1-A, ada dua orang murid yang menyukai sastra dalam hal ini puisi. Yang pertama Titik Ruwandhani (panggilannya Danik), dan yang kedua saya sendiri. Si Danik yang anak guru di SMP Negeri 1 Godean tersebut merupakan bintang kelas. Cantik, imut dan selalu juara kelas semenjak di sekolah dasar. Soal prestasi saya sendiri juga hampir menyamai Danik, juga juara 1 kelas saat SD di pelosok desa di Kabupaten Klaten Jawa Tengah semenjak kelas III, namun saat lulus SD Negeri 1 Ngolodono Karangdowo melorot di peringkat II.

Oya nyimpang dulu sedikit. Lantaran punya mental juara🙂 , tatkala mendaftar dua sekolah SLTP negeri di kota pelajar Yogyakarta masing-masing SMPN 1 Godean dan SMPN 2 Godean, dua-duanya diterima. Kala itu, untuk masuk sekolah negeri termasuk favorit di Kabupaten Sleman tersebut, saringan masuknya melalui tes tertulis.

Untuk tes tertulis masuk di SMPN 1 Godean tidak ada peristiwa berarti. Lancar dan biasa-biasa saja. Namun, saat tes tertulis di SMPN 2 Godean, para pengawas ujian kaget bukan main dan terlongo-longo karena kurang lebih setengah jam mengerjakan soal tes ujian masuk langsung saya tinggal pulang. Eh, “ndilalah” kok ya diterima.

Saat baca pengumuman masuk di SMP 2 Godean, rupanya ada seorang guru yang tempo hari sebelumnya jadi pengawas tes masuk masih ingat saya. Saya pun ingat dia. Entah apa yang dibicarakan, ia berbisik kepada seorang teman guru lainnya sembari menunjuk-nunjuk diri saya. Wah jadi “gegeden rumongso” alias geer.

Saya urungkan memilih di SMPN 2 Godean, dan pilihan dijatuhkan pada SMPN 1 Godean karena sekolah tersebut saat itu mensyaratkan saya yang lulusan SD di Klaten harus pakai “rekomendasi depdikbud” kabupaten segala untuk sekolah di SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara di SMPN 1 Godean tidak ada persyaratan semacam itu.

***

Kembali ke fokus bahasan, acara pentas seni sekolah. Acara puncak pentas seni dalam rangka perpisahan kakak-kakak kelas III pun dimulai. Panggung acara tersusun dari meja-meja belajar siswa yang ditata sedemikian rupa, cukup tinggi yang sudah dihias warna-warni telah disiapkan.

Wakil kelas 1-A yang tampil mengisi acara deklamasi dua orang. Yang pertama naik ke atas panggung Danik. Ia dengan memukau membacakan sebuah puisi. Gadis mungil ini memang jagonya membaca sajak. Tangan kiri memegang lirik puisi. Sementara dengan vocal yang terukur, tangan kanan mengacung-acung dan terayun-ayun mengikuti alunan vokalnya. Di sampaing itu ekpspresi wajahnya pas dan selaras dengan puisi yang dibacakannya.

Setelah diselingi testimoni kakak-kakak kelas II, giliran saya naik pentas berdeklamasi. Saya akan mendeklamasikan puisi karya Sastrawan Angkatan 45 Chairil Anwar berjudul “Doa”. Dengan percaya diri saya langsung menuju mikropon di depan panggung. Saya menyapu audien di bawah panggung. Barisan paling depan kepala sekolah dan guru-guru. Sementara taman-teman kelas I bercampur baur dengan kakak-kakak kelas II dan III.

Lantaran ini namanya deklamasi, dengan sendirinya tanpa teks dan mengandalkan ingatan. Langsung saya deklamasikan sajak terkenal Chairil Anwar tersebut, “Doa… —kepada pemeluk teguh— karya Chairil Anwar Tuhanku (dua tangan saya tengadah)… Dalam termangu.”

Karena mendapat tepukan meriah dan melihat sepintas audien, sekonyong-konyong bait sajak berikutnya itu saya lupa. Berdiam saya di atas panggung mencoba mengingat-ingat kembali sajak yang sebelumnya sudah dihapal itu. Tetap lupa. Keringat dingin pun tanpa terasa membasahi tubuh. Seharusnya setelah kalimat “Dalam termangu” dilanjutkan kalimat “Aku masih menyebut nama-Mu” dan seterusnya.

Akhirnya, tanpa ba…bi… bu… saya langsung ngeloyor pergi meninggalkan panggung diiringi tawa berderai-derai dan tepuk tangan bergemuruh audien di seluruh aula. Langkah saya menuruni tangga panggung gontai dan malunya itu minta ampun!

Itu pengalaman tak terlupakan sepanjang hayat. Namun ada hikmahnya juga, di satu sisi saya jadi dikenal di SMP tersebut. Mulai dari guru-guru hingga anak-anak lainnya. Dikenal luas se-sekolahan lantaran Deklamasi Lupa syairnya itu. Sedangkan di sisi lain, bukannya kapok, peristiwa memalukan tersebut menumbuhkan rasa percara diri yang lebih kuat dan tetap tampil di acara spontanitas berikut-berikutnya.

Maju terus pantang mundur….


*****

Sumber gambar 1: klik sini

Sumber gambar 2: Facebook SMP N 1 Godean.

Dwiki Setiyawan, seorang Alumni SMP Negeri 1 Godean Sleman Yogyakarta.


Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Deklamasi Lupa

  1. wijaya kusumah berkata:

    selamat puasa ramadhan mas dwiki. Semoga semakin bertakwa kepada Allah

  2. Slamet berkata:

    Hmm… barusan tadi sore lewati smp1 godean, mudik, kok nggak ingat ya sama yang namanya dwiki setiyawan🙂 Manusia memang tempat lupa dan salah … Mohon maaf lahir dan bathin … taqobbalallahu minna wa minkum … Selamat idul fitri 1430 …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s