Pesan-pesan di Dinding Facebooknya Kala Seorang Teman Wafat


Ikon Malaikat (www.luckyicons.com)

Ikon Malaikat (www.luckyicons.com)

Berdiri bulu roma saya tatkala menuliskan komentar di dinding Facebook-nya kala seorang teman, Yanuar Ahmad namanya, Yan panggilan akrabnya, wafat pada 11 Agustus 2009 lalu. Lantaran itu peristiwa pertama yang saya alami selama bergabung di jaringan FB.

Dengan rasa kehilangan saya lepas kepergian sahabat baik itu dengan ungkapan kata di dinding FB-nya, ”Yan, mata berkaca-kaca tika menggoreskan testimoni ini. Pertemuan terakhir di rumah Ahma Zabadi itu, rupanya pertemuan terakhir kita. Permintaan agar foto-foto di rumah Zabadi tersebut dipublikasi sudah aku lakukan beberapa waktu lalu. Menghadaplah saudaraku dengan tenang dihadapan-Nya. Aku ingat kata-kata filosof Schopenhauer, “Mengantuk nyaman, tetapi meninggal lebih nyaman, dan yang lebih nyaman dari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup.” Semoga dirimu nyaman dipangkuan-Nya.”

Sebelum saya menulis ”kata perpisahan” tersebut, sudah ada puluhan komentar serupa. Diantara komentar yang banyak itu akan saya pilih empat pesan perpisahan dari sahabat-sahabatnya berikut ini….

Rekan Narno Supangat menulis, ”Kanda Yanuar…Selamat Jalan… meski tdak sempat aku berucap, ajaran2-mu dalam blog “EDUM” yang selama ini kanda tulis tetap menghias aroma jalan pikiranku…selamat jalan kanda…Alloh selalu membingkai kekasih-Nya dalam dekapan yang Damai dan Sayang…Untuk mbak Hening, Alif, Gendhis Semoga Sabar dan Ikhlas…Amien.”

Selanjutnya, rekan Anna Febry menggoreskan kata-kata terakhirnya, “Selamat jalan Mas…makasih mas sempat mempertemukan aku dengan Dyah di FB, padahal mas sedang terbaring sakit. Sedihku kehilangan seorang kakak…mbak Hening akan mengenangmu sebagai suami yang baik dan penyayang..juga anak-anakmu yang selalu mengidolakan Bapaknya sampai kapan pun. Allah sudah memelukmu, menempatkanmu di tempat terbaik…doa dan airmataku mengantarmu….:).”

Sementara itu, rekan Roy Prawira ikut menyatakan dukanya, “Teman yang baik……kami kehilanganmu…..memang kita semua akan saling kehilangan…..namun tetap saja kepergianmu yang tiba-tiba menghadirkan kepahitan & kehampaan yang dalam…..kami ikhlas melepasmu namun kami tetap kehilangan…….selamat ja…lan teman…..semoga Pemilikmu menerima kembali dirimu dgn penuh kasih sesuai dengan sifat Rahman & Rahim-Nya…amin ya robbal alamin….”

Akhirnya, rekan Syipaul Arifin bersaksi, “Tinggi, besar, gelap, brewokan. Pada pandangan pertama, bisa jadi orang akan menilai dia adalah orang yang brangasan. Tapi setelah ngobrol, yang kelihatan adalah kelembutan hati. Bicaranya juga nggak menggelegar sebagaimana bodimu, walau kadang muncu…l kata ASU yang terpaksa, sebagaimana aku lihat di statusmu. Kepada teman-teman, juga juniormu, kamu sebarkan sayang. Selamat menempuh perjalanan baru, Mas, di Desa Gunung, Simo, Boyolali.”

***

Yang saya bayangkan, andaikata mengalami hal serupa: meninggal dunia. Apakah roh saya yang sudah keluar dari jasad itu dapat membaca pesan-pesan yang ditinggalkan para sahabat-sahabat tercinta? Wallahualam Bi Shawab.

Karena belum pernah mengalami kematian, terus terang saja untuk pertanyaan itu sulit dijawab. Hanya Tuhanlah yang tahu soal tersebut. Kalau seandainya saya bisa membaca pesan-pesan yang ditinggalkan para sahabat itu, berarti pula  roh saya bisa mengoperasikan komputer (menulis email berikut password untuk membuka akun FB)?

Namun demikian, bukan semata-mata itu persoalannya. Bagi kita sebagai salah seorang sahabatnya, menulis pesan di dinding FB itu sebagai sinyal dan bentuk perhatian tulus agar pihak keluarga yang ditinggalkan membaca pesan-pesan yang dituliskan itu. Sebagai bentuk perasaan ikut berduka cita.

Sejatinya pula, apabila dicermati pesan-pesan tersebut hampir 99 % berupa doa. “Saya turut berduka cita.” Lalu ditimpali kalimat berikutnya,  “Semoga arwahnya diterima disisi Tuhan, dan diberikan tempat baginya di surga….” Dan kalimat-kalimat sejenis lainnya.

Ada yang menarik perihal doa-doa yang kita panjatkan tersebut. Saya akan meminjam kata-kata bijak Bung Dadang Kadarusman (klik sini): Doa-doa yang kita panjatkan bagi seseorang yang meninggal sebetulnya bukan sekedar doa. Melainkan juga cita-cita kita. Kita ingin kembali ketempat yang layak di sisi Tuhan kelak. Makanya, aneh juga ya kita ini. Kita berdoa begitu untuk orang yang meninggal. Tapi, kita suka lupa bahwa doa itu hanya akan dikabulkan jika orang yang kita doakan memang orang baik.

Jika dia bukan orang baik; memangnya kita ini sesakti apa sehingga Tuhan mau mendengarkan doa kita? Apalagi jika doa itu kita ucapkan hanya sekedar basa-basi belaka.

Sebaliknya, orang-orang baik yang meninggal. Meskipun kita tidak berdoa kepada Tuhan supaya Dia memberinya tempat paling mulia: dia tetap saja akan mendapatkan tempat mulia itu. Sebab, memang dasarnya dia orang baik. Dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kemuliaan disisin Tuhan. Semoga pula demikian halnya dengan sahabat baik yang telah wafat di atas.

Lantas, bagaimana seandainya yang mati itu bukan orang yang kita doakan; melainkan diri kita sendiri? Apakah doa orang lain akan sanggup merayu Tuhan supaya memberi kita tempat yang layak? Ataukah, perilaku baik kita selama hidup yang menentukan?

Pertanyan-pertanyaan terakhir ini sebagai pekerjaan rumah. Sebagai bahan refleksi. Untuk pembaca renungkan dan dicari sendiri jawabannya….

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pesan-pesan di Dinding Facebooknya Kala Seorang Teman Wafat

  1. Fanda berkata:

    Aku tetap berkeyakinan bahwa doa yang keluar dari niat yang baik akan didengarkan Tuhan, mas Dwiki. Dan kita mesti ingat bahwa tak ada yang mustahil bagi Tuhan, bahkan orang yang seumur hidupnya tidak baik, mungkin saja justru di akhir hayat ia bertobat? Dan mungkin saja Tuhan mengampuninya? Maka, aku rasa seburuk apapun seseorang, kalau kita memang peduli kepadanya, kita harus tetap mendoakan yang terbaik untuknya, dan biarlah Tuhan yang memutuskan sesuai kehendakNya.

    Membaca posting ini, aku juga jadi berpikir. Belum tentu semua orang memiliki keluarga yang mengetahui nama yang kita pakai di situs sosial seperti FB ataupun blog. Kalau tak ada yang tahu, mungkin tak ada yang membaca juga pesan teman-teman si almarhum itu ya?

    Tapi paling tidak dengan adanya situs sosial itu, jejak langkah seseorang akan terukir selamanya. Siapapun yang membacanya akan tahu bahwa orang itu pernah hidup di dunia, dan selama hidup yang singkat itu pernah memberikan perbedaan pada hidup orang-orang di sekitarnya.

    Dengan memiliki dan mengelola blog, aku yakin hidupku tak pernah sia-sia di dunia ini.

    Terakhir, aku turut berduka cita atas kematian sahabat mas Dwiki. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya, dan arwahnya boleh tenang di sisiNya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s