Menatap Wajah Sejarah Kemerdekaan Indonesia dalam Puisi dan Lukisan (1)


Cover Ketika Kata Ketika Warna Puisi dan Lukisan
Cover Ketika Kata Ketika Warna Puisi dan Lukisan

Works of arts in this collection is a mirror through which we look at and contemplate on the history of Indonesian independence. In Words In Colours, a collection of poetry and painting reproductions by 50 Indonesian poets and 50 painters, is a subtle expression depicting various phases of the life of the Indonesian people from pre-Independence up to the present. (Karya seni dalam kumpulan ini merupakan cermin tempat kita menatap dan merenungkan wajah sejarah kemerdekaan Indonesia. Buku ini,  Ketika Kata Ketika Warna yang merupakan kumpulan puisi dan reproduksi lukisan karya 50 penyair dan 50 pelukis tanah air, adalah ungkapan halus dan dalam yang bicara serta menggambarkan berbagai fase kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia dari masa sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai kini).

Pembaca budiman. Apabila postingan spesial saya kali ini diawali dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, itu bukan berarti saya mahir berbahasa asing tersebut. Melainkan memang, ini merupakan posting tentang sebuah buku yang diterbitkan dalam dwi bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kalimat-kalimat pembuka posting di atas pun, saya kutip dari endorsement sampul buku bagian dalam.

Pada prakata penerbitnya, Yayasan Ananda, buku tersebut dimaksudkan agar dapat melintasi batas negara. Oleh karenanya pula, sengaja bagian pembuka postingan ini diawali dengan bahasa Inggris agar pembaca-pembaca non-Indonesia mengetahui pula bahwa ada sebuah buku kumpulan puisi dan lukisan yang dapat dijadikan referensi untuk menatap wajah sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Buku Ketika Kata Ketika Warna ini sendiri diterbitkan pada 1995 dalam rangka memperingati setengah abad kemerdekaan Republik Indonesia. Penanggungjawab penerbitan, yakni Ati Ismail (istri Taufiq Ismail). Sebagai editor puisi, masing-masing: Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri dan Hamid Jabbar. Sedangkan bertindak sebagai kurator lukisan adalah Agus Dermawan T dan Amri Yahya.

***

Buku yang saya ‘miliki’ ini termasuk buku cukup langka di pasaran (kata miliki saya beri tanda koma atas karena di bawah nanti akan ada penjelasan seperlunya). Sebuah buku edisi cukup mewah lantaran judul sampul dan sisi-sisi bagain luar kertas isi buku berwarna keemasan serta bahan dasar kertas isi buku yang lain daripada yang lain. Saya sudah cukup lama mencari-cari buku ini di toko-toko buku besar, namun hingga kini belum menemukannya. Nampaknya ia dicetak dengan sangat terbatas.

Coba perhatikan scan gambar yang ditampilkan di sebelah kanan goresan kalimat-kalimat ini. Di situ tertulis “Sdr Anas dan Tia Selamat menempuh Hidup Baru Semoga Bahagia dalam ridha Ilahi. Dari Kel Taufiq Ismail. Tertanggal 10 Oktober 1999. Dan ditandatangani oleh Taufiq Ismail dan Ati Ismail”.

Hadiah Perkawinan Anas Urbaningrum dan Athia Laila dari Kel Taufiq Ismail
Hadiah Perkawinan Anas Urbaningrum dan Athia Laila dari Kel Taufiq Ismail

Yang dimaksud Anas disini adalah Anas Urbaningrum, saat itu Ketua Umum PB HMI Periode 1997-1999 dan kini Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat. Sedangkan Tia, tak lain dan tak bukan panggilan istri Anas, Athia Laila. Sementara tanggal bulan dan tahun yang tercantum itu merupakan momen hari-H pernikahan Anas-Tia. Jatuh pada hari Minggu. Tanggal dan bulan tersebut dengan demikian merupakan hari ulang tahun perkawinan keduanya.

Jadi jelas sudah, buku ini bukan “milik” saya. Namun bagaimana ceritanya kok hingga buku “hadiah perkawinan” Anas Urbaningrum tersebut terbawa pulang ke rumah hingga sekarang ini saya juga masih bingung. Meminjam buku itu dari Anas rasanya tidak pernah saya lakukan. Yang paling mungkin, dan ingat-ingat lupa, saat saya aktif di PB HMI Periode 1997-1999 buku itu tergeletak di lantai 2 kantor PB HMI Jalan Diponegoro 16-A. Ketimbang dianggap sebuah buku biasa oleh teman-teman lain di kepengurusan periode itu, padahal isinya menurut saya luar biasa maka segera saya “amankan”.

***

Beberapa puisi yang tercantum dalam buku ini pernah saya publikasikan sebagian di blog personal. Bahkan dua buah puisi dalam buku ini, masing-masing berjudul “17 Agustus” karya Nursjamsu Nasution dan “Doa Terakhir Seorang Musafir” (The Last Prayer of an Adventurer) karya Hamid Jabbar, saya bacakan pada 16 Agustus 2009 lalu di acara Malam Renungan 17 Agustus Tingkat RT di GOR Kecamatan Pasar Rebo dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.


17 Agustus

Karya Nurjamsu Nasution

Pada malam 17 Agustus

Pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia

Seorang muda bermimpi

Ia sedang mengerek Merah Putih ke atas

Tapi benderanya tak mau sampai ke ujung tiang

Dan bendera setengah tiang tanda berkabung bukan?

Sedangkan ia hendak merayakan Hari Kemerdekaan

Lalu dalam mimpi itu

Ia mengerek terus bendera itu

Ia mengerek terus Merah Putih itu

Ia mengerek terus

Ia mengerek terus

Sampai ia terbangun dengan rasa frustasi


Doa Terakhir Seorang Musafir

Karya Hamid Jabbar


Amin

Padang, 1975


Saran saya buat pembaca awam yang sedang kebingungan mencari puisi-puisi untuk dibacakan di acara bertema Hari Ulang Tahun Kemerdakaan Republik Indonesia, buku Ketika Kata Ketika Warna ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukannya.

Lantaran sudah agak panjang, saya sudahi sementara dulu tulisan ini. Berikutnya nanti (Bagian 2), akan saya sajikan sekilas tentang judul-judul puisi dan lukisan pada buku yang tengah saya tinjau ini. Disertai nama-nama penyair dan pelukis yang karyanya termaktub di buku itu. Juga beberapa pilihan puisi dan lukisan lainnya.

Berikut empat buah repro lukisan masing-masing berjudul “Semangat 45” karya O.H. Supono, “Di Pasar” karya Anak Agung Gde Sobrat, “Lelaki Tua dan Beban” karya Basoeki Abdullah dan “Suatu Hari Tanpa Hukum” karya S. Sudjojono. Semoga berkenan.


Repro Lukisan Semangat 45 Karya O.H Supono
Repro Lukisan Semangat 45 Karya O.H Supono

Repro Lukisan Di Pasar Karya Anak Agung Gde Sobrat

Repro Lukisan Di Pasar Karya Anak Agung Gde Sobrat

Repro Lukisan Lelaki Tua dan Beban Karya Basoeki Abdullah

Repro Lukisan Lelaki Tua dan Beban Karya Basoeki Abdullah

Repro Lukisan Suatu Hari Tanpa Hukum Karya S. Sudjojono

Repro Lukisan Suatu Hari Tanpa Hukum Karya S. Sudjojono

Bersambung Bagian 2

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Bilik Sastra dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menatap Wajah Sejarah Kemerdekaan Indonesia dalam Puisi dan Lukisan (1)

  1. Ping balik: Menatap Wajah Sejarah Kemerdekaan Indonesia dalam Puisi dan Lukisan (1) | Update Blog Terbaru

  2. Ping balik: Berkah Ramadhan « Dwiki Setiyawan's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s